Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Karaktersistik Siswa SD Dalam Belajar Matematika

Guru dalam rnerencanakan dan melaksanakan pembelajaran terlebih dahulu harus memahami karakteristik siswa, karena siswa merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan pebelajaran. Menurut Hudajo (2001 : 107), "Belajar akan efektif dan efisien, bila kesiapan mental siswa diperhitungkan".

Menurut Piaget anak usia sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret. Seperti tahap proses belajar Bruner yang terdiri dari tiga tahap yaitu :

1. Tahap Enaktif
Pada tahap ini siswa secara langsung terlibat dalam memanipulasi (mengotak-atik) objek.

2. Tahap Ikonik
Pada tahap ini siswa melakukan kegiatan yang berhubungan dengan mental yang merupakan gambar dari objek-objek yang dimanipulasinya.

3. Tahap Simbolik
Pada tahap ini siswa memanipulasi symbol-simbol atau lambing-lambang objek tertentu.

Sedangkan Van Hiele menguraikan tahap-tahap perkembangan mental khusus dalam bidang geometri yaitu yang terdiri dari lima tahap diantaranya :

1. Tahap Penganalan (Visualisasi)
Pada tahap ini siswa mulai belajar mengenal suatu bentuk geometri secara keseluruhan, namun belum mampu mengetahui adanya sifat-sifat dari bentuk geometri yang dilihatnya.

2. Tahap Analisis
Pada tahap ini siswa mulai mengenal sifat-sifatyang dimiliki benda geometri yang diamati. Ia sudah mampu menyebutkan keteraturan yang terdapat pada benda geometri itu.

3. Tahap Pengurutan (Deduksi Informal)
Pada tahap ini siswa mulai mampu melaksanakan penarikan kesimpulan, yang kita kenal dengan sebutan berpikir deduktif. Namun kemampuan ini belum berkembang secara penuh.

4. Tahap Deduksi
Pada tahap ini siswa sudah mampu menarik kesimpulan secara deduktif, yakni penarikan kesimpulan dari hal-hal yang bersifat umum menuju hal-hal yang khusus. Ia juga telah mengerti betapa pentingnya peranan unsur-unsur yang tidak didefinisikan di samping unsure-unsur yang didefinisikan.

5. Tahap Akurasi
Pada tahap ini siswqa sudah mulai menyadari betapa pentingnya ketepatan dari prinsip-prinsip dasar yang melandasi suatu pembuktian. Tahap ini merupakan tahap berpikir yang tinggi, rumit da kompleks.

Belajar menurut Fontana (Suherman, dkk, 2001 8) adalah "proses perubahan tingkah laku individu yang telatif tetap sebagai hasil dari pengalaman". Pembelajaran menurut Suherman, dkk (2001 8) adalah "upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal". Sedangkan pengertian matematika menurut kurikulum Berbasis Kompetensi, yaitu :

Matematika merupakan bahan kajian yang memiliki konsep abstrak dan dibangun melalui proses penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sudah diterima sehingga keterkaitan antara konsep dalam matematika sangat kuat dan jelas.

Beberapa pengertian di atas dapat dijadikan dasar bahwa belajar matematika siswa perlu memiliki pengalaman belajar melalui proses penalaran dengan menggunakan metode pembelajaran yang ada. Sejalan dengan tujuan pembelajaran matematika yaitu agar siswa memiliki pengalaman belajar secara langsung tentang studi aritmatika, geometri, aljabar dan trigonometri. Kemampuan studi itu diperlukan dalam menyelesaikan persoalan yang ada dikehidupan sehari-hari.
More aboutKaraktersistik Siswa SD Dalam Belajar Matematika

Mata Pelajaran Baru Kurikulum 2013 Prakarya dan Kewirausahaan

Mata Pelajaran Baru Kurikulum 2013 Prakarya dan Kewirausahaan
Bagi anda yang membutuhkan informasi tentang mapel baru di kurikulum 2013 yang akan diberlakukan ada sebuah mata pelajaran kurikulum 2013 yang bernama Prakarya dan Kewirausahaan. Mata Pelajaran baru kurikulum 2013 ini adalah sebuah pelajaran di Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMA), di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan termasuk di Madrasah Aliyah (MA) yang tergolong pada pelajaran inti termasuk kategori pengetahuan.
Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di kurikulum sebelumnya ada kini diintegrasikan ke semua mata pelajaran. Untuk guru pemegang TIK tidak perlu khawatir tidak mengajar ada peralihan yang mungkin dapat ditawarkan, tentunya dengan pertimbangan kemampuan dan komptensi guru yang bersangkutan. Tetapi siapapun orang yang bersungguh-sungguh mau belajar, tidak mustahil akan bisa menguasai dan mempelajarinya dengan baik.
Bagi para guru calon pemegang pelajaran Prakarya dan kewirausahaan di semua jenjang, wajib mengetahui terlebih dahulu pengantar komptensi inti dan kompetensi dasar yang merupakan standar komptensi untuk mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan.
Di bawah ini adalah uraian mengenai silabus pengantar komptensi inti dan komptensi dasar mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan. Bagi Kepala Sekolah, Wakasek Bidang Kurikulum dan termasuk para calon pemegang mata pelajaran inti kiranya penting membaca uraian di bawah ini.

PENGANTAR
Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar
Mata Pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan
Untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) / Madrasah Aliyah (MA)

Pengertian
Mata Pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan dapat digolongkan ke dalam pengetahuan ­transcience-knowledge, yaitu mengembangkan pengetahuan dan melatih keterampilan kecakapan hidup berbasis seni dan teknologi berbasis ekonomis. Pembelajaran ini berawal dengan melatih kemampuan ekspresi-kreatif untuk menuangkan ide dan gagasan agar menyenangkan orang lain, dan dirasionalisasikan secara teknologis sehingga keterampilan tersebut bermuara apresiasi teknologi terbarukan, hasil ergonomis dan aplikatif dalam memanfaatkan lingkungan sekitar dengan memperhatikan dampak ekosistem, manajemen dan ekonomis.

Rasional
Dalam kehidupan dan berkehidupan, manusia membutuhkan keterampilan tangan untuk memenuhi standar minimal dan kehidupan sehari-hari sebagai kecakapan hidup. Keterampilan harus menghasilkan karya yang menyenangkan bagi dirinya maupun orang lain serta mempunyai nilai kemanfaatan yang sesungguhnya, untuk itu pelatihan berkarya dengan menyenagkan harus dimulai dengan memahami estetika (keindahan) sebagai dasar penciptaan karya selanjutnya. Dalam rangkaian menemukan karya yang bermanfaat dilatihkan mencipta, memproduksi dan memelihara yang ada kemudian memperoleh nilai kebaruan (novelty) sehingga bermanfaat untuk kehidupan selanujutnya.

Prinsip mencipta, yaitu memproduksi dan mereproduksi diharapkan meningkatkan nilai sensibilitas terhadap kemajuan jaman sekaligus mengapresiasi teknologi kearifan lokal yang telah mampun mengantarkan manusia Iondonesia mengalami kejayaan pada masa lalu. Oleh karenanya, pembelajaran Prakarya di tingkat sekolah lanjutan pertama didahului dengan wawsan keteknologian hasil kearfian lokal menuju teknologi terbarukan. Pelatihan dimulai dengan memahami fakta, prosedur, konsep maupun dalil yang ada melalui studi perorangan, kelompok maupun projektif agar memberi dampak kepada pendidikan karakter yang berupa kecerdasan kolektif. Hasil pembelajaran melalui eksplorasi alami maupun artifisial ini akan memanfaatkan sebagai media sekaligus bahan pelajaran, sehingga berdasarkan nilai ekosistem dan keberlajutan materialnya.

Tujuan
Tujuan pembelajaran Praklarya dan Kewirausahaan tergambarkan pula dalam skema di Arah sebagai berikut:

Arah pembelajaran Prakarya dan Kewirausahaan
  1. Dilaksanakan sebagai pendidikan formal namun mengharapkan tujuan akhir mempunyai keterampilan ekonomis.
  2. bertujuan sebagai pendidikan formal menghasilkan kualitas manusia yang mempunyai wawasan penciptaan berbasis pasar. 
 

Tujuan formal pendidikan Prakarya dan Kewirausahaan
Secara keseluruhan tujuan Prakarya dan Kewirausahaan dapat diuraikan sebagai berikut:
Memfasilitasi peserta didik mampu berekspresi kreatif melalui keterampilan teknik berkarya ergonomis, teknologi dan ekonomis.
Melatih keterampilan mencipta karya berbasis estetis, artistik, ekosistem dan teknologis
Melatih memanfaatkan media dan bahan berkarya seni dan teknologi melalui prinsip ergonomis, hygienis, tepat-cekat-cepat, ekosistemik dan metakognitif.
Menghasilkan karya jadi maupun apresiatif yang siap dimanfaatkan dalam kehidupan, maupun berisfat wawasan dan landasan pengembangan apropriatif terhadap teknologi terbarukan dan teknologi kearifan lokal.
Menumbuhkembangkan jiwa wirausaha melalui melatih dan mengelola penciptaan karya (produksi), mengemas, dan usaha menjual berdasarkan prinsip ekonomis, ekosistemik dan ergonomis

Ruang lingkup materi
Lingkup materi pelajaran Prakarya di SMA sederajat disesuaikan dengan potensi sekolah, daerah setempat, karena sifat mata pelajaran ini menyesuaikan dengan kondisi dan potensi yang ada di daerah tersebut. Penyesuaian ini berangkat dari pemikiran ekonomis, budaya dan sosiologis. Ekonomis, karena pada tingkat usia remaja sudah harus dibekali dengan prinsip kewirausahaan agar tidak tertinggalkan konsep kemandirian pasca sekolah. Budaya, karena prakarya sebenarnya adalah pengembangan materi kearifan lokal yang telah dapat diidentifikasi dalam sejarah arkeologis mampu mengangkat nama Indonesia ke dunia internasional. Sosio0logis, karena teknologi tradisi ternyata mempunyai nilai-nilai kecerdasan kolektif bangsa Indonesia. Oleh karenanya bisa merupakan pilihan alternatif, dengan minimal 2 materi atau bahan ajar yang disediakan. Namun demikian sedapat mungkin dilanksanakan berdasarkan kebutuhan utama daerah tersebut, agar membekali secara keteknikan maupun wawasan ide yang berasal dari teknologi kearifan lokal.
Dasar teknologi dan estetika lokal ini mempnyai nilai etnik dan niklai keterjualan, oleh karenanya dikembangkan berdasarkan sistem teknologi terbarukan sehingga memperoleh efektivitas dan efisiensi.

3. Kerajinan Tangan
Kerajinan tangan dikaitkan dengan nilai pendidikan diujudkan dalam prosedur pembuatan.
Prosedur memproduksi dilalui dengan berbagai tahapan dan beberapa langkah yang dilakukan oleh beberapa orang. Kinerja ini menumbuhkan wawasan, toleransi sosial serta social corporateness memulai pemahaman karya orang lain. Pembuat pola menggambarkan di atas dikerjakan oleh perancang gambar dilanjutkan dengan pewarnaan sesuai dengan warna lokal (kearifan lokal) merupakan proses berangkai dan membutuhkan kesabaran dan ketelitian serta penuh toleransi. Jika salah seorang membuat kesalahan maka hasil akhir tidak akan seperti yang diharapkan oleh pembuat pola dan motif hiasnya. Prosesdur semacam ini memberikan nilai edukatif jika dilaksanakan di sekolah.
Kerajinan tangan yang diproduksi maupun direproduksi dikemasulang dengan sistem teknologi dan ekosistem agar efektif dan efisien berdasarkan potensi lingkungan yang ada.

4. Rekayasa
Rekayasa yang diartikan usaha memecahkan permasalahan kehidupan sehari-hari dengan berpikir rasional dan kritis sehingga menemukan kerangka kerja yang efektif dan efisien. Pengertian teknologi erat sekali dengan pembelajaran mandiri, seperti menggoreng daging dengan lemaknya sendiri. Oleh karenanya, konsep teknologi untuk mengembangkan diri dengan kemampuan yang diperoleh dari belajar tersebut. Kata ‘rekayasa’ merupakan terjemahan bebas dari kata engineering yaitu perancangan dan rekonstruksi benda atau pun produk untuk memungkinkan penemuan produk baru yang lebih berperan dan kegunaan.
Prinsip rekayasa adalah mendaurulang sistem, bahan serta ide yang disesuaikan dengan perkembangan jaman (teknologi) terbarukan. Oleh karenanya rekayasa harus seimbang dan selaras dengan kondisi dan potensi daerah setempat menuju karya yang mempunyai nilai keterjualan yang tinggi.

5. Budidaya
Budidaya berpangkal pada cultivation, yaitu suatu kerja yang berusaha untuk menambah, menumbuhkan, dan mewujudkan benda ataupun makhluk agar lebih besar (tumbuh), dan berkembang (banyak). Kinerja ini membutuhkan perasaan seolah dirinya (pembudidaya) hidup, tumbuh dan berkembang. Prinsip pembinaan rasa dalam kinerja budidaya ini akan memberikan hidup pada tumbuhan atau hewan, namun dalam bekerja dibutuhkan system yang berjalan rutinitas, seperti kebiasaan hidup orang: makan, minum dan bergerak. Maka seorang pembudidaya harus memahami kartakter tumbuhan atau hewan yang di’budidaya’kan. Konsep cultivation tampak pada penyatuan diri dengan alam dan pemahaman tumbuhan atau binatang. Pemikiran echosystem menjadi langkah yang selalu dipikirkan keseimbangan hidupnya.
Manfaat edukatif budidaya ini adalah pembinaan perasaan, pembinaan kemampuan memahami pertumbuhan dan menyatukan dengan alam (echosystem) menjadi anak dan tenaga kerja yang berpikir sistematis namun manusiawi dan kesabaran. Hasil budidaya tidak akan dapat dipetik dalam waktu singkat melainkan membutuhkan waktu dan harus diawasi dengan penuh kesabaran. Bahan dan perlengkapan teknologi budidaya sebenarnya dapat diangkat dari kehidupan sehari-hari yang variatif, karena masing-masing daerah mempunyai potensi kearifan yang berbeda.
Budidaya telah dilakukan oleh pendahulu bangsa ini dengan teknologi tradisi, namun telah menunjukkan konsep budidaya yang memperhitungkan musim, namun belum mempunyai standar ketepatan dengan suasana/iklim cuaca maupun ekonomi yang sedang berkembamng, maka pembelajaran prakarya-budidaya diharapkan mampu menemukan ide pengembangan berbasis bahan tradisi dengan memperhitungkan kebelanjutan materi atau bahan tersebut.

6. Pengolahan
Pengolahan artinya membuat, menciptakan bahan dasar menjadi benda produk jadi agar dapat dimanfaatkan secara maslahat. Pada prinsipnya kerja pengolahan adalah mengubah benda mentah menjadi produk matang dengan mencampur, memodifikasi bahan tersebut. Oleh karenanya kerja pengolahan menggunakan desain system, yaitu mengubah masukan menjadi keluaran sesuai dengan rancangan yang dibuat. Sebagai contoh: membuat makanan atau memasak makanan; kinerja ini membutuhkan desain secara tepat akan tetapi juga membutuhkan perasaan terutama rasa lidah dan bau-bauan agar sedap. Kerja ini akan melatih rasa, dan kesabaran maupun berpikirapraktis serta tepat. Kognisi untuk menghafalkan rasa bumbu, serta racikan yang akan membutuhkan ketelitian dan kesabaran.
Manfaat pendidikan teknologi pengolahan bagi pengembangan kepribadian peserta didik adalah: pelatihan rasa yang dapat dikorelasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pengolahan telah dilakukan oleh pendahulu bangsa kita dengan teknologi tradisi yang sederhana, namun telah menunjukkan konsep pengolahan yang aplikabel namun belum mempunyai standar ketepatan dengan suasana/iklim cuaca maupun ekonomi yang sedang berkembamng, maka pembelajaran prakarya-budidaya diharapkan mampu menemukan ide pengembangan berbasis bahan tradisi dengan memperhitungkan kebelanjutan materi atau bahan tersebut.

Prinsip-prinsip Belajar, Pembelajaran dan Asesmen
Prinsip Prakarya dan Kewirausahaan adalah karya yang mempunyai nilai keterjualan oleh karenanya karya tersebut harus memenuhi standar pasar, yaitu: menyenangkan pembeli, nilai kemanfaatan, kreatif serta bertanggungjawab terhadap ciptaannya berdasarkan logika matematis maupun pengetahuan estetis. Secara garis besar dapat dilakukan melalui:
  • Mengamati lingkungan sekitar baik fisik maupun pasar yang menjadi bahan eksplorasi, ekspreimentasi dan eksperiensi, melalui kegiatan melihat, membaca, mendengar, mencermatinya, meneliti berbagai objek alami maupun artifisial dengan metoda dan strategi kunjungan lapangan, kajian pustaka, dan benda artifisial berteknologi tradisional maupun modern dan mencipta karya visual;
  • Mendorong keingintahuan pesertadidik setelah melakukan pengamatan berbagai gejala alami, artifisial maupun sosial dengan merumuskan pertanyaan berdasarkan kaitan, pengaruh dan kecenderungannya;
  • Mengumpulkan data dan menciptakan karya dengan merumuskan daftar pertanyaan berdasarkan hasil identifikasi, menentukan indikator keterjualan, kelayakan penampilan (estetik-ergonomis) dengan melakukan wawancara dan atau mengeksplorasi alam dan gejala preferensi pasar (marketable) sebagai inspriasi menciptakan karya;
  • Melakukan analisis dan merekonstruksi hasil ciptaannya berupa fakta, konsep, prosedur dan dalil baik yang bersifat tradisional berbasis kearifan lokal, maupun modern, dan produktif dan reproduktif yang bermanfaat bagi kehidupan dan berkehidupan.
  • Menampilkan kembali hasil ciptaannya secara oral dan karya secara protofolio berdasarkan hasil olahan secara pribadi, kelompok maupun projektif sehingga mempunyai nilai keterjualan serta mempunyai wawasan pasar yang sesuai dengan lingkungan daerah maupun nasional.
  • Merekonstruksi karya Prakarya secara teknologi, seni dan ekonomis (efisiensi dan efektivitas) yang dapat dimanfaatkan untuk mengapresiasi karya teknologi terbarukan dan keterjualan.
Penilaian karya Prakarya dan Kewirausahaan melalui: produk dan proses, menggunakan tes yang disiapkan berdasarkan standar penciptaan atau indikator lapangan (criterion refference test) maupun nontes melalui asesmen proses (norm refference test) sebagai authentic-asessment

1. Tujuan Penilaian
Tujuan penilaian adalah untuk mengetahui tingkat wawsan serta produksi dan kreasi Prakarya dan Kewirausahaan bagi peserta didik telah menguasai kompetensi dasar tertentu sesuai dengan Kompetensi Dasar berdasarkan indikator ketercapaian. Selain itu, penilaian juga bertujuan:
  • mengetahui tingkat pencapaian hasil belajar peserta didik;
  • mengukur perkembangan kompetensi peserta didik; mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik;
  • mengetahui hasil pembelajaran; mengetahui pencapaian kurikulum;
  • mendorong peserta didik belajar dan mengembangkan diri;
  • sebagai umpan balik bagi guru untuk memperbaiki proses pembelajaran
2. Bentuk Instrumen Penilaian (Mengacu standar penilaian)
Pembelajaran Prakarya dan Kewirausahaan ini dapat memanfaatkan berbagai bentuk instrumen penilaian yang disesuaikan dengan metode, strategi pembelajaran dan ketercapaian kompetensi yang didasarkan pada indikator yang telah ditentukan sebelumnya.

Bentuk instrumen tersebut dapat berupa:
  • Pertanyaan lisan, yang berfungsi sebagai penilaian formatif selama pembelajaran berlangsung
  • Pertanyaan tertulis, dapat berbentuk:
  1. Pilihan Ganda, digunakan untuk mengetahui penguasaan kompetensi pada tingkat pengetahuan, pemahaman dan dapat lebih dikembangkan pada tingkat aplikasi (terapan) dan evaluasi.
  2. Uraian Objektif, digunakan untuk mengetahui perolehan kesimpulan, tafsiran dari peserta didik. Untuk itu, pendekatan pembelajaran harus bermakna.
  3. Uraian bebas, digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik pada ranah kognitif terkait dengan pengembangan prakarya berbasis kewirausahaan.
  4. Portofolio, merupakan kumpulan hasil karya, tugas, pekerjaan siswa disusun berdasarkan urutan kategori kegiatan: berkarya atau dan tugas yang memberi gambaran perkembangan kompetensi pesertadidik, sekaligus dipakai sebagai bahan penilaian proses.
  5. Unjuk kerja (UK) digunakan untuk mengetahui tingkat kompetensi peserta didik dalam praktik. Penilaian UK berhubungan dengan sikap, etika dan estetika sebagai dampak proses pembelajaran keterampilan Prakarya dan Kewirausahaan. Sebagai kelengkapan pengembangan penilaian otentik dapat melihat skema di atas.

Bentuk instrumen nontes tersebut dapat berupa:
  1. Pengamatan langsung ketika pesertadidik berkarya, dengan mencata perilaku berdasarkan minat, keingintahuan, serta kemampuan memecahkan masalah secara pribadi maupun kelompok.
  2. Pencatatan kemajuan kinerja pesertadidik melalui kemampuan mengatasi maslaah, serta memfinishing karya yang dapat disajikan secara terbuka, tertulis, maupun bentuk benda.
  3. Unsur yang dinilai: estetik, ergonomis, kreatif, hygienis, ketepatan, kecepatan dan kecakapan berdasarkan jenis dan materi pelajarannya.
More aboutMata Pelajaran Baru Kurikulum 2013 Prakarya dan Kewirausahaan

Tips Cara Belajar dan Menghafal Yang Baik

Pembaca Arena Sahabat, postingan kali ini akan membahas tentang bagaimana cara menghafal dan belajar yang baik, efektif dan juga menyenangkan.

Sudah seharusnya bagi kita sebagai manusia yang selalu ingin ada perubahan dalam kehidupan merubah dan terus meningkatkan gairah belajar kita. Belajar merupakan satu-satunya cara menuju sampainya kepada cita-cita yang kita harapkan.

Seorang pelajar dan pembelajar sejati memiliki jiwa dan mental yang giat dan selalu tekun dalam belajar. Selanjutnya bagaimana cara dan tips belajar yang baik efektif dan juga tepat untuk seorang pembelajar sejati?. Dan apa saja yang harus dilakukan agar hasil ideal belajar kita bisa optimal?.

Simak artikel berikut bagaimana tips cara belajar dan menghafal :

Belajarlah Secara Kelompok
Untuk menghindari rasa bosan dalam belajar lakukanlah belajar secara kelompok bareng teman. Belajar kelompok salah satu cara belajar yang baik dan efektif. Dengan belajar kelompok kegiatan belajar akan menjadi sangat menyenangkan karena ada temannya. Belajar secara kelompok sebaiknya mengajak teman yang pandai dan rajin belajar agar bisa termotivasi dan ketularan pintar. Tetapi ada juga waktu yang harus disediakan untuk belajar secara sendirian di tempat yang sepi, dan belajar secara berkelompok ini dilakukan pada saat-saat tertentu saja.

Biasakan Menulis Intisari dari Buku atau Pelajaran yang didapat
Ketika mendapatkan pelajaran di manapun berada coba anda salin pada book note yang selalu anda bawa ke mana saja. Ketika membaca sebuah buku, selalu ada bagian-bagian yang penting. Nah bagian yang penting ini sebaiknya dibuat catatan di buku tersendiri. Bagi anda seorang pelajar cara belajar yang baik dengan merangkum bahan atau materi pelajaran juga sangat berguna saat menghadapi ujian.

Biasakanlah Disiplin Dan Juga Tekun
Kunci ini (Disiplin dan Tekun) adalah sikap orang sukses. Sukses dalam belajar harus bisa merubah kualitas belajar agar lebih baik. Walaupun hanya 1-2 jam sehari tapi kalau di lakukan setiap hari pasti akan lebih baik dari pada belajar dalam waktu yang sangat lama pada waktu tertentu saja. Misalnya hanya belajar kalau ada ulangan atau ujian saja.

Biasakanlah Bertanya Kalau Belum Paham
Pertanyaan muncul ketika merespon pelajaran dan dianggap itu adalah menarik. Awalnya muncul dari otak bertanya-tanya kepada diri kita sendiri dan selanjutnya ditanyakan kepada orang yang dekat dengan kita.
Sebagai seorang pembelajar saat guru selesai membahas satu mata pelajaran biasanya bertanya pada murid muridnya. Apakah sudah jelas? Saat itu jangan ragu dan takut untuk bertanya kalau memang kurang paham atau kurang mengerti.

Hindarilah Sikap dan Sifat Tidak Jujur
Siapa pun orangnya tidak menyukai sikap dan sifat tidak jujur. Sekarang ini banyak siswa membuat catatan untuk mencontek saat ada ulangan atau ujian. Dengan belajar dengan jadwal yang teratur seorang murid akan selalu siap jika ada ulangan dadakan dan tidak perlu mencontek. Bagaimana dengan tips cara belajar yang baik diatas mungkin masih belum bisa meningkatkan hasil belajar anda?

Ciptakan dan Buat Suasana Belajar yang Kondusif
Ruang dan tempat belajar juga sarana penunjang lain sangat menentukan kualitas dalam belajar seseorang. Seorang pembelajar harus bisa menciptakan suasana yang kondusif, nyaman dan tenang untuk belajar. Cara ini merupakan salah satu cara belajar yang baik karena bagaimanapun jika ingin materi yang kamu pelajari itu bener-bener masuk ke otakmu, kamu harus tenang dan dalam keadaan yang nyaman. Sehingga nggak mengganggu konsentrasi. Belajar di luar ruangan mungkin adalah pilihan yang cukup baik, karena selain lebih fresh, kita juga bisa lebih tenang dan nggak penat dalam belajar.

Perhatikan Inti Materi dan garis besarnya
Jika mulai mempelajari sesuatu dan atau membaca pelajaran yang dianggap baru, tidak harus langsung menceburkan diri kedalamnya. Kamu bisa lebih meningkatkan pemahaman bila melihat sepintas garis besarnya. Ketika membaca sebuah buku perhatikan dan lihat-lihatlah terlebih dahulu semua subjudul, keterangan gambar dan ringkasan yang ada. Jika membaca bacaan yang cukup panjang, maka bacalah dahulu kalimat pertama dari setiap paragrafnya.

Buatlah Ringkasan Materi Pelajaran
Tips cara belajar dengan teknik meringkas intisari dari pelajaran. Kalau kamu meringkas materi dari setiap bahan pelajaran ke dalam sebuah catatan kecil, maka akan sangat membantumu mengingat bahan pelajaran itu. Pada saat kamu menulisnya, kamu pasti membaca materinya lagi, bener kan? Itu akan membuatmu cepat hafal materinya. Sebaiknya catatan itu ditulis kedalam buku kecil atau kertas yang bisa dibawa kemana-mana, sehingga bisa dibaca kapan dan dimanapun kamu berada. Tips Cara belajar yang baik bukan?

Latihlah Teknik Kemampuan Mengingat
Otak mempunyai daya tampung yang luar biasa untuk menyimpan apapun materi pelajaran atau pembelajaran. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengingat, diantaranya mengingat dengan cara mengingat materi hafalan dengan cara mengubah menjadi sebuah singkatan atau kata kunci (Mnemonics) dengan formulasi yang mudah diingat-ingat. Seperti MeJiKuHiBiNiU untuk singkatan-singkatan dari warna pelangi, yaitu Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila dan Ungu. Walaupun kamu jika menghafal langsung dalam 1 minggu sudah lupa, dengan menggunakan mnemonics seperti ini kamu bisa ingat sampai puluhan tahun lamanya.

Biasakanlah Belajar dengan Tekun dan Rutin.
Tekun dan rutin adalah sikap yang harus dibiasakan dalam belajar. Belajar tepat waktu dan serius juga sangat berpengaruh dalam peningkatan prestasi belajar, apabila kamu jarang belajar maupun hanya belajar jika akan ada ulangan pasti prestasinya gak akan maksimal. Jadi belajarlah dengan tekun dan rutin selagi ada waktu untuk belajar. Juga jangan belajar dengan tergesa-gesa pada hari terakhir sebelum ulangan, cara belajar yang baik seperti itu hasilnya juga nggak akan maksimal.

Demikian tips cara belajar dan menghafal yang baik, pastinya bagi yang melakukan tips dan cara di atas prestasi belajar akan meningkat dan kehidupan di masa datang akan berubah ke arah yang lebih baik. Semoga kita mendapat bimbingan dan arahan Allah SWT, aminn..
Terima kasih telah berkunjung dan berkenan membaca artikel ini.
More aboutTips Cara Belajar dan Menghafal Yang Baik

Faktor-Faktor dan Indikator Prestasi Belajar

Dalam prosesnya, belajar ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat mempercepat atau mempelambat (sukses atau gagal). Faktor-faktor tersebut sebagaimana yang diutarakan oleh Ngalim Purwanto (tt: 102), adalah sebagai berikut:
  1. Faktor yang ada pada diri organisme sendiri sebagai faktor individual, seperti faktor kematangan atau pertumbuhan, kecerdasan, latihan, motivasi, dan faktor pribadi.
  2. Faktor yang ada di luar individu atau faktor sosial, seperti faktor keluarga, atau keadaan rumah tangga, guru dan cara mengajarnya, alat-alat yang digunakan dalam proses belajar mengajar, lingkungan dan kesempatan yang tersedia dan motivasi sosial.
Hal senada dikemukakan juga oleh Muhibbin (2001: 92), dengan istilah yang sedikit berbeda tapi pada intinya sama. Mereka mengklasifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dengan tiga faktor.

Secara global, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat kita bedakan menjadi tiga macam:
  1. Faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan atau kondisi jasmani dan rohani siswa, seperti aspek psikologis (aspek jasmani), aspek psikologis (aspek yang bersifat rohani).
  2. Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa, seperti faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan non sosial.
  3. Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.
Adapun indikator prestasi belajar menurut Abin Syamsudin Makmun (2000: 26), dengan mengutip pendapat Benyamin Bloom, indikator prestasi belajar mencakup tiga ranah, yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor. Ranah kognitif seperti pengamatan, indikatornya adalah dapat menunjukkan, membandingkan dan menghubungkan, ingatan indikatornya adalah dapat menyebutkan dan menunjukkan, pemahaman indikatornya adalah dapat menjelaskan dan mendefinisikan. Penerapan indikatornya adalah dapat memberikan contoh dan dapat menggunakan secara tepat. Analisis indikatornya adalah dapat menguraikan dan dapat mengklasifikasikan atau memilah-milah. Sintesis indikatornya dapat menghubungkan, dapat menyimpulkan dan dapat menggeneralisasikan (membuat prinsip umum).

Ranah rasa (afektif) seperti penerimaan indikatornya adalah menunjukkan sikap menerima dan menunjukkan sikap menolak. Sambutan indikatornya adalah kesediaan partisipasi atau terlibat dan kesediaan memanfaatkan. Apresiasi indikatornya adalah menganggap penting dan bermanfaat, menganggap indah dan harmonis, dan mengagumi. Internalisasi indikatornya adalah mengetahui dan meyakini dan mengingkari. Karakterisasi indikatornya adalah melembagakan atau meniadakan dan menjelmakan dalam pribadi dan perilaku sehari-hari.

Ranah karsa (psikomotor) seperti keterampilan bergerak dan bertindak indikatornya adalah mengkoordinasikan gerak mata, tangan, kaki dan anggota badan lainnya. Kecakapan ekspresi verbal dan non verbal indikatornya mengucapkan, membuat mimik dan gerakan jasmani.
More aboutFaktor-Faktor dan Indikator Prestasi Belajar

Teori Tentang Prestasi Belajar Siswa

Teori Tentang Prestasi Belajar Siswa- Istilah prestasi belajar dapat didefinisikan secara sederhana seperti dikemukakan oleh Woodworth (dalam Sumadi Suryabrata, 1993: 169), dengan actual ability yang dapat diukur dengan alat atau tes tertentu.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, hal. 700), dikatakan prestasi adalah hasil yang dicapai, karena perbuatan, tindakan atau kepandaiannya sehingga dapat dibedakan antara kemampuan seseorang dengan orang lain atau hasil yang dicapai dari yang telah dilakukan.

Sedangkan istilah belajar, para pakar mendefinisikan beragam tetapi pada intinya banyak mempunyai kesamaan. Chaplin dalam bukunya "Dictionary of Psychology" sebagaimana yang dikutip oleh Muhibbin Syah (2001: 90), membatasi belajar dengan dua macam rumusan. Rumusan pertama berbunyi: belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relative menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman. Rumusan keduanya belajar ialah proses memperoleh respon-respon sebagai akibat adanya latihan khusus.

Hintzman (Muhibbin Syah, 2001: 90), berpendapat bahwa belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme (manusia dan hewan) disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut.

Sementara itu Gagne (Ngalim Purwanto, hal. 83), menyatakan bahwa belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa, sehingga perbuatannya (performance) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi.

Proses belajar mengajar pada dasarnya diarahkan agar terjadi perubahan pada siswa, baik dalam pengetahuan, keterampilan maupun pada sikapnya. Hamalik (2001: 159), mengatakan bahwa hasil belajar menunjukkan pada prestasi belajar sedangkan prestasi belajar merupakan indikator adanya derajat perubahan tingkah laku siswa.

Abin Syamsudin (2000: 185), menyatakan hasil belajar atau prestasi belajar adalah kecakapan yang segera dapat didemonstrasikan dan diuji karena merupakan hasil usaha belajar yang bersangkutan dengan cara, bahan dan dalam hal tertentu yang dijalaninya. Nana Sudjana (1995: 124), memberikan pengertian prestasi belajar atau hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa sesudah ia menerima pengalaman belajar.
More aboutTeori Tentang Prestasi Belajar Siswa

Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelegent) dan Peranan Sekolah

Seorang psikolog bernama Howard Gardner pada tahun 1983 memelopori kemunculuan teori kecerdasan majemuk (Multiple Intellegences). Gardner memandang kecerdasan tidak semata-mata berdasarkan skor tertentu yang telah memiliki nilai standar, melainkan berdasarkan ukuran kemampuan yang dikuasai oleh individu pendekatan ini mencoba memahami bagaimana pikiran individu dalam menjalankan kehidupan.

Intellegensi majemuk memandang kecerdasan manusia berdasarkan penguasaan kemampuan yang dimilikinya tidak semata-mata berdasarkan suatu nilai yang telah distandarisasi juga kecerdasan tidak berdasarkan kemampuan logika atau bahasa saja namun memiliki kecerdasan-kecerdasan yang lain yang selama ini tidak menjadi perhatian.

Peranan sekolah memberikan kesempatan kepada anak untuk menembangkan aspek kecerdasan majemuk seperti kecerdasan visual spasial musikal kinestetik, naturalistik, intra personal dan antar personal dan tantangan bagi guru / pendidik adalah menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif untuk mengembangkan model pembelajaran yang sesuai dengan kadar kecerdasan majemuk yang dimiliki oleh setiap anak.

Kecerdasan Majemuk dan peranan sekolah dalam membuat suatu strategi dalam belajar menurut Gardner kecerdasan terbagi jadi:

1) Kecerdasan Linguistik (word smart)
Kecerdasan dalam mengolah kata-kata atau kemampuan menggunakan kata atau kemampuan menggunakan kata secara efektif baik secara lisan / tertulis / tertulis kecerdasan ini memiliki 4 keterampilan yaitu: menyimak, mendengar, menulis, membaca:
a) Tujuan mengembangkan kecerdasan linguistik
- Agar anak mampu berkomunikasi
- Memiliki kemampuan
- Mampu mengingat dan menghafal
- Mampu memberikan penjelasan
- Mampu membahas bahasanya sendiri
b) Materi program kurikulum yang dapat mengembangkan kecerdasan linguistik adalah abjad ejaan membaca menulis, menyimak dan berbicara dan lain-lain.
v Peran sekolah dalam mengembangkan kecerdasan linguistik adalah:
- Mengajarkan berbicara yang baik pada anak
- Membacakan cerita
- Mengajarkan bermain huruf
- Mengajarkan merangkai cerita
- Mengajarkan berdiskusi
- Mengajarkan bermain peran
- Mendengarkan lagu anak-anak

2) Kecerdasan Logika Matematika (logic smart)

Kecerdasan logis matimatis adalah kecerdasan dalam hal dan logika juga juga melibatkan keterampilan mengolah angka / kemahiran menggunakan logika / akal sehat.
v Peran sekolah dalam mengembangkan kecerdasan logika matematika yaitu:
- Mengajarkan cara bermain suatu permainan seperti puzzle, ular tetangga dan lain-lain
- Mengenakan bentuk geometri
- Mengenakan bilangan melalui sajak berirama dan lagu.
- Mengajarkan cara berdiskusi
- Mengajarkan pengenalan pola permainan
- Mengajarkan bereksperimen di alam
- Memperkaya pengalaman berinteraksi dengan konsep matematika.

3) Kecerdasan Fisik (body smart)
Kecerdasan fisik adalah suatu kecerdasan dimana saat menggunakannya kita mampu melakukan gerakan-gerakan yang bagus, berlari, menari semua seni dan hasta karya.
v Peran sekolah dalam menstimulasi kecerdasan fisik
- Mengadakan pasilitas bagi perkembangan anak
- Mengajarkan menari
- Mengajarkan bermain peran
- Mengajarkan bermain drama
- Mengajarkan latihan fisik
- Mengajarkan pantonim/sandiwara (tanpa mengeluarkan bahasa)
- Mengajarkan berbagai jenis olahraga

4) Kecerdasan Visual Spasial (picture smart)
Visual spasial adalah salah satu dari multiple intelegen yang terdiri dari 8 kecerdasan yang berhubungan erat dengan kemampuan untuk memvisualisasikan didalam pikiran seseorang.
Materi program dalam kurikulum yang dapat mengembangkan kecerdasan visual spasial vidio, gambar menggunakan model/diagram.
v Peran sekolah dalam mengembangkan kecerdasan visual spasial ialah :
- Mengajarkan cara menggambar melukis yang baik
- Membimbing bakat yang dimiliki seorang anak dibidang menyanyi, mengenal, juga membayangkan suatu konsep
- Mengajarkan membuat prakarya
- Membimbing dalam mengunjungi sebuah tempat
- Melakukan permainan konstruktif dan kreatif
- Membimbing dalam hal mengatur dan merancang sesuatu hal misal mengatur/menata suatu ruangan

5) Kecerdasan Intra Personal (self smart)

Kecerdasan intra personal adalah kemampuan kita untuk berfikir secara reflektif mengenai perasaan dan proses pemikiran diri sendiri
v Peran sekolah dalam mengembangkan kecerdasan intrapersonal anak :
- Menciptakan citra diri positif
- Menciptakan suasana sekolah yang mendukung pengembangan kemampuan intrapersional dan penghargaan diri anak.
v Cara pengembangannya adalah
- Mengembangkan dukungan kelompok
- Menetapkan aturan tingkah laku
- Memberi kesempatan bertanggung jawab dirumah
- Bersama-sama menyelesaikan konflik
- Melakukan kegiatan sosial dilingkungan
- Menghargai pendapat
- Menumbuhkan sikap ramah
- Melatih kesabarannya

6) Kecerdasan Musikal (music smarth)
Kecerdasan musical adalah kemampuan menangani bentuk-bentuk musical dengan cara mempesepsi, memebedakan, mengubah mengekspresikan.
v Peran sekolah dalam mengembangkan kecerdasan musical yaitu:
- Memberi kesempatan pada anak didik untuk melihat kemampuan yang ada pada diri mereka
- Memberikan stimulus-stimulus ringan untuk mereka agar lebih termotivasi
- Pengalaman empiris yang praktis
v Strategi pengajaran untuk kecerdasan musical
- Irama lagu, rap dan senandung
- Dis kografi
- Music super memori
- Konsep musical
- Music suasana

7) Kecerdasan Natural (nature smart)
Kecerdasan naturalis adalah keahlian mengenali dan mengkategorikan spesies, dilingkungan sekitar, mengenali eksistensi suatu spesies meletakan hubungan antara beberapa spesies
v Peran sekolah dalam mengembangkan kecerdasan naturalis:
- Beri kesempatan pada anak didik agar dia tau kemampuan yang dimilikinya
- Ceritakan kondisi akhir sebagai keteladanan dan inspirasi bagi mereka
- Kegiatan yang dimaksud dalam kecerdasan naturalis misal karya wisata ke kebun binatang
v Strategi pembelajaran kecerdasan naturalis
- Belajar di alam terbuka
- Tanaman sebagai dekorasi untuk ilustrasi konsep mengamati prilaku binatang
- Eko study (ekologi yang integrasikan ke dalam setiap bagian pengajaran disekolah

8) Kecerdasan Eksternal
Kecerdasan eksternal adalah kemampuan menempatkan diri dalam hubungan dengan jangkauan kosmos terjauh yang tak terhingga besarnya, kecilnya dan kemampuan lain yang terkait serta pengalaman mendalam seperti cinta pada sesama / keterlibatan total dalam karya seni.
v Peran sekolah dalam mengembangkan ekstensial ialah:
- Mengajarkan agar tekun dalam menuntun ilmu dan menggabungkan masalah eksistensial ke dalam karyanya.
- Memberikan kesempatan agar mereka dapat mengembangkan apa yang mereka pelajari
More aboutKecerdasan Majemuk (Multiple Intelegent) dan Peranan Sekolah

Pengertian Arti Pembelajaran Tematik

Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna bagi siswa (Kurikulum 2006)

Pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar siswa secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Melalui pengalamna langsung siswa akan memahami konsep-konsep yang dipelajarinya. Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing).

Tujuan Pembelajaran Tematika
  1. Peserta didik mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu Karen materi disajikan dalam konteks tema yang jelas.
  2. Peserta didik mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar mata pelajaran.
  3. Pemahaman terhadap materi pembelajaran lebih mendalam dan berkesan.
  4. Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik karena mengaitkan berbagai mata pelajaran dengan pengalaman pribadi dalam situasi nyata yang diikat dalam tema tertentu.
  5. Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkan sekaligus.
Manfaat Pembelajaran Tematik
  1. Dengan menggabungkan beberapa kompetensi dasar dan indikator serta mata pelajaran akan terjadi penghematan, karena tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan dihilangkan.
  2. Peserta didik mampu melihat hubungan yang bermakna antara mata pelajaran.
  3. Pembelajaran menjadi utuh sehingga peserta didik akan dapat pengertian mengenai proses dan materi yang tidak terpecah - pecah.
Karakteristik Pembelajaran Tematik
Sebagai suatu model pembelajaran di sekolah dasar, pembelajaran tematik memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut :
1. Berpusat pada siswa
Hal ini sesuai dengan pendekatan belajar moderen yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek belajar sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator yaitu memberikan kemudahan – kemudahan kepada siswa untuk melakukan kemudahan .
2. Memberikan pengalaman langsung.
Dengan pengalaman langsung ini siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata (kongkrit) sebagai dasar untuk mempelajari yang lebih abstrak
3. Pemisahan Mata Pelajaran tidak begitu jelas
Pokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.
4. Menyajikan konsep dari berbagai mat pelajaran
Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam satu proses pembelajaran. Dengan demikian, siswa mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini diperlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari .
5. Bersifat Fleksibel
Pembelajaran tematik bersifat fleksibel dimana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran ke mata pelajaran yang lain bahkan dapat mengaitkan dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan dimana sekolah dan siswa berada.
6. Hasil Pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa.
Siswa diberi kesemptan untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki sesuai dengan minat dan kebutuhannya.
7. Menggunakan prinsif belajar sambil bermain.

Rambu- Rambu Pembelajaran Tematik
  1. Tidak semua mata pelajaran harus dipadukan
  2. Dimungkinkan terjadi penggabungan kompetensi dasar lintas semester pada kelas yang sama.
  3. Kompetensi dasar yang tidak dapt dipadukan, jangan dipaksakan, namun dapat dipelajarkan melalui tema lain maupun disajikan secara tersendiri.
  4. Kegiatan pembelajaran ditekankan pada kemampuan membaca, menulis dan berhitung serta menanamkan nilai moral.
  5. Setiap kegitan pembelajaran hendaknya selalu menggunakan alat peraga sesuai dengan tujuan.
  6. Jumlah tema yang dipilih atau yang ditentukan oleh masing-masing sekolah disesuaikn dengan karakteristik siswa, minat, lingkungan dan derah setempat. Agar pelaksnaan dapat optimal, jumlah peseta didik disesuaikan dengan jumlah guru di kelas.
Demikian bahasan mengenai pembelajaran tematik di sekolah. Semoga bermanfaat.
More aboutPengertian Arti Pembelajaran Tematik

Cara Mengukur Prestasi Belajar

Agar dapat memperoleh informasi dan gambaran ukuran tertentu sebagai hasil dalam belajar maka proses belajar berkait erat dengan evaluasi belajar yaitu suatu kegiatan untuk mengukur dan menilai sesuatu.

Kegiatan evaluasi tidak mungkin dapat dilaksanakan tanpa terlebih dahulu diadakan kegiatan pengukuran (measurement). Pengukuran ialah suatu usaha untuk mengetahui sesuatu sebagaimana adanya. Hasil pengukuran dapat berupa angka atau uraian tentang kenyataan yang menggambarkan derajat kualitas, kuantitas dan eksistensi keadaan yang diukur itu. Namun demikian, hasil pengukuran itu belum dapat mengatakan apa-apa jika tidak ditafsirkan dengan jalan membandingkannya dengan suatu patokan. (Depag RI, 2002: 3)

Evaluasi belajar sendiri bertujuan secara umum menghimpun bahan-bahan keterangan yang akan dijadikan sebagai bukti mengenai taraf perkembangan dan kemajuan peserta didik setelah mengikuti proses belajar di samping mengetahui efektifitas metode pengajaran yang dipergunakan.

Tetapi secara khusus, evaluasi ini bertujuan untuk merangsang kegiatan peserta didik dalam menempuh program pendidikan serta mencari dan menemukan faktor-faktor keberhasilan dan ketidakberhasilan peserta didik dalam mengikuti program pendidikan.

Adapun secara khusus, fungsi evaluasi dalam dunia pendidikan dapat ditilik dari tiga segi, yaitu: (1) segi psikologis, (2) segi didaktik, dan (3) segi administratif.

Secara psikologis, evaluasi pendidikan dalam bidang pendidikan di sekolah dapat disoroti dari dua sisi, yaitu dari sisi peserta didik dan sisi pendidik.

Bagi peserta didik, evaluasi pendidikan secara psikologis akan memberikan pedoman atau pegangan batin kepada mereka untuk mengenal kapasitas dan status dirinya masing-masing di tengah-tengah kelompok atau kelasnya.

Bagi pendidik, evaluasi pendidikan akan memberikan kepastian atau ketetapan hati kepada diri pendidik tersebut, sudah sejauh manakah kiranya usaha yang telah dilakukannya selama ini telah membawa hasil, sehingga secara psikologis memiliki pedoman atau pegangan batin yang pasti guna menentukan langkah-langkah apa saja yang dipandang perlu dilakukan selanjutnya.

Bagi peserta didik, secara didaktik evaluasi pendidikan (khususnya evaluasi hasil belajar) akan dapat memberikan dorongan (motivasi) kepada mereka untuk dapat memperbaiki, meningkatkan dan mempertahankan prestasinya.

Bagi pendidik, secara didaktik evaluasi pendidikan itu setidak-tidaknya memiliki lima macam fungsi, yaitu:
  1. Memberikan landasan untuk menilai hasil usaha (prestasi) yang telah dicapai oleh peserta didiknya.
  2. Memberikan informasi yang sangat berguna, guna mengetahui posisi masing-masing peserta didik di tengah-tengah kelompoknya.
  3. Memberikan bahan yang penting untuk memilih dan kemudian menetapkan status peserta didiknya.
  4. Memberikan pedoman untuk mencari dan menemukan jalan keluar bagi peserta didik yang memang memerlukannya.
  5. Memberikan petunjuk tentang sudah sejauh manakah program pengajaran yang telah ditentukan telah dapat dicapai.
Adapun secara administratif, evaluasi pendidikan setidak-tidaknya memiliki tiga macam fungsi, yaitu:


1. Memberikan informasi
Disajikan laporan mengenai kemajuan dan perkembangan peserta didik setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.

2. Memberikan bahan-bahan keterangan (data)
Setiap keputusan pendidikan harus didasarkan kepada data yang lengkap dan akurat. Apakah seseorang dinyatakan naik kelas, tinggal kelas, lulus atau tidak lulus dan sebagainya.

3. Memberikan gambaran
Hasil belajar merupakan prestasi belajar peserta didik secara keseluruhan, yang menjadi indikator dasar dan derajat perubahan perilaku yang bersangkutan.

Untuk mengukur/menilai hasil belajar dengan mengadakan evaluasi harus memperhatikan teknik-teknik, syarat dan prinsip-prinsip yang harus dipenuhi untuk mendapat hasil yang baik sesuai dengan standar evaluasi.

Menurut Sumadi Suryabrata (tt: 327), syarat-syarat penilaian yang baik untuk memenuhi standar evaluasi adalah sebagai berikut:

1. Test itu harus reliabel
Suatu test adalah reliabel apabila tes itu memiliki keajegan atau konsistensi. Artinya tes itu sama dengan dirinya sendiri.

2. Test itu harus valid
Suatu tes adalah valid apabila tes tersebut mengukur apa yang seharusnya diukur.

3. Test itu harus obyektif
Obyektivitas adalah suatu yang penting yang mempengaruhi validitas dan reabilitas. Dipandang dari aspek ini tes dipandang obyektif kalau hanya mengandung satu kemungkinan interpretasi saja asal interpretasi itu diberikan oleh orang yang benar-benar tahu akan persoalannya.

4. Test itu harus diskriminatif
Suatu tes diskriminatif kalau test itu disusun sedemikian rupa sehingga dapat melacak dan menunjukkan perbedaan yang sekecil apapun.

5. Test itu harus komprehensif
Suatu tes dikatakan komprehensif kalau tes tersebut mencakup segala persoalan yang harus diselidiki. Dapat memberikan gambaran yang lengkap mengenai apa yang telah diberikannya kepada anak didik.

6. Test itu harus mudah digunakan
Bahwa tes itu mudah digunakan kiranya cukup jelas manfaatnya.

Di samping persyaratan di atas, tes juga memiliki prinsip-prinsip dasar yang dijadikan patokan. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Tes hendaknya dapat mengukur secara jelas hasil belajar (learning outcomes) yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
  2. Mengukur sampel yang representative dari hasil belajar dan materi pembelajaran. Tes yang disusun haruslah mencakup soal-soal yang dianggap mewakili seluruh performance hasil belajar siswa, sesuai dengan tujuan instruksional yang telah dirumuskan.
  3. Keseluruhan tes mencakup bermacam-macam bentuk soal yang benar-benar cocok untuk mengukur hasil belajar seperti yang ditetapkan pada tujuan pembelajaran.
  4. Didesain sesuai dengan kebutuhan.
Sedikitnya, kita telah mengenal empat jenis kegunaan tes, yaitu:
  1. Placement test, digunakan untuk penentuan penempatan siswa dalam suatu jenjang atau program tertentu.
  2. Diagnostic test, digunakan untuk mencari sebab-sebab kesulitan belajar siswa.
  3. Formatif test, digunakan untuk mencari umpan balik (feed back) bagi perbaikan proses belajar. Dalam sistem pengajaran PPSI (Prosedur Pengajaran Sistem Instruksional), bentuknya dapat berupa pretest dan posttest. Bahkan, ketika proses pembelajaran berlangsung, misalnya, guru mengajukan pertanyaan yang dijawab langsung oleh siswa untuk memberi tugas untuk dikerjakan di luar jam pelajaran/di rumah. Jika setelah diperiksa, ternyata banyak siswa yang salah dalam pengerjaan tugas tersebut, guru perlu memberi remedial terhadap siswa-siswa yang belum dapat mengerjakan tugas dengan benar.
  4. Sumatif test, digunakan untuk mengukur dan menilai sampai di mana pencapaian kompetensi siswa terhadap materi pelajaran yang telah diajarkan dan selanjutnya menentukan kenaikan/kelulusan siswa.
Dibuat seandal (reliabel) mungkin sehingga mudah diinterpretasikan dengan baik agar dapat digunakan untuk memperbaiki cara belajar siswa dan cara guru mempromosikan pembelajaran.
Demikian cara mengukur prestasi belajar siswa di sekolah. Semoga bermanfaat.
More aboutCara Mengukur Prestasi Belajar

Teknik Membangkitkan Motivasi Siswa Peserta Didik

Sahabat Arena yang baik hati... Pada tulisan ini penulis ingin menyampaikan bahwa terjadinya motivasi pada diri seseorang itu ada yang timbul dengan sendirinya (secara alami), dan ada pula yang datang dari pengaruh orang lain atau eksternal (pengaruh luar). Hal itu kadang-kadang keberadaannya bersifat sementara, agar seseorang mau melakukan sesuatu, maka diperlukan teknik ataupun cara untuk membangkitkannya. Diantara cara teknik membangkitkan motivasi adalah :
  1. Memberikan angka. Lazimnya setiap kali ulangan setiap siswa ingin segera mengetahui hasilnya (nilainya). Para siswa yang mendapatkan nilai/angka yang baik akan mendorong motivasi yang kuat untuk belajar lebih rajin dan sebaliknya.
  2. Pujian sebagai akibat dari pekerjaan yang berhasil akan meningkatkan motivasi siswa. Oleh karena itu, kadang-kadang pujian diperlukan bagi siswa yang berhasil dalam suatu pekerjaan.
  3. Persaingan sering mempertinggi hasil belajar, baik persaingan secara individu maupun persaingan secara kelompok. Dalam hal ini persaingan harus bersifat sehat.
  4. Penilaian/ulangan: ulangan yang diberikan kepada para siswa secara teratur akan mendorong para siswa untuk belajar.
  5. Karyawisata, secara ini akan membangkitkan motivasi belajar pada diri siswa karena mereka akan mendapatkan pengalaman langsung dari obyek yang dikunjunginya.
  6. Kerjasama, mengerjakan tugas/pekerjaan secara bersama akan mempertinggi kegiatan belajar.
  7. Teguran dan kecaman, digunakan untuk memperbaiki kesalahan atau kelalaian yang dilakukan para siswa.
  8. Suasana yang menyenangkan.

Dalam interaksi antara para guru dengan para siswa, siswa dengan siswa secara harmonis akan memberikan ketenangan, kesenangan dan rasa kepuasan pada diri siswa, sehingga menimbulkan semangat untuk belajar.
Itulah diantara Teknik Cara Membangkitkan motivasi peserta didik di sekolah, semoga bermanfaat
More aboutTeknik Membangkitkan Motivasi Siswa Peserta Didik

Mengatasi Anak Pemalu Dalam Bergaul | Makalah

Masalah yang dihadapi oleh anak-anak taman kanak-kanak biasanya berkaitan dengan gangguan pada perkembangan anak. Bila tidak segera diatasi gangguan itu akan berlanjut pada fase perkembangan berikutnya yaitu fase perkembangan anak sekolah. Contohnya pada fase ini anak masih ngompol, anak itu dijauhi oleh teman-temannya sehingga pada fase berikutnya yaitu fase sekolah anak tidak bisa menyesuaikan diri dengan temannya. Oleh karena itu guru perlu mengetahui berbagai masalah itu agar dapat membantu anak memecahkannya.

Pengertian Pemalu
Pemalu adalah sifat yang pasif, dimana anak yang pemalu itu memiliki aktivitas motorik dan kognitif yang kurang/diam. Pemalu merupakan kelainan prilaku yang jelas asal usulnya, gangguan prilaku tersebut terkombinasi dengan sifat-sifat tertentu seperti, diam, tidak mau bertanya apa-apa.
Menurut para ahli bahwa pemalu adalah gangguan yang mempunyai ciri-ciri pasif yang monoton, biasanya mengalami kesukaran dalam berkomunikasi dan berperilaku.

Karakteristik atau Ciri-ciri Pemalu
Pendiam
Interaksi dengan lingkungan sekitar kurang
Sulit mengemukakan pendapat pada orang lain
Selalu menutup diri
Tidak suka melakukan tugas yang diberikan karena takut salah.

Faktor Penyebab Pemalu
a. Faktor Fisik
- Abnormalitasnya aktivitas anak
- Ada kekurangannya di dalam diri anak
- Anak tidak merasa sama dengan teman-temannya

b. Faktor Psikis
Dilihat dari segi psikologis yaitu bahwa anak itu pemalu cenderung kurang berinteraksi dengan teman-temannya atau dengan lingkungan sekitarnya, akibatnya anak pada waktu bertemu dengan orang lain merasa malu dan takut.

c. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan, yang menyebabkan anak pemalu yaitu kurang baiknya lingkungan disekitar rumah. Sehingga, anak jarang keluar rumah akibatnya anak jadi pemalu.

d. Faktor Emosional
Anak yang emosinya tidak setabil sulit untuk berkonsentrasi dan berpikir logis, tidak mampu memotivasi dirinya untuk tetap fokus pada aktivitasnya serta tidak mampu membina hubungan yang harmonis dengan lingkungan dimana ia berada.

Cara Pencegahan Anak Pemalu
- Harus memberi motivasi yang kuat
Anak yang pemalu biasanya dalam melakukan berbagai hal harus disertai dengan cara memberi motivasi atau bersamaan, sehingga anak bisa berinteraksi.

- Harus bisa mengarahkan anak tersebut.
Anak harus bisa diarahkan atau dilibatkan suatu kegiatan yang mampu menarik perhatian dan minat anak yaitu kegiatan-kegiatan yang bisa menarik anak

Anak pemalu cenderung memiliki aktivitas yang monoton (pasif) dan kelakuannya sering banyak diam dan menyendiri, faktor penyebab anak pemalu yaitu kurangnya interaksi dilingkungan rumahnya sehingga anak menjadi kaku dan ada rasa takut ketika bertemu dengan orang lain. Faktor lain yaitu karena kurangnya interaksi antara keluarga.

Cara penanggulangannya Mengatasi Anak Pemalu Dalam Bergaul  yaitu dengan hati yang sabar, ikhlas dengan penuh sungguh-sungguh.

DAFTAR PUSTAKA
Tim Redaksi Puspa Swara. 2001. Mengatasi Problema Psikologis Balita. Jakarta : Pupa Swara.
Rosemini. A. Prianto. 2003. Perilaku Anak Usia Dini Kasus dan Pemecahannya. Yogya : Kanisius.

Baca juga artikel menarik lainnya cara mengatasi masalah dengan teman.| Etika pegaulan remaja muslim.
More aboutMengatasi Anak Pemalu Dalam Bergaul | Makalah

Cara Menanamkan Sikap Sosial Terhadap Anak-anak di Dalam Kelas

Anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah tidak lepas dari peranan guru. Di tangan para gurulah terletak kemungkinan berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan proses pembelajaran dan pembentukan sikap mental/kepribadian anak sehingga anak memiliki sikap mental dan kepribadian yang positif atau negatif.

Supaya semua guru mampu menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan pendidikan baik secara mikro maupun makro para guru harus memahami dengan seksama keadaan anak baik secara individu maupun secara kelompok apalagi dengan pembentukan sikap mental dan kepribadiannya terutama dalam penanaman sikap sosial.

Ada Beberapa langkah cara menanamkan sikap sosial kepada anak di dalam kelas diantaranya :

Menciptakan suasana belajar yang aktif dan menyenangkan

Suasana belajar yang menyenangkan dalam proses pembelajaran ditunjang oleh beberapa faktor diantaranya karakteristik anak, pengalaman, interaksi, komunikasi dan refleksi.

Dengan memahami karakteristik anak seorang guru dapat melayani apa yang dibutuhkan siswanya ketika proses belajar. Dengan memberikan pengalaman untuk melakukan sesuatu ketika proses belajar berlangsung kreatifitas si anak akan berkembang. Begitu pula dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk berinteraksi dan berkomunikasi akan tercipta suasana pembelajaran yang menyenangkan. Dengan memberikan kesempatan untuk merepleksikan kembali gagasan/pendapat terhadap sesuatu hal si anak akan berusaha memperbaiki dan memperkuat gagasannya.
Memahami anak secara individu

Seorang guru sudah menjadi suatu keharusan untuk bisa memahami benar bahwa di dunia ini tak ada individu anak yang sama dengan individu anak lainnya. Perbedaan individu anak ini bisa dilihat dari perbedaan horizontal dan vertikal (Drs.A. Tabrani Lusian, 1989).

Perbedaan individu secara vertikal seperti bentuk, tinggi, besar, dan segi jasmaniah lainnya. Perbedaan individu secara horizontal meliputi kecerdasan, abilitas, minat, ingatan, emosi, kemauan dan sebagainya.

Berdasarkan perbedaan individu tersebut hendaknya para guru mempertimbangkan perlakuan yang akan dilakukannya terhadap anak meskipun dalam hal-hal tertentu para guru memberi perlakuan yang sama kepada mereka.

Pembiasaan Nilai-nilai Budi Pekerti

Nilai-nilai budi pekerti yang dimaksud misalnya sikap saling menolong, sikap peduli, sikap saling menghargai, sikap saling menghormati, sikap lapang dada, sikap berjiwa besar. Pembiasaan nilai-nilai budi pekerti ini bisa dilaksanakan oleh siswa baik ketika proses belajar berlangsung maupun ketika anak beristirahat dengan ataupun tanpa bimbingan guru.

Pembiasaan nilai budi pekerti dilakukan melalui diskusi kelompok, belajar klasikal, individual, dan ketika atau selesai evaluasi belajar. Karena melalui proses belajar itulah anak membiasakan diri berinteraksi, berkomunikasi, menghargai pendapat teman, menghormati perbedaan, membantu temannya memahami materi pelajaran dengan menjadi tutor sebaya, meminjamkan peralatan belajar yang dimilikinya kepada teman yang ketinggalan atau tidak punya, diajak menengok temannya yang sakit, saling berbagi makanan ketika beristirahat.

Memberikan Keteladanan Cara Menanamkan Sikap Sosial Terhadap Anak-anak di Dalam Kelas

Sebagai pigur sentral dalam proses pembelajaran dan ujung tombak/pelaku mencapai tujuan pendidikan nasional seharusnyalah guru memberikan keteladanan dalam mempraktekan nilai-nilai budi pekerti tersebut diatas dalam kehidupan sehari-hari bukan hanya ditataran retorika dan instruksi-instruksi saja. Karena melalui keteladanan peniruan akan mudah sekali dilakukan.

Anak dan Lingkungan Sosial

Manusia termasuk anak-anak sebagai makhluk sosial tidak terlepas dari saling ketergantungan antara individu yang satu dengan individu lainnya atau jelasnya tidak bisa hidup sendiri-sendiri. Suasana saling ketergantungan tersebut membentuk suatu hubungan yang lajim dinamakan hubungan sosial.

Hubungan sosial yang terbina dari saling ketergantungan memberikan pengaruh besar terhadap pembentukan sikap mental atau kepribadian si anak itu sendiri baik pengaruh yang positif maupun pengaruh yang negatif. Pengaruh positif yang terbentuk dari hubungan sosial terhadap sikap mental/ kepribadian anak diantaranya sikap peduli, sikap saling menghormati, sikap saling menghargai.

Pengaruh negatif yang terbentuk dari hubungan sosial terhadap sikap mental/kepribadian anak diantaranva masa bodoh, tidak memiliki rasa kepedulian, konfrontatif. Beruntung sekali apabila sikap mental/kepribadian yang terbentuk dari hubungan sosial tersebut memberi pengaruh positif. Sebaliknya celaka dan merugi sekali apabila hubungan sosial yang terbentuk memberi pengaruh negatif terhadap sikap mental/kepribadian sianak.

Lingkungan sosial anak tidak jauh berbeda dengan lingkungan sosial orang dewasa. Pada umumnya anak-anak usia 6-13 tahun (Usia Sekolah Dasar) menjalin hubungan sosial di lingkungan sekolah selama kurang lebih 3 s/d 5 jam. Atas dasar inilah lingkungan sekolahpun memberikan pengaruh yang tidak kalah pentingnya terhadap pembentukan sikap mental/kepribadian anak disamping lingkungan keluarga dan masyarakat luas meskipun waktu yang dihabiskan anak di lingkungan sekolah relatif singkat.

DAFTAR PUSTAKA
§ Ujang Suhendi. dkk, 2001. Belajar Aktif dan Terpadu.
§ Alang Tabrani Rustian, 1989. Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar.
§ Drs. Sufyan Ramadhy, 2001. Mengembangkan Kecerdasan Anak.
§ Drs. Ruswendi Hermawan, M.Ed, 2006. Perspektif Sosial Budaya.
§ TIM DOSEN. (2008). Bahan Ajar Sosiologi Pendidikan. Fakultasl Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia : Tasikmalaya.
More aboutCara Menanamkan Sikap Sosial Terhadap Anak-anak di Dalam Kelas

Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Anak | Makalah Pendidikan

Latar Belakang makalah Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Anak mata kuliah perkembangan peserta didik:
Individu manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna bila dibanding dengan makhluk-makhluk lainnya. Meskipun pada saat kelahirannya anak manusia tampak seperti kurang berdaya bila dibanding dengan anak hewan, misalnya, ia sesungguhnya memiliki potensi yang sangat besar. Dengan berbagai potensi yang dimilikinya, anak manusia bisa berkembang dan mengalami banyak perubahan dalam kehidupannya baik secara fisik maupun psikis.

Selama terjadinya proses perkembangan tersebut, berperan atau berpengaruh berbagai faktor. Fakrot-faktor yang mempengaruhi perkembangan itu ada tiga yakni Hereditas, lingkungan dan Kematangan.

PEMBAHASAN Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Anak

Berkenaan dengan upaya pendidikan, unsur biologis dan perseptual merupakan salah satu faktor perkembangan anak yang cukup esensial untuk diperhatikan. Alasan ini bukan semata-mata karena pertumbuhan biologis (hereditas), lingkungan dan kematangan merupakan proses perkembangan individu yang paling tampak, karena faktor-faktor ini sangat terkait erat dengan perkembangan aspek perilaku dan segi-segi mental lainnya.

2.1 Hereditas
Setiap spesies, termasuk manusia, memiliki suatu mekanisme tertentu untuk mewariskan karakteristik-karateristik bawaan dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Mekanisme tersebut dapat dipahami melalui prinsip-prinsip pewarisankebudayaan.

Kehidupan individu (manusia) tumbuh dari sel reproduksi yang disebut dengan gametes el reproduksi yang berasal dari orang tua. Sel reproduksi dari pihak ayah disebut sperma dan dari pihak ibu dikenal sebagai sel telur. Sperma dan sel telur inilah yang membuat informasi genetika sebagaimana terkandung dalam struktur-struktur molekuler yang disebut dengan gen.

Gen adalah unit-unit informasi keturunan atau bawaan yang bertindak sebagai ”blueprint” bagi sel untuk mereproduksi diri dan untuk menghasilkan protein yang mempertahankan kehidupan. Gen-gen ini membentuk kromosom. Setiap sperma atau sel telur manusia terdiri dari 23 kromosom.

Secara fisik, gen adalah bagian-bagian pendek dari DNA-DNA merupakan suatu molekul yang kompleks yang memuat informasi genetik. Dalam perkembangan individu, DNA memberikan kontribusi dengan dua cara. Pertama, DNA memuat kode informasi genetika yang dibutuhkan organisme disaat berkembang. Kedua, DNA dapat memberikan informasi ini melalui kemampuannya untuk membelah diri dan memproduksi. Pada saat sekarang para ahli psikologi anak berpendapat bahwa hereditas lebih banyak mempengaruhi sifat-sifat manusia, diantaranya sebagai berikut :

1. Jenis kelamin, Pada umur tertentu pria dan wanita sangat berbeda dalam ukuran besar, kecepatan tumbuh, proporsi jasmani dan lain-lainnya sehingga memerlukan ukuran-ukuran normal tersendiri. Wanita menjadi dewasa lebih dini, yaitu mulai adolesensi pada umur 10 tahun, pria mulai pada umur 12 tahun.
2. Ras atau bangsa. Oleh beberapa ahli antropologi disebutkan bahwa ras kuning mempunyai tendensi lebih pendek dibandingkan dengan ras kulit putih. Perbedaan antar bangsa tampak juga bila kita bandingkan orang Skandinavia yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang Italia.
3. Keluarga. Tidak jarang dijumpai dalam suatu keluarga terdapat anggota keluarga yang pendek dan anggota keluarga lainnya yang tinggi.
4. Umur. Kecepatan tumbuh yang paling besar ditemukan pada masa fetus, masa bayi dan masa adolesensi.

2.2 Lingkungan
Pertumbuhan dan perkembangan manusia sejak lahir berlangsung dalam lingkungan sosial yang meliputi semua manusia yang berada dalam lingkungan hidup itu. Interaksi antara individu dengan lingkungan sosial itulah yang memungkinkannya untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangan sehingga akan dapat mencapai keterampilan-keterampilan tertentu yang dituntut sesuai dengan tingkat perkembangannya. Disinilah peran lingkungan nampak, sehingga diharapkan lingkungan dapat memberikan stimulasi-stimulasi bagi berlangsungnya perkembangan secara wajar dan lancar.

Dalam interaksi sosial, manusia sejak lahir telah menjadi anggota kelompok sosial yang dalam hal ini ialah keluarga. Disinipun manusia belajar menyesuaikan diri pada nilai-nilai dan norma-norma yang dianut dan diikuti oleh anggota-anggota kelompok dalam lingkungan keluarga itu. Oleh karenanya keluarga adalah lembaga sosial pertama yang dikenal oleh anak dalam rangka proses perkembangan anak.

Interaksi manusia dengan lingkungannya sejak lahir menghendaki penguasaan lingkungan maupun penyesuaian diri pada lingkungan. Disinilah peran faktor intra individual yang berupa potensi-potensi psikis seperti minat, motivasi dan sebagainya untuk diaktualisasikan oleh individu dengan bantuan dari pendidik-pendidik tidak hanya menanti kapan individu bangkit, melainkan harus berupaya agar potensi-potensi yang ada pada peserta didik dapat teraktualisasikan secara baik.

Atas dasar keterikatan dan kewajiban sosial para pendidik (terutama orang tua), maka anak senantiasa berusaha menciptakan lingkungan fisik, lingkungan sosial, serta lingkungan psikis yang sebaik-baiknya bagi proses perkembangannya.

2.3 Kematangan
Perkembangan yang dialami peserta didik membawa mereka ke arah kematangan. Kematangan ini akan tercapai jika mereka sudah menemukan pegangan atau nilai-nilai yang mereka cari yaitu menjelang berakhirnya masa remaja atau mulainya masa dewasa.
Kematangan adalah urutan perubahan yang dialami individu secara teratur yang ditentukan oleh rancangan genetiknya (Santrock & Yussen). Kematangan dapat mencakup antara lain kematangan fisik atau jasmani, kematangan sosial, kematangan emosional, kematangan dalam cara berpikir dan bersikap, serta kematangan sekolah.

Kematangan fisik atau jasmani terjadi setelah berhentinya pertumbuhan yang terjadi dengan pesat, sehingga anak laki-laki akan kelihatan berjalan dengan tegap karena dada dan bahunya semakin bidang sedang anak wanita berjalan melenggang karena pinggulnya yang membesar.

Kematangan sosial ditandai oleh sikap sosial yang mantap sebagai anggota masyarakat, dan anggota keluarga yang mulai merasakan adanya tanggungjawab baik sebagai pribadi ataupun sebagai anggota masyarakat.

Kematangan emosional ditandai oleh stabilnya emosi sehingga ledakan-ledakan yang sering terjadi semakin berkurang dan bahkan berhenti sama sekali.

Kematangan dalam berpikir dan bersikap sangat erat hubungannya dengan kematangan sosial dan emosional. Peserta didik mulai mampu berpikir dan bersikap dewasa dalam memecahkan berbagai masalah.

Kematangan sekolah adalah suatu kondisi dimana anak telah memiliki kesiapan yang cukup memadai baik fisik, psikologis, kognitif, dan sosial dalam memenuhi tuntutan lingkungan formal atau sekolah yang akan dimasukinya.

Jika kematangan telah sampai pada titik siap berkembang, maka belajar dapat dimulai (Hurlock). Kematangan dan belajar akan berlangsung beriringan. Anak harus mencapai kematangan tertentu sebelum mereka dapat belajar. Masa itu disebut sebagai ”teachable moment”. Hurlock juga menyebutkan adanya tiga patokan yang dapat membantu menentukan kesiapan anak untuk belajar sesuatu, yaitu :
1. Adanya perhatian terhadap sesuatu yang dipelajari
2. Minat yang berjalan terus dan menjadi semakin kuat
3. Hasil dari kegiatannya harus lebih baik karena belajar.

Kesimpulan
Meskipun konflik pendapat tetap berlangsung diantara para ahli berkenaan dengan penentuan faktor apa yang paling berpengaruh terhadap perkembangan individu, pada prinsipnya dapat disimpulkan bahwa ada tiga faktor dominan yang perlu dibicarakan, yaitu :
1. Faktor hereditas yang bersifat alamiah dan merupakan sesuatu yang diwariskan dari orang tua.
2. Faktor lingkungan sebagai kondisi atau pengalaman-pengalaman interaksional yang memungkinkan berlangsungnya proses perkembangan.
3. Faktor kematangan adalah urutan perubahan yang dialami oleh individu secara teratur.

Saran
Sebagai calon pendidik, kita harus mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan peserta didik, yaitu hereditas, lingkungan dan kematangan. Karena hal-hal tersebut ternyata sangat berpengaruh terhadap perkembangan peserta didik baik dalam hal menangkap pelajaran di sekolah, pergaulannya dengan teman sebaya dan lain-lain. Selain itu faktor-faktor tersebut pun dapat membantu kita mengenali peserta didik yang mengalami perubahan sampai tercapainya kematangan baik fisik atau jasmani, sosial-emosional serta berpikir dan bersikap.

DAFTAR PUSTAKA
Dr. Wardani dkk. 1984. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta : Universitas Terbuka. Dekdikbud.
R. Semiawan, Prof. Dr. Conny. 1998. Perkembangan dan Belajar Peserta Didik. Jakarta : Depdikbud.

Silahkan baca: Kumpulan kata kalimat mutiara selamat lebaran.
More aboutFaktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Anak | Makalah Pendidikan

Mengenal Anak Hiperaktif

Anak yang selalu mengganggu teman tidak bisa diam dan seolah-olah tidak memperhatikan pelajaran di kelas, serta tidak dapat mengikuti pelajaran di dalam kelas, bukanlah anak nakal dan bukan juga anak malas dan bodoh, namun anak tersebut mengalami gangguan dalam perkembangannya yaitu gangguan hiperaktif yang secara luas dimasyarakat disebut Anak Hiperaktif.

Anak Hiperaktif adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian pada jangka waktu tertentu. Anak hanya mampu memusatkan perhatian pada waktu yang sangat pendek, mudah terganggu perhatian dan pikirannyanya dan tidak mampu mengontrol diri untuk bersikap tenang. Anak ini sering banyak bicara, tindakan-tindakannya tidak bertujuan. Susan B. Campbell & John S.Werry menyebutnya dengan istilah Attention Feficit Disorder (ADD) atau Attention deficit and hyperactivity disorder (ADHD).

Gangguan hiperkenetik ini timbul pada masa perkembangan dini (sebelum berusia 7 tahun). Menurut kategori Diagnostik and statistical manual of mental disorder III (DSM III) ADD dibagi dalam 3 kelompok yaitu tidak dapat memusatkan perhatian (in attention), menurut kehendak (impulsivitas) dan hiperaktif.

Gejala yang dapat dilihat yaitu :

1. Tidak dapat memusatkan perhatian (in attention)
Gejalanya :
a. Sering gagal menyelesaikan pekerjaan
b. Sering tampak tidak mendengarkan orang lain berbicara
c. Mudah beralih kepada objek lain (mudah bingung/kacau pikiran) sulit berkonsentrasi pada tugas-tugas sekolah / tugas-tugas lain
d. Sulit bertahan pada satu aktivitas permainan

2. Impulsivitas
Gejalanya :
a. Sering bertindak sebelum berfikir
b. Sering berganti-ganti dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain
c. Sulit mengorganisasi pekerjaan
d. Sering berteriak-teriak di kelas
e. Sulit menunggu giliran dalam permainan/kegiatan kelompok

3. Hiperaktivitas
a. Berlari-lari/memanjat secara berlebihan
b. Sulit duduk dengan tenang/gelisah secara berlebihan
c. Sulit tetap tinggal duduk
d. Bergerak berlebihan selama duduk
e. Bergerak terus menerus/berbuat sesuatu bagaikan digerakan mesin

Ciri-ciri lain yang menyertai gangguan hiperkinestik :
a. Kemampuan akademik tidak optimal
b. Kecerobohan dalam hubungan sosial
c. Kesembronoan dalam menghadapi situasi yang berbahaya
d. Sikap melanggar tata tertib secara impulsif

· Kapan anak disebut menderita gangguan hiperkinetik ?
a. Mengalami kesulitan berkonsentrasi dalam belajar, mendengarkan guru dan permainan
b. Hiperaktivitas, selalu bergerak dan tidak bisa tenang
c. Impulsivitas, melakukan sesuatu tanpa dipikir terlebih dahulu

· Apa akibatnya bila anak menderita gangguan hiperkinetik ?
a. Anak tidak dapat mengikuti kegiatan belajar dengan baik
b. Anak sering tidak patuh terhadap perintah
c. Anak sulit didisiplinkan

Bila anak yang mengalami gangguan hiperkinetik tidak segera ditangani akan menimbulkan hambatan penyesuaian perilaku sosial dan kemampuan akedemik dilingkungan sekitar baik dirumah dan sekolah. Sehingga dapat mengakibatkan perkembangan anak tidak optimal dengan timbulnya gangguan perilaku dikemudian hari. Kondisi lain yang menyertai gangguan hiperkinetik adalah :
1. Gangguan tingkah laku
2. Gangguan sikap menentang
3. Depresi
4. Gangguan cemas
5. Kesulitan belajar
6. Retardasi mental
7. Gangguan pemusatan perhatian
8. Gangguan pengendalian motorik
9. Gangguan persepsi
10. Autisme
Demikian Artikel tentang Mengenal Anak Hiperaktif, mudah-mudahan bermanfaat untuk referensi keilmuan kita tentang Anak.
More aboutMengenal Anak Hiperaktif

Makalah Konsep Tugas dan Kewajiban Guru | Artikel Pendidikan

Guru memiliki peran dan fungsi yang sangat strategis dalam pengembangan sumber daya manusia di Indonesia ke depan, namun peran dan fungsi mereka sebagai guru belum sepenuhnya sesuai dengan harapan. Hal ini tidak seperti yang terjadi diberbagai belahan dunia bahkan dikawasan Asia Tenggara peran dan fungsi sebagai guru begitu sangat besar berpengaruh pada berbagai sektor.
Sementara peran dan fungsi para guru begitu banyak, baik yang bersifat administratif maupun penyelesaian tugas-tugas akademik. Masih banyak diantara guru yang melakukan tugas dan kewajibannya yang penting tugas akan saya laksanakan sebagaimana mestinya. Mereka tidak berpikir tentang tugas lain yang berkaitan dengan mendidik, misalnya; menyamaikan nilai-nilai (value) kepada para peserta didiknya, dan lain sebagainya.Untuk itulah maka untuk kita semua para guru kehidupan, penulis ingin menyampaikan dengan segala hormat : |Makalah Konsep Tugas dan Kewajiban Guru | Berupa Artikel Pendidikan.

Konsep Guru Ideal
Sebagaiman telah diutarakan sebelumnya, memang benar dewasa ini banyak tuntutan yang sangat luas bisa terhadap kualitas guru. Tuntutan tersebut muali dari kemampuan secara administratif ataupun yang bersifat kualitatif. Secara administratif tuntutan tersebut berupa kemampuan yang bersifat kualitatif berkaitan dengan kemampuan guru dalam bidang pengetahuan yang harus memadai, baik pengetahuan materi pengajarannya maupun pengetahuan penunjang lainnya. Selain dalam bidang pengetahuan, seorang guru juga dituntut kedua bidang di atas, seorang guru dituntut memiliki sikap yang dapat diteladani oleh semua peserta didik. Selain kedua bidang di atas, seorang guru dituntut pula kompeten dan terampil dalam merancang dan mengelola proses belajar mengajar.

Di samping berbagai tuntutan di atas, ada juga sebagian pengamatan pendidikan khususnya aspek guru yang menuntut terhadap lembaga-lembaga yang memproduk tenaga kependidikan yaitu LPTK. Mereka beranggapan bahwa LPTK tidak serius bahkan tidak mampu melahirkan para guru yang kompeten dan profesional. Tetapi ada yang berpandangan bahwa tidak bisa LPTK disalahkan begitu saja, sebab LPTK dapat menghasilkan para lulusannya tersebut harus disertai dengan berbagai komponen yang memadai. Komponen-komponen tersebut antara lain sarana yang dimiliki oleh LPTK. Kenapa kurang sarananya ? Jawabannya adalah karena kurangnya dana ? Lalu siapa yang bertanggung jawab penyediaan dana LPTK dewasa ini ? Ya pemerintah, berapa pemereintah penyediaan alokasi dana untuk penyelidikan secara keseluruhan dewasa ini ? Konon katanya hanya 20% itupun baru pernyataan politik pemerintah dan akan dilaksanakan di tahun-tahun yang akan datang. Jadi kesimpulannya kualitas guru dewasa ini tidak bisa disalahkan pada satu pihak misalnya LPTK.

Tugas dan Kewajiban Guru

Untuk menjawab berbagai tuntutan positif di atas, sebenarnya secara teoritis para ahli telah mengemukakan berbagai pandangan tentang konsep ideal guru yang baik, syarat ataupun sifat yang harus dimiliki sseorang guru. Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 pasal 40 menyatakan bahwa ‘ pendidikan dan tenaga kependidikan berkewajiban: a) manciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis dan dialogis, b) mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan, c) memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya “.
Menurut Chaibib Thoha, pengertian pendidik dalam Islam adalah sebagai murrabi, mu’allim dan muaddibi[1]. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa sebagai murrabi guru agam harus memiliki sifat-sifat robbani, yaitu nama yang diberikan bagi orang-orang yang bijaksana, terpelajar, dalam bidang pengetahuan, bertanggung jawab, penuh kasih sayang terhad peserta didik. Pengertian mu’allim mengandung pengertian menguasai ilmu teoritik, kretaivitas, komitmen tinggi dalam mengembangkan ilmu serta sikap yang selalu menjungjung tinggi nilai-nila ilmiah dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan muaddib adalah intergrasi antar ilmu dengan amal.

Lebih lanjut Muchtar Bochori berpendapat bahwa salah satu indikator guru yang malas adalah guru yang tidak memiliki gairah untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya, melainkan hanya mengajarkan kepada peserta didik apa-apa yang ia ketahui[2]. Ia mengutup doktrin klasik yang sampai hari ini masih be), rlaku, yang berbunyi sabagai berikut :

Men kan niet onderwijzen wat men weet (kita dapat mengajarkan apa yang kita ketahui) ; men kan niet onderwijzen wat men wil (kita dapat mengajarkan apa yang kita kehendaki) ; men kan alleeen onderwizen wa men is (kita hanya dapat mengajarkan apa yang memang ada dalam diri kita).

Berdasarkan ketiga pandangan diatas dapat dipahami bahwa tugas dan kewajiban guru sangat mulia, namun memiliki resiko yang sangat berat, jika tidak dilakukan dengan baik dan profesional. Sebab seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, pekerjaan mendidik dan mengajar ini berkaitan dengan upaya pendewasaan seseorang agar lebih matang dan mengalami perubahan antara lain bidang pengetahuan, sikap ataupun keterampilan.

Untuk mencapai sasaran tersebut, dewasa ini pemerintah mulai mewacanakan program peningkatan guru yang berwawasan Iptek. Program ini di rencanakan dalam rangka meningkatkan kemampuan guru dalam bidang Iptek, sehingga dalam proses belajarnya seorang guru dapat memperkenalkan kepada peserta didikanya masala-masalah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini. Istilah program ini dinamakan program Sertifikasi Guru Wisata Iptek, yang digegas oleh KMRT dan Depdiknas yang dikhususkan bagi para guru MIPA[3].

Rujukan:
[1] Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996) hal 11
[2] Muchtar Buchori, Spektrum Problem Pendidikan di Indonesia, (Yogyakarta: 1994). Hal. 107-109
[3] www.PR.com/cetaK0702/06/1104.htm
More aboutMakalah Konsep Tugas dan Kewajiban Guru | Artikel Pendidikan