Pengertian dan Macam-macam Dzikir | Dzikrulloh

Asal kata "Dzikir" berasal dari bahasa Arab yaitu "Ad-Dzikru" yang berarti menyebut, menuturkan, mengingat, menjaga, mengerti perbuatan baik. Ucapan lisan, gerak raga, maupun getaran hati sesuai dengan cara-cara yang diajarkan agama dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt untuk menyingkirkan keadaan lupa dan lalai kepada Allah Swt dengan selalu ingat kepada-Nya, keluar dari suasana lupa, masuk ke dalam suasana musyahadan (saling menyaksikan) dengan mata hati, akibat di dorong rasa cinta yang mendalam kepada Allah Swt.

Sedangkan dzikir menurut terminologi berarti mengingat Allah Swt dengan maksud untuk taqarrub (mendekatkan) diri kepada-Nya.

Selain itu, dzikir pula dapat diartikan menghadirkan kebesaran Allah Swt di dalam hati seorang hamba, dengan membaca kalimat-kalimat yang diriwayatkan didalamnya dan memohon untuk memperbanyaknya.

Al-Hafidz berkata dalam kitabnya yaitu Al-Fath, “Dimutlakkan dan dimaksudkan dengan dzikir itu adalah berkeinginan keras untuk mengerjakan apa yang diwajibkan Allah atau disunahkan-Nya.”

Oleh karenanya, dzikir merupakan suatu urusan yang sangat besar sekali penilaiannya menurut pandangan Allah Swt. Sesuai dengan Firman-Nya dalam surat Al-Ankabut:45

Adapun macam-macam Dzikir~ Ibnu Ata, seorang sufi yang menulis Al-Hikam (kata-kata hikmah) membagi dzikir kepada tiga bagian, yaitu dzikir jali (dzikir jelas, nyata), dzikir khafi (dzikir yang samar-samar) dan dzikir haqiqi (dzikir yang sebenar-benarnya).

Dzikir Jali (dzikir jelas, nyata)
Dzikir jali ialah suatu perbuatan mengingat Allah Swt dalam bentuk ucapan lisan yang mengandung arti pujian, rasa syukur dan do’a kepada Allah Swt yang lebih menampakkan suara yang jelas untuk menuntun gerak hati. Misalnya, membacakan tahlil (mengucapkan kalimat Laa ilaaha illa Allah = tiada Tuhan selain Allah), tasbih (mangucapkan kalimat subhaana Allah = Maha suci Allah), takbir (mengucapkan kalimat Allahu Akbar = Allah Maha Besar), membaca Al-Qur’an atau do’a lainnya. Mula-mula dzikir ini diucapkan lisan, mungkin tanpa disertai ingatan hati. Hal ini biasanya dilakukan oleh orang awam (orang kebanyakan). Tapi hal ini dimaksudkan untuk mendorong agar hatinya hadir menyertai ucapan-ucapan lisan itu.

Dzikir jali terbagi kepada dua bagian, yaitu:
Yang bersifat Muqayyad (terikat) dengan waktu, tempat atau amalan tertentu lainnya. Misalnya ucapan-ucapan dalam shalat, ketika melakukan ibadah haji, do’a-do’a yang diucapkan ketika akan makan, sesudah makan, akan tidur, bangun tidur, pergi keluar rumah, mulai bekerja, mulai belajar, melihat teman berbaj baru dan sebagainya. Banyak ayat Al-Qur’an yang isinya perintah dari Allah Swt agar manusia senantiasa berdzikir kepada Allah Swt. Beberapa diantaranya adalah:

- Surat An-Nisa : 103
Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu Telah merasa aman, Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.
- Surat Al-Ahzab : 34
Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.
Yang bersifat Mutlak (tidak terikat dengan waktu atau tempat) misalnya, mengucapkan tahlil, tasbih, tahmid dan takbir dimana saja dan kapan saja.

Begitu juga menurut Ar-Razi, “Yang di maksud dengan dzikir lisan ialah membaca kalimat-kalimat yang menunjukkan pada bacaan tasbih,tahmid dan tamjid.”

Oleh karena itu, agar dapat khusyuk dalam berdzikir secara lisan hendaknya kita mengarahkan hati kepada Zat yang Maha Kuasa dan menghayati makna kalimat tayyibah yang kita ucapkan.
Dzikir Khafi (dzikir yang samar-samar)

Dzikir Khafi adalah dzikir yang dilakukan secara khusyuk oleh ingatan hati, baik disertai dzikir lisan, ataupun tidak. Orang yang sudah mampu melakukan dzikir sepeti ini hatinya merasa senantiasa memiliki hubungan dengan Allah Swt. Ia selalu merasakan kehadiran Allah Swt kapan dan dimana saja.

Dzikir Khafi juga mempunyai arti yaitu mengingat Allah Swt dengan bertafaqur (berfikir) memiirkan ciptaan-Nya, baik yang ada di diri kita maupun yang ada di alam ini. Misalnya ketika kita bernafas kita mengingat Allah, ketika makan kita bersyukur kepada Allah, ketika melihat pemandangan yang indah kita mengingat kekuasaan Allah. Hendaknya hati kita selalu mengingat Allah dalam segala situasi apapun, karena rahmat Allah Swt atas hamba-hambaNya tidak tenilai,Firman Allah Swt(Ar-Ra’du:28)
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
Menurut Ar-razi, dzikir dengan hati adalah memikirkan bukti-bukti dzat dan sifat serta bukti-bukti taklif yang berupa perintah dan larangan sehingga dia bisa mengetahui hukum-hukumNya dan mengetahui rahasia-rahasia makhluk-Nya.

Dzikir Haqiqi (dzikir yang sebenar-benarnya)
Dzikir Haqiqi merupakan tingkat dzikir yang paling tinggi yaitu dzikir yang dilakukan oleh seluruh jiwa raga, lahiriah dan batiniah,kapan dan dimana saja, dengan memperketat upaya untuk memelihara seluruh jiwa raga dari larangan Allah Swt dan mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya. Selain itu tiada yang di ingat selain Allah Swt untuk mencapai tingkatan dzikir haqiqi ini perlu dijalani latihan-latihan mulai dari tingkatan dzikir jali dan Khafi.

Dzikir itu pada hakikatnya adalah dzikir lisan dan orang yang megucapkan dzikir itu akan di beri pahala. Dalam dzikir itu tidak disyaratkan konsentrasi penghayatan arti dzikir itu, tapi hanya disyaratkan, bahwa dzikir itu tidak dimaksudkan selain Allah. Jika orang yang berdzikir itu menggabungkan dzikir lisan dan dzikir hati, maka itulah dzikir yang paling sempurna. Dan jika kedua dzikir itu digabungkan dengan konsentrasi penghaatan makna dzikir tersebut bersama apa yang terkandung dalam dzikir itu seperti pengagungan Allah Swt dan pengingkaran segala sifat kurang bagi Allah itu, maka nilai dzikirnya bertambah sempurna lagi. Jika konsentrasi semua dzikir itu dalam setiap amal shaleh yang termasuk fardhu seperti shalat, atau jihad atau selain keduanya, maka nilainya sangat tinggi. Lalu jika betul niatnya dan ikhlas karena Allah, maka dzikir itu paling tinggi lagi kesempurnaannya.

Menurut Fakhrur Razi, dzikir anggota badan ialah dengan cara menjadikan anggota badan itu asyik melaksanakan kepatuhan atau ibadah kepada Allah. Itulah sebabnya Allah Swt menamai shalat itu dengan dziir, sebagai mana Firman-Nya(Al-Jumu’ah:9)
Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui.
Sebagian ulama ahli ma’rifah (ulama tasawuf) mengatakan bahwa dzikir itu ada 7 bagian badan, yaitu:
1. Dzikir kedua mata dengan menangis sewaktu mengingat dan menyebut nama Allah.
2. Dzikir dua telinga dengan mendengarkan ajaran Allah dengan penuh perhatian.
3. Dzikir lidah dengan sanjungan dan pujian.
4. Dzikir dua tangan dengan suka memberi pertolongan.
5. Dzikir badan dengan kesetiaan dan pemenuhan kewajban.
6. Dzikir hati dengan takut kepada Allah, disertai harap kepada-Nya.
7. Dzikir ruh dengan penyerahan sepenuhnya dan Ridha kepada-Nya.

Sudah tertera dalam hadits sabda Rasulullah SAW yang menunjukan bahwa dzikir itu seutama-utamanya amal seluruhnya. Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Al-Hakim, dari Abu Darda’ yang di sambung sanadnya hingga Rasululah SAW, Beliau bersabda, yang artinya:

“Maukah kalian aku beritahukan kepadamu sebaik-baik amalmu, dan sesuci-sucinya di sisi Tuhan mu, yang paling meninggikan derajatmu dan lebih baik bagi kamu darupada menjumpai musuhmu, lalu kamu memenggal leher mereka dan mereka memenggal lehrmu? Mereka menjawab, tentu ya Rasulullah, Beliau Bersabda: yaitu Dzikrullah Ta’ala..” Hadits ini tidak bertentangan dengan hadits-hadits yang menjelaskan tentangkeutamaan jihad, bahwa jihad itu lebi utama daripada dzikir, karena sesungguhnya yang di maksud dengan dzikir yang lebih utama dari jihad itu ialah dzikir lidah dan hati disertai renungan tentang makna dzikir itu dan konsentrasi pikiran mengagungkan Allah. Dzikir semacam itu labih utma daripada jihad, sedangkan jihad yang lebih utama daripada dzikir itu ialah dzikir dengan lisan saja. Menurut Ibnu Arabi, “Tidak dalam suatu amal shaleh melainkan dzikir itu disyaratkan dalam menentukan sahnya amal shaleh itu. Oleh karena itu, barang siapa yang tidak berdzikir kepada Allah sewaktu mengeluarkan sedekah atau sewaktu pusanya, maka itu tidak akan menjadi amal yang sempurna. Oleh karena itu dzikir menjadi lebih utama daripada semua amal dilihat dari sei ini, Sabda Rasulullah yang artinya:
“Niat orang yang beriman itu lebih baik daripada amalnya.”
More about → Pengertian dan Macam-macam Dzikir | Dzikrulloh

Asal Usul Tradisi Halal Bi Halal atau Halal Bil Halal

Asal Usul Tradisi Halal Bi Halal~ Indonesia memang kaya akan budaya dan tradisi kemasyarakatan termasuk pergaulan sesama muslim pun demikian, dikenal dengan istilah yang seolah-olah berbahasa Arab yaitu "Halal bi Halal" atau "Halal bil Halal". Dalam syari'at Islam istilah di atas sama sekali tidak dikenal, dan entah darimana asalnya tradisi berkumpul dan saling memaafkan sesama muslim pasca lebaran tiba yang bahkan sampai ada upacara akbar peryaan halal bi halal. Itu adalah adat dan tradisi umat Islam di Indonesia.


Lantas, apakah salah dengan fenomena kebiasaan itu? Maka jawabannya menurut hemat penulis tergantung penilaian orang yang memandang. Bila upacara halal bi halal itu dianggap sebagai keharusan dan merupakan kewajiban maka itu termasuk kategori yang "dilarang", tetapi bila dianggap sebagai acara biasa dan tidak lain merupakan adat istiadat semata maka tidak ada salahnya bila hal itu kita lakukan.

Perlu juga diketahui apakah sebenarnya hakikat halal bi halal ini. Simak ulasannya di bawah ini:
Istilah halal bi halal ini sesungguhnya tidak terdapat di Al-Qur'an maupun Hadits Nabi Muhammad SAW yang shahih dan bahkan dalam bahasa Arab pun tidak ada.

Pada kamus Besar B. Indonesia yang diterbitkan oleh Balai Pustaka memang istilah ini ada. Pada keterangannya disebutkan :
Halal bihalal adalah acara maaf-memaafkan pada hari lebaran. Atas dasar ini, maksud halal bihalal sesuai dengan istilah bahasa Indonesia adalah untuk menciptakan suasana saling memaafkan antara satu dengan yang lain (Tim Penyusun Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia,1989 hal, 293).

Ada pula yang memaksakan pendapatnya bahwa halal bi halal ini dari bahasa Arab dengan landasan dalil dari Hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam Bukhori, yaitu :

مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لأَِخِيْهِ فِى عِرْضِهِ أَوْ شَيْئٍ فَلْيَتَحَلّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ (رواه البخارى
“Barangsiapa melakukan penganiayaan (kesalahan) terhadap orang lain, baik menyangkut kehormatan ataupun yang lain, maka hendaknya pada saat itu juga minta dihalalkan/dimaafkan”. (HR. Al-Bukhari)

Pada redaksi hadits di atas ada kata-kata "“fal yatahallalhu"”, yang artinya hendaknya minta dihalalkan atau dimaafkan. Kata-kata inilah yang diambil oleh ulama Indonesia tempo dulu dalam rangka menciptakan suatu momen istimewa di hari raya lebaran / idul fithri di mana antara satu orang dengan yang lain bisa saling memaafkan. Istilah saling halal menghalalkan ini kemudian didekatkan dengan kaidah bahasa Arab sehingga menjadi halal bi halal.



Dapat ditegaskan kembali di sini bahwa halal bi halal bukan asli istilah dari bahasa Arab, tetapi hanyalah merupakan kosakata Arab saja. Dalam syari'at Islam perintah untuk saling halal-menghalalkan atau maaf memaafkan antara satu dengan yang lain, tidak hanya terbatas pada saat lebaran atau dalam suasana idul fitri saja, tetapi berlaku sepanjang waktu, kapan saja, di mana saja bilamana telah melakukan kesalahan atau penganiayaan kepada orang lain. Imam al-Kahlani al-Shan’ani dalam kitabnya “Subul al-Salam” mengatakan bahwa berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari tersebut menunjukkan “wujub al-istihlal”, yakni kewajiban meminta maaf kepada orang yang didzalimi.

Demikian artikel singkat mengenai penjelasan tradisi halal bi halal di Indonesia. Semoga menjadi pencerahan buat kita semuanya khususnya kaum muslimin. Mari kita jelang tibanya idul fithri ini dengan memohon do'a kepada Allah SWT agar mendapat lailatul qodar: Allohumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni.
Dan akhirnya selamat hari raya iedul fithri 1434 H teriring do'a: Taqobbalallohu minna wa minkum.
Wallahu a’lam !
More about → Asal Usul Tradisi Halal Bi Halal atau Halal Bil Halal

Faktor-Faktor dan Indikator Prestasi Belajar

Dalam prosesnya, belajar ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat mempercepat atau mempelambat (sukses atau gagal). Faktor-faktor tersebut sebagaimana yang diutarakan oleh Ngalim Purwanto (tt: 102), adalah sebagai berikut:
  1. Faktor yang ada pada diri organisme sendiri sebagai faktor individual, seperti faktor kematangan atau pertumbuhan, kecerdasan, latihan, motivasi, dan faktor pribadi.
  2. Faktor yang ada di luar individu atau faktor sosial, seperti faktor keluarga, atau keadaan rumah tangga, guru dan cara mengajarnya, alat-alat yang digunakan dalam proses belajar mengajar, lingkungan dan kesempatan yang tersedia dan motivasi sosial.
Hal senada dikemukakan juga oleh Muhibbin (2001: 92), dengan istilah yang sedikit berbeda tapi pada intinya sama. Mereka mengklasifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dengan tiga faktor.

Secara global, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat kita bedakan menjadi tiga macam:
  1. Faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan atau kondisi jasmani dan rohani siswa, seperti aspek psikologis (aspek jasmani), aspek psikologis (aspek yang bersifat rohani).
  2. Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa, seperti faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan non sosial.
  3. Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.
Adapun indikator prestasi belajar menurut Abin Syamsudin Makmun (2000: 26), dengan mengutip pendapat Benyamin Bloom, indikator prestasi belajar mencakup tiga ranah, yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor. Ranah kognitif seperti pengamatan, indikatornya adalah dapat menunjukkan, membandingkan dan menghubungkan, ingatan indikatornya adalah dapat menyebutkan dan menunjukkan, pemahaman indikatornya adalah dapat menjelaskan dan mendefinisikan. Penerapan indikatornya adalah dapat memberikan contoh dan dapat menggunakan secara tepat. Analisis indikatornya adalah dapat menguraikan dan dapat mengklasifikasikan atau memilah-milah. Sintesis indikatornya dapat menghubungkan, dapat menyimpulkan dan dapat menggeneralisasikan (membuat prinsip umum).

Ranah rasa (afektif) seperti penerimaan indikatornya adalah menunjukkan sikap menerima dan menunjukkan sikap menolak. Sambutan indikatornya adalah kesediaan partisipasi atau terlibat dan kesediaan memanfaatkan. Apresiasi indikatornya adalah menganggap penting dan bermanfaat, menganggap indah dan harmonis, dan mengagumi. Internalisasi indikatornya adalah mengetahui dan meyakini dan mengingkari. Karakterisasi indikatornya adalah melembagakan atau meniadakan dan menjelmakan dalam pribadi dan perilaku sehari-hari.

Ranah karsa (psikomotor) seperti keterampilan bergerak dan bertindak indikatornya adalah mengkoordinasikan gerak mata, tangan, kaki dan anggota badan lainnya. Kecakapan ekspresi verbal dan non verbal indikatornya mengucapkan, membuat mimik dan gerakan jasmani.
More about → Faktor-Faktor dan Indikator Prestasi Belajar

Teori Tentang Prestasi Belajar Siswa

Teori Tentang Prestasi Belajar Siswa- Istilah prestasi belajar dapat didefinisikan secara sederhana seperti dikemukakan oleh Woodworth (dalam Sumadi Suryabrata, 1993: 169), dengan actual ability yang dapat diukur dengan alat atau tes tertentu.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, hal. 700), dikatakan prestasi adalah hasil yang dicapai, karena perbuatan, tindakan atau kepandaiannya sehingga dapat dibedakan antara kemampuan seseorang dengan orang lain atau hasil yang dicapai dari yang telah dilakukan.

Sedangkan istilah belajar, para pakar mendefinisikan beragam tetapi pada intinya banyak mempunyai kesamaan. Chaplin dalam bukunya "Dictionary of Psychology" sebagaimana yang dikutip oleh Muhibbin Syah (2001: 90), membatasi belajar dengan dua macam rumusan. Rumusan pertama berbunyi: belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relative menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman. Rumusan keduanya belajar ialah proses memperoleh respon-respon sebagai akibat adanya latihan khusus.

Hintzman (Muhibbin Syah, 2001: 90), berpendapat bahwa belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme (manusia dan hewan) disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut.

Sementara itu Gagne (Ngalim Purwanto, hal. 83), menyatakan bahwa belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa, sehingga perbuatannya (performance) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi.

Proses belajar mengajar pada dasarnya diarahkan agar terjadi perubahan pada siswa, baik dalam pengetahuan, keterampilan maupun pada sikapnya. Hamalik (2001: 159), mengatakan bahwa hasil belajar menunjukkan pada prestasi belajar sedangkan prestasi belajar merupakan indikator adanya derajat perubahan tingkah laku siswa.

Abin Syamsudin (2000: 185), menyatakan hasil belajar atau prestasi belajar adalah kecakapan yang segera dapat didemonstrasikan dan diuji karena merupakan hasil usaha belajar yang bersangkutan dengan cara, bahan dan dalam hal tertentu yang dijalaninya. Nana Sudjana (1995: 124), memberikan pengertian prestasi belajar atau hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa sesudah ia menerima pengalaman belajar.
More about → Teori Tentang Prestasi Belajar Siswa

Hadits Keutamaan Shaum 6 Hari di Bulan Syawal

Hadits tentang keutamaan shaum enam hari di bulan syawal di bawah ini diriwayatkan oleh beberapa ahli hadits ternama. Namun ada juga perselisihan diantara para ulama mengenai kesahihan hadits keutamaan shaum syawwal ini. Apa dan mengapa itu terjadi? dari mana landasannya? berikut adalah sepintas bahasan mengenai derajat hadits keutamaan shaum 6 hari di bulan syawwal:

Redaksi Hadits keutamaan syaum enam hari di bulan syawal:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Siapa saja yang berpuasa Ramadhan kemudian melanjutkannya dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, ia seperti berpuasa sepanjang masa. (HR Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibn Majah, an-Nasa’i, Ahmad, ad-Darimi, al-Baihaqi dan Ibn Hibban)

Imam Muslim berkata, hadis ini dituturkan dari Yahya ibn Ayyub, Qutaibah ibn Sa’id dan Ali ibn Hujrin; semuanya dari Ismail. Ibn Ayyub juga berkata, hadis ini dituturkan dari Ismail ibn Ja’far, dari Saad ibn Said ibn Qays, dari Umar ibn Tsabit ibn al-Harits al-Khazraji, dari Abu Ayyub al-Anshari ra., dari Rasulullah saw.

Adapun Imam at-Tirmidzi meriwayatkan hadis tersebut dari Ahmad ibn Mani’, dari Abi Muawiyah, dari Saad ibn Said, dari Umar ibn Tsabit, dan dari Abu Ayyub al-Abshari. Imam Tirmidzi berkata, “Hadis Abu Ayyub ini hadis hasan sahih.”

Dalam sanad hadis di atas terdapat satu perawi yang diperselisihkan. Imam at-Tirmidzi berkata, “Sebagian ahli hadis mempermasalahkan Saad ibn Said dari sisi hapalannya.”

Al-Mubarakfuri1 berkomentar: Al-Hafizh Ibn Hajar berkata di dalam At-Taqrîb, “Saad ibn Said ibn Qays ibn Amru al-Anshari, saudaranya Yahya, adalah seorang yang jujur, namun hapalannya buruk, termasuk thabâqât keempat.”

Sekalipun demikian, Imam at-Tirmidzi mensahihkan hadis di atas. Al-Mubarakfuri menjelaskan, “Yang jelas, bahwa pensahihan beliau adalah karena banyaknya jalan periwayatan hadis tersebut. Sudah dijelaskan dalam Muqadimah (mukadimah Tuhfah al-Ahwâdzî, pen.) bahwa adakalanya Imam at-Tirmidzi mensahihkan hadis karena beragamnya jalan periwayatan. Apalagi Saad (dalam hadis di atas) tidak menyendiri (dalam meriwayatkannya), tetapi diikuti oleh Shafwan ibn Sulaim.”

Terdapat banyak riwayat lain yang semakna. Di antaranya riwayat yang dituturkan oleh Abu Hurairah, diriwayatkan oleh al-Bazar, ath-Thabrani dan Abu Nu’aim. Menurut al-Mubarakfuri, riwayat al-Bazar dan ath-Thabrani tersebut adalah hasan. Al-Mundziri sendiri mengatakan, salah satu jalur riwayat al-Bazar adalah sahih. Demikian juga riwayat yang dituturkan oleh Tsauban, mawla Rasulullah saw, diriwayatkan oleh Ibn Majah, an-Nasai, Ahmad, ad-Darimi, al-Bazar, Ibn Hibban dan Ibn Khuzaimah di dalam Shahîh-nya. Juga riwayat yang dituturkan oleh Bara’ ibn Azib yang diriwayatkan oleh ad-Daraquthni.2

Makna Hadits

Dari berbagai riwayat tersebut, dapat di istinbâth bahwa puasa enam hari pada bulan Syawal hukumnya adalah sunah. Ini pendapat Ibn al-Mubarak, Hasan Bashri, asy-Syafii, Ahmad dan mayoritas ulama. Pelaksanaannya, menurut mayoritas fukaha, bisa dilakukan sepanjang bulan Syawal baik di awal, tengah maupun akhir. Pelaksanaannya bisa berurutan ataupun terpisah-pisah.

Adapun Imam Malik dalam al-Muwatha’ dan Abu Hanifah berpendapat, puasa enam hari pada bulan Syawal itu hukumnya makruh. Alasannya, karena Imam Malik tidak mengetahui seorang pun dari ulama dan fukaha salaf yang menjalankannya dan karena khawatir orang awam akan mengaitkannya dengan Ramadhan; atau alasan Abu Hanifah dan Malik, karena bisa jadi orang akan menganggapnya wajib. Pendapat tersebut adalah keliru.3 Alasannya: Pertama, jelas ada pemisah dengan puasa Ramadhan, yaitu hari Idul Fitri. Kedua, tidak adanya orang yang menjalankannya tidak bisa dijadikan alasan untuk menolak as-Sunnah. Ketiga, karena sunnah puasa enam hari pada bulan Syawal itu dinyatakan di dalam as-Sunnah dengan sangat jelas.

Puasa Ramadhan diikuti enam hari pada bulan Syawal itu “seperti puasa sepanjang masa”—dalam riwayat lain dinyatakan “seperti berpuasa setahun penuh”—karena Allah Swt. berfirman:

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا
Siapa saja yang membawa amal yang baik, baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya (QS al-An‘am [6]: 160).
Dengan demikian, puasa Ramadhan sebanding dengan puasa sepuluh bulan, dan puasa enam hari sebanding dengan puasa enam puluh hari atau dua bulan sehingga genap dua belas bulan atau setahun penuh. Itu pula yang dijelaskan oleh riwayat Tsauban, mawla Rasulullah saw. Ia berkata, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

صِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بِشَهْرَيْنِ فَذَلِكَ صِيَامُ سَنَّةٍ
Puasa Ramadhan sebanding dengan puasa sepuluh bulan dan puasa enam hari sebanding dengan puasa dua bulan, dan itu sebanding dengan puasa setahun (HR an-Nasa’i)

Hadis yang semakna dengan redaksi sedikit berbeda diriwayatkan oleh Ahmad, Ibn Majah, ad-Darimi, Ibn Hibban dan al-Baihaqi. Jadi, puasa Ramadhan yang diikuti enam hari di bulan Syawal seperti puasa setahun penuh. Jika setiap tahun seseorang berpuasa demikian maka ia bagaikan berpuasa sepanjang masa.

Wallâh a‘lam wa ahkam.

Pustaka:
1 Al-Mubarakfuri, Tuhfah al-Ahwâdzî, III/388-390, Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut. tt.
2 Al-Mubarakfuri, Ibid; Al-Haytsami, Majma’ az-Zawâ’id, III/183-184, Dâr ar-Rayân li at-Turâts- Dâr al-Kitâb al-‘Arabi, Kaero-Beirut. 1407; Asy-Syaukani, Nayl al-Awthâr, IV/322, Dâr al-Jayl, Beirut. 1973. 3 Al-Mubarakfuri, Ibid; asy-Syaukani, Ibid; an-Nawawi, Syarh Shahîh Muslim, VIII/56, Dâr Ihyâ’ at-Turâts al-‘Arabi, Beirut, cet. II. 1392; Mahmud Abd al-Lathif ‘Uwaidhah, al-Jâmi’ li Ahkâm ash-Shiyâm, hlm. 146-147, Muassasah ar-Risalah, Beirut, cet. II. 2005.
More about → Hadits Keutamaan Shaum 6 Hari di Bulan Syawal

Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelegent) dan Peranan Sekolah

Seorang psikolog bernama Howard Gardner pada tahun 1983 memelopori kemunculuan teori kecerdasan majemuk (Multiple Intellegences). Gardner memandang kecerdasan tidak semata-mata berdasarkan skor tertentu yang telah memiliki nilai standar, melainkan berdasarkan ukuran kemampuan yang dikuasai oleh individu pendekatan ini mencoba memahami bagaimana pikiran individu dalam menjalankan kehidupan.

Intellegensi majemuk memandang kecerdasan manusia berdasarkan penguasaan kemampuan yang dimilikinya tidak semata-mata berdasarkan suatu nilai yang telah distandarisasi juga kecerdasan tidak berdasarkan kemampuan logika atau bahasa saja namun memiliki kecerdasan-kecerdasan yang lain yang selama ini tidak menjadi perhatian.

Peranan sekolah memberikan kesempatan kepada anak untuk menembangkan aspek kecerdasan majemuk seperti kecerdasan visual spasial musikal kinestetik, naturalistik, intra personal dan antar personal dan tantangan bagi guru / pendidik adalah menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif untuk mengembangkan model pembelajaran yang sesuai dengan kadar kecerdasan majemuk yang dimiliki oleh setiap anak.

Kecerdasan Majemuk dan peranan sekolah dalam membuat suatu strategi dalam belajar menurut Gardner kecerdasan terbagi jadi:

1) Kecerdasan Linguistik (word smart)
Kecerdasan dalam mengolah kata-kata atau kemampuan menggunakan kata atau kemampuan menggunakan kata secara efektif baik secara lisan / tertulis / tertulis kecerdasan ini memiliki 4 keterampilan yaitu: menyimak, mendengar, menulis, membaca:
a) Tujuan mengembangkan kecerdasan linguistik
- Agar anak mampu berkomunikasi
- Memiliki kemampuan
- Mampu mengingat dan menghafal
- Mampu memberikan penjelasan
- Mampu membahas bahasanya sendiri
b) Materi program kurikulum yang dapat mengembangkan kecerdasan linguistik adalah abjad ejaan membaca menulis, menyimak dan berbicara dan lain-lain.
v Peran sekolah dalam mengembangkan kecerdasan linguistik adalah:
- Mengajarkan berbicara yang baik pada anak
- Membacakan cerita
- Mengajarkan bermain huruf
- Mengajarkan merangkai cerita
- Mengajarkan berdiskusi
- Mengajarkan bermain peran
- Mendengarkan lagu anak-anak

2) Kecerdasan Logika Matematika (logic smart)

Kecerdasan logis matimatis adalah kecerdasan dalam hal dan logika juga juga melibatkan keterampilan mengolah angka / kemahiran menggunakan logika / akal sehat.
v Peran sekolah dalam mengembangkan kecerdasan logika matematika yaitu:
- Mengajarkan cara bermain suatu permainan seperti puzzle, ular tetangga dan lain-lain
- Mengenakan bentuk geometri
- Mengenakan bilangan melalui sajak berirama dan lagu.
- Mengajarkan cara berdiskusi
- Mengajarkan pengenalan pola permainan
- Mengajarkan bereksperimen di alam
- Memperkaya pengalaman berinteraksi dengan konsep matematika.

3) Kecerdasan Fisik (body smart)
Kecerdasan fisik adalah suatu kecerdasan dimana saat menggunakannya kita mampu melakukan gerakan-gerakan yang bagus, berlari, menari semua seni dan hasta karya.
v Peran sekolah dalam menstimulasi kecerdasan fisik
- Mengadakan pasilitas bagi perkembangan anak
- Mengajarkan menari
- Mengajarkan bermain peran
- Mengajarkan bermain drama
- Mengajarkan latihan fisik
- Mengajarkan pantonim/sandiwara (tanpa mengeluarkan bahasa)
- Mengajarkan berbagai jenis olahraga

4) Kecerdasan Visual Spasial (picture smart)
Visual spasial adalah salah satu dari multiple intelegen yang terdiri dari 8 kecerdasan yang berhubungan erat dengan kemampuan untuk memvisualisasikan didalam pikiran seseorang.
Materi program dalam kurikulum yang dapat mengembangkan kecerdasan visual spasial vidio, gambar menggunakan model/diagram.
v Peran sekolah dalam mengembangkan kecerdasan visual spasial ialah :
- Mengajarkan cara menggambar melukis yang baik
- Membimbing bakat yang dimiliki seorang anak dibidang menyanyi, mengenal, juga membayangkan suatu konsep
- Mengajarkan membuat prakarya
- Membimbing dalam mengunjungi sebuah tempat
- Melakukan permainan konstruktif dan kreatif
- Membimbing dalam hal mengatur dan merancang sesuatu hal misal mengatur/menata suatu ruangan

5) Kecerdasan Intra Personal (self smart)

Kecerdasan intra personal adalah kemampuan kita untuk berfikir secara reflektif mengenai perasaan dan proses pemikiran diri sendiri
v Peran sekolah dalam mengembangkan kecerdasan intrapersonal anak :
- Menciptakan citra diri positif
- Menciptakan suasana sekolah yang mendukung pengembangan kemampuan intrapersional dan penghargaan diri anak.
v Cara pengembangannya adalah
- Mengembangkan dukungan kelompok
- Menetapkan aturan tingkah laku
- Memberi kesempatan bertanggung jawab dirumah
- Bersama-sama menyelesaikan konflik
- Melakukan kegiatan sosial dilingkungan
- Menghargai pendapat
- Menumbuhkan sikap ramah
- Melatih kesabarannya

6) Kecerdasan Musikal (music smarth)
Kecerdasan musical adalah kemampuan menangani bentuk-bentuk musical dengan cara mempesepsi, memebedakan, mengubah mengekspresikan.
v Peran sekolah dalam mengembangkan kecerdasan musical yaitu:
- Memberi kesempatan pada anak didik untuk melihat kemampuan yang ada pada diri mereka
- Memberikan stimulus-stimulus ringan untuk mereka agar lebih termotivasi
- Pengalaman empiris yang praktis
v Strategi pengajaran untuk kecerdasan musical
- Irama lagu, rap dan senandung
- Dis kografi
- Music super memori
- Konsep musical
- Music suasana

7) Kecerdasan Natural (nature smart)
Kecerdasan naturalis adalah keahlian mengenali dan mengkategorikan spesies, dilingkungan sekitar, mengenali eksistensi suatu spesies meletakan hubungan antara beberapa spesies
v Peran sekolah dalam mengembangkan kecerdasan naturalis:
- Beri kesempatan pada anak didik agar dia tau kemampuan yang dimilikinya
- Ceritakan kondisi akhir sebagai keteladanan dan inspirasi bagi mereka
- Kegiatan yang dimaksud dalam kecerdasan naturalis misal karya wisata ke kebun binatang
v Strategi pembelajaran kecerdasan naturalis
- Belajar di alam terbuka
- Tanaman sebagai dekorasi untuk ilustrasi konsep mengamati prilaku binatang
- Eko study (ekologi yang integrasikan ke dalam setiap bagian pengajaran disekolah

8) Kecerdasan Eksternal
Kecerdasan eksternal adalah kemampuan menempatkan diri dalam hubungan dengan jangkauan kosmos terjauh yang tak terhingga besarnya, kecilnya dan kemampuan lain yang terkait serta pengalaman mendalam seperti cinta pada sesama / keterlibatan total dalam karya seni.
v Peran sekolah dalam mengembangkan ekstensial ialah:
- Mengajarkan agar tekun dalam menuntun ilmu dan menggabungkan masalah eksistensial ke dalam karyanya.
- Memberikan kesempatan agar mereka dapat mengembangkan apa yang mereka pelajari
More about → Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelegent) dan Peranan Sekolah

Pengertian Arti Pembelajaran Tematik

Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna bagi siswa (Kurikulum 2006)

Pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar siswa secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Melalui pengalamna langsung siswa akan memahami konsep-konsep yang dipelajarinya. Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing).

Tujuan Pembelajaran Tematika
  1. Peserta didik mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu Karen materi disajikan dalam konteks tema yang jelas.
  2. Peserta didik mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar mata pelajaran.
  3. Pemahaman terhadap materi pembelajaran lebih mendalam dan berkesan.
  4. Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik karena mengaitkan berbagai mata pelajaran dengan pengalaman pribadi dalam situasi nyata yang diikat dalam tema tertentu.
  5. Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkan sekaligus.
Manfaat Pembelajaran Tematik
  1. Dengan menggabungkan beberapa kompetensi dasar dan indikator serta mata pelajaran akan terjadi penghematan, karena tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan dihilangkan.
  2. Peserta didik mampu melihat hubungan yang bermakna antara mata pelajaran.
  3. Pembelajaran menjadi utuh sehingga peserta didik akan dapat pengertian mengenai proses dan materi yang tidak terpecah - pecah.
Karakteristik Pembelajaran Tematik
Sebagai suatu model pembelajaran di sekolah dasar, pembelajaran tematik memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut :
1. Berpusat pada siswa
Hal ini sesuai dengan pendekatan belajar moderen yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek belajar sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator yaitu memberikan kemudahan – kemudahan kepada siswa untuk melakukan kemudahan .
2. Memberikan pengalaman langsung.
Dengan pengalaman langsung ini siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata (kongkrit) sebagai dasar untuk mempelajari yang lebih abstrak
3. Pemisahan Mata Pelajaran tidak begitu jelas
Pokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.
4. Menyajikan konsep dari berbagai mat pelajaran
Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam satu proses pembelajaran. Dengan demikian, siswa mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini diperlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari .
5. Bersifat Fleksibel
Pembelajaran tematik bersifat fleksibel dimana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran ke mata pelajaran yang lain bahkan dapat mengaitkan dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan dimana sekolah dan siswa berada.
6. Hasil Pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa.
Siswa diberi kesemptan untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki sesuai dengan minat dan kebutuhannya.
7. Menggunakan prinsif belajar sambil bermain.

Rambu- Rambu Pembelajaran Tematik
  1. Tidak semua mata pelajaran harus dipadukan
  2. Dimungkinkan terjadi penggabungan kompetensi dasar lintas semester pada kelas yang sama.
  3. Kompetensi dasar yang tidak dapt dipadukan, jangan dipaksakan, namun dapat dipelajarkan melalui tema lain maupun disajikan secara tersendiri.
  4. Kegiatan pembelajaran ditekankan pada kemampuan membaca, menulis dan berhitung serta menanamkan nilai moral.
  5. Setiap kegitan pembelajaran hendaknya selalu menggunakan alat peraga sesuai dengan tujuan.
  6. Jumlah tema yang dipilih atau yang ditentukan oleh masing-masing sekolah disesuaikn dengan karakteristik siswa, minat, lingkungan dan derah setempat. Agar pelaksnaan dapat optimal, jumlah peseta didik disesuaikan dengan jumlah guru di kelas.
Demikian bahasan mengenai pembelajaran tematik di sekolah. Semoga bermanfaat.
More about → Pengertian Arti Pembelajaran Tematik