Tanggung Jawab Muslim Terhadap Agama

Mengucapkan dua kalimat syahadat menjadi syarat pada tingkat pertama bagi seseorang yang hendak memeluk dan berpindah kepada agama Islam, hingga keislamannya itu sah dan diterima oleh Allah SWT.
Dua kalimat syahadat itu redaksinya sebagai berikut:
أَشْهَدُ ألا إله الا الله و أشْهَدُ ان مُحَمدا رَسُوْل الله
"Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan aku mengakui (bersaksi) bahwa Muhammad itu Rasul atau utusan Allah SWT". 
Kalimat pertama dari syahadat tersebut dinamai syahadat tauhid, yaitu pengakuan tentang keesaan ALLAH SWT, sedang kalimat kedua dinamai syahadat Rasul, yaitu pengakuan tentang kerasulan Nabi Muhammad SAW, bahwa beliau benar-benar utusan Allah SWT yang ditugaskan untuk menyampaikan agama kepada seluruh umat manusia.
Kedua kalimat syahadat itu merupakan kesatuan yang tak dapat dipisah-pisahkan. Orang yang hanya mengakui keesaan Allah, tetapi tidak mengakui kerasulan Muhammad, maka kesilamannya tidak sah.
Syahadat itu merupakan ikrar atau suatu perjanjian antara seseorang hamba dengan Allah SWT, bahwa ia akan selalu taat kepada-Nya. Maka setelah mengucapkan dua kalimat syahadat itu, mulailah terpikul di atas pundak orang yang sangkutan tanggung jawab sebagai seorang muslim.
Adapun tanggung jawab pertama ialah mempelajari seluk beluk agama Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah, serta mentaati dan mengamalkannya dengan sebaik-baiknya dalam kehidupan sehari-hari. Sebab tanpa taat dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya itu, berarti ia telah mengingkari syahadatnya dan belum dapat dinyatakan sebagai muslim yang sebenarnya.
Sedang ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya itu menjadi pokok pangkal bagi keselamatan dan kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat. Firman Allah SWT:
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
"Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan, yaitu kemenangan yang besar". (QS. Al-Ahzab: 71).
Di samping itu setiap Muslim bertanggung jawab pula untuk menyampaikan ajaran-ajaran agama itu kepada orang lain, yang berarti mengajak mereka kepada jalan yang benar dan lurus yang diridhai Allah, dan mencegah mereka dari jalan yang munkar. Mereka tidak boleh dibiarkan tenggelam dalam perbuatan jahat dan maksiat dan semua yang tidak sesuai dengan ajaran agama, sehingga masyarakat dapat diselamatkan dari kekacauan, kehancuran serta terhindar dari bencana dan hukuman Allah SWT. Membiarkan mereka berbuat jahat dan mungkar adalah merupakan perbuatan dosa, sebab berarti menyetujui perbuatan yang demikian itu. Firman Allah SWT:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
"Dan hendaklah kamu menjadi segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung". (QS. Ali Imran: 104)
Menyeru dan mengajak manusia kepada jalan agama Allah SWT itu hendaklah dengan cara bijaksana, memberikan nasihat dan bertukar fikiran yang baik. Semuanya dilakukan dengan akhlak yang mulia, pembawaan yang menarik, lemah lembut, sopan dan tidak kasar. Sebab sesuatu keyakinan yang dipaksakan atau diajarkan dengan kasar, hanyalah akan lebih menjauhkan orang dari agama yang diajarkannya itu. Firman Allah SWT:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
"Serulah (semua manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik". (QS. An-Nahl: 125).
Selanjutnya firman Allah SWT:
 فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
 "Maka disebabkan rahmat dari Allah, kamu berlaku lemah lebut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu". (QS. Ali Imran: 159).
Demikian artikel tentang tanggung jawab muslim terhadap agama, semoga artikel ini menjadi sebuah pelajaran dan renungan yang dapat bermanfaat.
More about → Tanggung Jawab Muslim Terhadap Agama

Tips Cara Belajar dan Menghafal Yang Baik

Pembaca Arena Sahabat, postingan kali ini akan membahas tentang bagaimana cara menghafal dan belajar yang baik, efektif dan juga menyenangkan.

Sudah seharusnya bagi kita sebagai manusia yang selalu ingin ada perubahan dalam kehidupan merubah dan terus meningkatkan gairah belajar kita. Belajar merupakan satu-satunya cara menuju sampainya kepada cita-cita yang kita harapkan.

Seorang pelajar dan pembelajar sejati memiliki jiwa dan mental yang giat dan selalu tekun dalam belajar. Selanjutnya bagaimana cara dan tips belajar yang baik efektif dan juga tepat untuk seorang pembelajar sejati?. Dan apa saja yang harus dilakukan agar hasil ideal belajar kita bisa optimal?.

Simak artikel berikut bagaimana tips cara belajar dan menghafal :

Belajarlah Secara Kelompok
Untuk menghindari rasa bosan dalam belajar lakukanlah belajar secara kelompok bareng teman. Belajar kelompok salah satu cara belajar yang baik dan efektif. Dengan belajar kelompok kegiatan belajar akan menjadi sangat menyenangkan karena ada temannya. Belajar secara kelompok sebaiknya mengajak teman yang pandai dan rajin belajar agar bisa termotivasi dan ketularan pintar. Tetapi ada juga waktu yang harus disediakan untuk belajar secara sendirian di tempat yang sepi, dan belajar secara berkelompok ini dilakukan pada saat-saat tertentu saja.

Biasakan Menulis Intisari dari Buku atau Pelajaran yang didapat
Ketika mendapatkan pelajaran di manapun berada coba anda salin pada book note yang selalu anda bawa ke mana saja. Ketika membaca sebuah buku, selalu ada bagian-bagian yang penting. Nah bagian yang penting ini sebaiknya dibuat catatan di buku tersendiri. Bagi anda seorang pelajar cara belajar yang baik dengan merangkum bahan atau materi pelajaran juga sangat berguna saat menghadapi ujian.

Biasakanlah Disiplin Dan Juga Tekun
Kunci ini (Disiplin dan Tekun) adalah sikap orang sukses. Sukses dalam belajar harus bisa merubah kualitas belajar agar lebih baik. Walaupun hanya 1-2 jam sehari tapi kalau di lakukan setiap hari pasti akan lebih baik dari pada belajar dalam waktu yang sangat lama pada waktu tertentu saja. Misalnya hanya belajar kalau ada ulangan atau ujian saja.

Biasakanlah Bertanya Kalau Belum Paham
Pertanyaan muncul ketika merespon pelajaran dan dianggap itu adalah menarik. Awalnya muncul dari otak bertanya-tanya kepada diri kita sendiri dan selanjutnya ditanyakan kepada orang yang dekat dengan kita.
Sebagai seorang pembelajar saat guru selesai membahas satu mata pelajaran biasanya bertanya pada murid muridnya. Apakah sudah jelas? Saat itu jangan ragu dan takut untuk bertanya kalau memang kurang paham atau kurang mengerti.

Hindarilah Sikap dan Sifat Tidak Jujur
Siapa pun orangnya tidak menyukai sikap dan sifat tidak jujur. Sekarang ini banyak siswa membuat catatan untuk mencontek saat ada ulangan atau ujian. Dengan belajar dengan jadwal yang teratur seorang murid akan selalu siap jika ada ulangan dadakan dan tidak perlu mencontek. Bagaimana dengan tips cara belajar yang baik diatas mungkin masih belum bisa meningkatkan hasil belajar anda?

Ciptakan dan Buat Suasana Belajar yang Kondusif
Ruang dan tempat belajar juga sarana penunjang lain sangat menentukan kualitas dalam belajar seseorang. Seorang pembelajar harus bisa menciptakan suasana yang kondusif, nyaman dan tenang untuk belajar. Cara ini merupakan salah satu cara belajar yang baik karena bagaimanapun jika ingin materi yang kamu pelajari itu bener-bener masuk ke otakmu, kamu harus tenang dan dalam keadaan yang nyaman. Sehingga nggak mengganggu konsentrasi. Belajar di luar ruangan mungkin adalah pilihan yang cukup baik, karena selain lebih fresh, kita juga bisa lebih tenang dan nggak penat dalam belajar.

Perhatikan Inti Materi dan garis besarnya
Jika mulai mempelajari sesuatu dan atau membaca pelajaran yang dianggap baru, tidak harus langsung menceburkan diri kedalamnya. Kamu bisa lebih meningkatkan pemahaman bila melihat sepintas garis besarnya. Ketika membaca sebuah buku perhatikan dan lihat-lihatlah terlebih dahulu semua subjudul, keterangan gambar dan ringkasan yang ada. Jika membaca bacaan yang cukup panjang, maka bacalah dahulu kalimat pertama dari setiap paragrafnya.

Buatlah Ringkasan Materi Pelajaran
Tips cara belajar dengan teknik meringkas intisari dari pelajaran. Kalau kamu meringkas materi dari setiap bahan pelajaran ke dalam sebuah catatan kecil, maka akan sangat membantumu mengingat bahan pelajaran itu. Pada saat kamu menulisnya, kamu pasti membaca materinya lagi, bener kan? Itu akan membuatmu cepat hafal materinya. Sebaiknya catatan itu ditulis kedalam buku kecil atau kertas yang bisa dibawa kemana-mana, sehingga bisa dibaca kapan dan dimanapun kamu berada. Tips Cara belajar yang baik bukan?

Latihlah Teknik Kemampuan Mengingat
Otak mempunyai daya tampung yang luar biasa untuk menyimpan apapun materi pelajaran atau pembelajaran. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengingat, diantaranya mengingat dengan cara mengingat materi hafalan dengan cara mengubah menjadi sebuah singkatan atau kata kunci (Mnemonics) dengan formulasi yang mudah diingat-ingat. Seperti MeJiKuHiBiNiU untuk singkatan-singkatan dari warna pelangi, yaitu Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila dan Ungu. Walaupun kamu jika menghafal langsung dalam 1 minggu sudah lupa, dengan menggunakan mnemonics seperti ini kamu bisa ingat sampai puluhan tahun lamanya.

Biasakanlah Belajar dengan Tekun dan Rutin.
Tekun dan rutin adalah sikap yang harus dibiasakan dalam belajar. Belajar tepat waktu dan serius juga sangat berpengaruh dalam peningkatan prestasi belajar, apabila kamu jarang belajar maupun hanya belajar jika akan ada ulangan pasti prestasinya gak akan maksimal. Jadi belajarlah dengan tekun dan rutin selagi ada waktu untuk belajar. Juga jangan belajar dengan tergesa-gesa pada hari terakhir sebelum ulangan, cara belajar yang baik seperti itu hasilnya juga nggak akan maksimal.

Demikian tips cara belajar dan menghafal yang baik, pastinya bagi yang melakukan tips dan cara di atas prestasi belajar akan meningkat dan kehidupan di masa datang akan berubah ke arah yang lebih baik. Semoga kita mendapat bimbingan dan arahan Allah SWT, aminn..
Terima kasih telah berkunjung dan berkenan membaca artikel ini.
More about → Tips Cara Belajar dan Menghafal Yang Baik

Kerjasama Usaha Bisnis dalam Ajaran Islam

Istilah atau definisi kerjasama usaha atau disebut juga syarikat, yaitu persekutuan antara dua orang atau lebih untuk mengadakan usaha, guna mendapatkan keuntungan bersama. Keuntungan ini dibagi di antara mereka berdasarkan ketentuan yang telah disepakati.
Kerjasama ini sangat penting dalam kehidupan manusia, yang dapat menimbulkan rasa setia kawan, sehingga mereka saling membantu dan bertolong-menolong (ta’awun alal birri) mencari rizki yang halal serta mewujudkan kesejahteraan hidup mereka. Sedang tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan adalah suatu keharusan yang utama dalam agama Islam.

Firman Allah SWT:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ
“Dan tolong-menolonglah kamu pada kebaikan dan ketakwaan, dan jangan bertolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan”. (QS. Al-Maidah : 2)
Manusia di alam dunia ini tidak mungkin dapat hidup sendiri-sendiri dalam mencukupi keperluannya masing-masing, sehingga mereka memerlukan kerjasama, baik dalam bidang perdagangan maupun dalam bidang pertanian. Sebab ada orang yang mempunyai modal, tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk menjalankan modal itu. Sebaliknya ada orang yang mempunyai tenaga dan kemampuan, tetapi tidak mempunyai modal. Atau mereka hanya mempunyai modal yang kecil saja, yang apabila dikumpulkan bersama menjadi modal yang besar, tentu akan mendapat keuntungan yang besar pula.

Dalam bidang pertanian juga demikian, ada orang yang mempunyai sawah atau kebun, tetapi mereka tidak mampu mengurus dan menanaminya untuk mendapatkan hasil. Sebaliknya ada orang yang mempunyai tenaga dan kemampuan untuk menggarap, tetapi tidak mempunyai lahan sawah atau kebun untuk digarap.

Demikian pula dalam mengerjakan suatu pekerjaan besar, seperti mengerjakan sebuah bangunan yang tidak mungking hanya dikerjakan oleh seorang diri, tetapi perlu diselesaikan oleh beberapa orang tenaga kerja yang mempunyai keahlian yang sama atau berbeda-beda.

Hal-hal tersebut di atas menunjukkan betapa perlunya orang mengadakan kerjasama usaha, untuk mendapatkan hasil atau keuntungan bagi kesejahteraan hidup mereka.

Kerjasama hendaklah dilandasi keikhlasan dan kejujuran, hingga tidak terjadi pengkhianatan, yang sangat merugikan bagi kerjasama tersebut. Hak-hak dan kewajiban anggota seperti pembagian keuntungan atau hasil harus berdasarkan keputusan musyawarah yang dita’ati oleh setiap anggota.

Kerjasama dalam bidang perdagangan. Jenis kerjasama dalam bidang perdagangan ada beberapa macam: diantaranya syarikat ‘inan atau harta, ialah perjanjian antara dua orang atau lebih untuk bersyarikat pada sejumlah harta yang tertentu atau menjalankan dengan maksud hendak mendapatkan keuntungan. Termasuk dalam hal ini Firma, Koperasi, dan Perseroan Terbatas.

Modal hendaklah jenis barang yang telah disepakati bersama, seperti uang, beras dan sebagainya, yang dapat ditakar, diukur dan ditimbang, sehingga jelas perbandingan modal masing-masing. Berdasarkan perbandingan tersebut dapatlah ditentukan keuntungan atau kerugian yang mungkin terjadi nanti bagi masing-masing anggota.

Setiap anggota di samping memberi modal boleh pula bekerja menjalankan harta syarikat, dan boleh pula yang bekerja itu hanya sebagian saja menurut kesepakatan bersama. Usaha bersama ini termasuk perbuatan terpuji yang dianjurkan oleh agama, dengan syarat masing-masing anggota bersikap jujur dan tidak khianat mengkhianati. Semua pekerjaan haruslah berasaskan kemashlahatan dan keuntungan bersama.

Sedangkan jenis usaha dalam bidang perdagangan berikutnya yaitu qirodh, yaitu memberi modal kepada orang lain buat diperdagangkan sedang keuntungan akan dibagi menurut perjanjian sewaktu akad.

Qirodh ini berlandaskan kepada sunnah fi’liyah (perilaku Nabi Muhammad SAW) sendiri, sewaktu beliau menerima modal dari Siti Khodijah buat diperdagangkan ke Negeri Syiria, juga berdasarkan ijma’ para sahabat. Dari masa jahiliah qiradh ini sudah dijumpai, kemudian oleh Islam disetujui.

Rukun yang harus ada pada kerjasama qiradh ini adalah sebagai berikut:
  • Modal, hendaklah diketahui dengan jelas banyaknya.
  • Pekerjaan, yaitu yang bekerja bebas menentukan jenis barang yang diperdagangkan, tempat berdagang dan cara kerjanya, asal ada harapan akan beroleh keuntungan yang halal.
  • Keuntungan, dibagi berdasarkan perjanjian yang telah ditentukan sewaktu akad.
  • Pemilik modal dan yang bekerja, hendaklah yang sudah baligh lagi berakal.
Kerjasama berikutnya dalam bidang perdagangan adalah syarikat kerja, ialah permufakatan di antara dua atau lebih untuk mengerjakan atau mengusahakan suatu pekerjaan, sedang hasilnya akan dibagi menurut perjanjian, umpamanya mendirikan bangunan, mencari ikan atau berburu dan lain sebagainya.

Jenis pekerjaan boleh berbeda menurut keahlian masing-masing, seperti tukang kayu, tukang batu, tukang besi, dan sebagainya. Demikian pula tenaga yang mereka keluarkan mungkin tidak sama. Karena itu besar kecilnya penghasilan seseorang ditentukan pula oleh berat ringannya tugas atau tanggung jawab.

Adapun kerjasama dalam bidang pertanian merupakan salah satu cara berusaha yang terpuji yang ada petunjuk teknisnya dalam agama Islam, karena mengandung unsur tolong menolong (ta’awun) dan bergotong-royong, seperti dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya Qur’an Surat Al-Maidah ayat 2 di atas.

Berikut ini akan dibahas mengenai musaqah, muzara’ah dan mukhabarah, yaitu kerjasama bagi hasil dalam pertanian, baik perkebunan maupun pertanian.

Musaqah (paroan kebun) ialah bila pemilik kebun menyerahkan pemeliharaan kebunnya kepada orang lain, sedang hasil tanaman akan dibagi menurut perbandingan yang telah disetujui sewaktu akad. Musaqah ini telah ada tuntunannya dari masa Nabi SAW berdasarkan sebuah hadits:

“Dari Ibnu Umar RA bahwa Nabi SAW menyerahkan pemeliharaan tanahnya kepada penduduk khaibar, dengan perjanjian mereka akan beroleh sebahagian dari hasilnya, baik berupa buah-buahan maupun tanam-tanaman” (HR. Muslim).

Muzaraah dan mukhabarah (paroan sawah dan ladang) ialah paroan sawah atau ladang, sedang benihnya dari pemilik tanah. Mukhabarah ialah paroan sawah atau ladang, sedang berihnya dari penggarap.

Muzaraah dan mukhabarah ini juga dianjurkan. Keterangan atau alasannya ialah hadits di atas yang menyatakan: “Baik berupa buah-buahan maupun hasil tanam-tanaman”.

Demikain jenis dan macam kerjasama usaha bisnis dalam Islam yang telah jelas cara dan tuntunannya. Semoga bermanfaat.
More about → Kerjasama Usaha Bisnis dalam Ajaran Islam

Jenis Sifat Jelek Teman dan Sahabat yang Harus Dihindari

Teman atau sahabat adalah orang tempat kita berinteraksi dalam segala hal di kehidupan kita sehari-hari. Manusia sangat membutuhkan sekali teman berbagi dalam suka dan duka atau dalam kondisi apapun.

Perlu diketahui bahwa ada beberapa jenis sahabat atau teman yang terkadang sering menjengkelkan kita, tentunya sifat teman di bawah ini pun juga tidak boleh ada pada diri kita sebab bisa jadi akan menjadi masalah dalam pertemanan dan persahabatan. Jenis teman yang tidak disukai tersebut diantaranya:

Teman atau sahabat yang sukanya menjatuhkan
Ada orang-orang dalam lingkaran teman Anda yang selalu memanfaatkan kesempatan untuk menjatuhkan Anda. Mereka lebih senang membicarakan kelemahan Anda atau menganggap Anda tidak mampu dalam suatu hal Mereka adalah orang yang membuat hidup Anda sengsara dan menyebabkan harga diri Anda untuk turun.

Teman atau sahabat yang suka mengontrol
Jenis teman sangat berbahaya bagi pengaruh kuat mereka pada Anda. Mereka akan selalu mengkritik dan membuat Anda merasa sangat buruk. Anda tidak pernah bisa memenangkan argumen dengan mereka karena mereka "selalu benar". Mereka tidak mendengarkan pandangan Anda. Mereka sering mencuci otak Anda untuk melakukan hal-hal yang biasanya tidak akan melakukannya.

Teman atau sahabat yang munafik
Di depan Anda dia sangat baik. Namun di belakang Anda dia sering membicarakan keburukan Anda. Well, jauhi saja teman seperti ini. Mereka hanya akan merusak kebahagiaan hidup Anda.

Teman atau sahabat yang oportunis
Mereka adalah teman yang kadang datang dan pergi dalam kehidupan Anda. Mereka hanya mendatangi Anda ketika butuh bantuan Anda. Setelah itu, mereka akan melupakan Anda. Tentu Anda pernah menjumpai teman semacam ini bukan?

Teman atau sahabat yang pelit
Sebagai teman sudah seharusnya mempunyai sikap saling tolong-menolong. Namun hal ini tidak berlaku bagi anak yang pelit. Menolong orang lain bagi mereka seperti menutup jalan kesuksesan untuk dirinya. Sehingga dia tidak mau membantu, berbagi pada Anda.

Teman atau sahabat yang sok tahu
Mereka menganggap tahu segalanya dibandingkan dengan Anda. Mereka tidak mau tersaingi dan ingin menjadi yang terbaik meskipun sebenarnya dia tidak bisa berbuat apa-apa. Kebanyakan orang yang sok tahu hanya pandai dalam teori namun praktiknya nol.

Teman atau sahabat yang suka mengeluh
Kehidupan memang tidak selamanya manis. Manusia boleh saja mengeluh, tapi kalau terus-terusan namanya tidak bersyukur. Orang yang selalu mengeluh mempunyai aura negatif yang membuatnya tidak pernah bersyukur dan berkembang. Jika Anda dekat dengan mereka lama- kelamaan Anda tertular menjadi tukang mengeluh.

Demikian sifat teman atau sahabat yang tidak disukai orang manapun. Semoga kita terhindar dari sifat-sifat di atas. Dan bila ada teman kita yang seperti itu sudah selayaknya kita menegurnya dan mengingatkan akan menjauhi hal-hal di atas.
Semoga bermanfaat.
More about → Jenis Sifat Jelek Teman dan Sahabat yang Harus Dihindari

Macam-macam Jenis Dosa Besar

Selain dosa “Syirik” yang termasuk ke dalam dosa besar ada beberapa macam, di antaranya yang akan diuraikan berikut ini yaitu: Meminum minuman keras, berzina, membunuh orang dan bunuh diri.

Setiap Muslim haruslah menjauhi semua dosa, baik yang besar maupun yang kecil serta meminta ampunan kepada Allah jika telah terlanjur memperbuatnya, sehingga Allah akan tetap menempatkannya di tempat yang berbahagia di akhirat nanti, yaitu di dalam surga jannatun na’iim. Firman Allah SWT:

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا
“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosa mu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (Q.S. Annisa: 31)
Meminum Minuman Keras Adalah Dosa Besar

Manusia adalah makhluk yang dimuliakan oleh Allah SWT dari makhluk-makhluk lain, disebabkan akalnya yang mampu membedakan yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah, yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat baginya, serta mampu mengetahui dan menggali rahasia-rahasia alam ini untuk kesejahteraan hidupnya. Bahkan dengan akalnya itu manusia dapat mengetahui dan mempercayai adanya Allah, Tuhan yang Maha Pencipta alam semesta.

Akal adalah inventaris manusia yang paling berharga. Tanpa akal jadilah manusia hidup seperti hewan, dan mungkin akan lebih rendah lagi derajatnya. Maka kewarasan akal harus dipelihara dengan sebaik-baiknya.

Karena itu agama Islam telah melarang setiap muslim meminum minuman keras yang sifatnya memabukkan atau menghilangkan akal dan kewarasan fikiran, seperti : arak, tuak, bir, candu, narkotika, ganja, sabu-sabu, dan banyak lagi. Meminum banyak atau sedikit tetap haram dan terlarang, meskipun yang sedikit itu tidak sampai memabukkan. Firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang beriman, sesungguhnya (meminum) khamer, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syetan. Karena itu jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan”. (Q.S. Al-Maidah: 90).
Berdasarkan ayat tersebut, maka membiasakan meminum minuman keras adalah suatu pekerjaan syetan yang mencelakakan hidup manusia. Karena mabuk dan akal yang tidak waras, timbul perbuatan-perbuatan yang menyebabkan terjadinya perselisihan dan perkelahian serta hilangnya rasa malu, terbukanya rahasia dan aib pribadi, menghabiskan harta benda, bahkan sampai kepada pelacuran, perampokan, pembunuhan dan sebagainya. Pendeknya meminum minuman keras menjadi sumber dari segala kejahatan serta merusak keimanan, karena orang tidak sadar lagi mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang suruhan dan larangan Allah.

Rasulullah SAW telah bersabda:

اَلدِّيْنُ هُوَ اْلعَقْلُ وَمَنْ لاَ دِيْنَ لَهُ لاَ عَقْلَ لَهُ
“Agama adalah (sejalan dengan) akal, tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal”. (Al-Hadits)
Selain dari itu kebiasaan meminum minuman keras akan merusak organ-organ tubuh yang vital, seperti jantung, hati, lambung dan syaraf, sehingga memperpendek umur, sedang daya pikir otak makin lama makin lemah sehingga akhirnya tidak berfungsi lagi.

Setiap Muslim haruslah menyadari betapa besar bahaya dan akibat yang ditimbulkan oleh minuman keras (miras), hingga ia menjauhkan diri daripadanya.

Allah SWT memperingatkan lagi dalam firman-Nya:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا ۗ وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar (minuman keras) dan judi. Katakanlah: Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya”. (Q.S. Al-Baqarah: 219).
Berzina Adalah Perbuatan Dosa Besar

Zina ialah hubungan seksual antara pria dan wanita di luar ikatan perkawinan yang sah. Perzinaan merupakan perbuatan lacur, keji dan terkutuk yang termasuk golongan dosa besar, hingga Allah melarang perbuatan tersebut dengan firman-Nya:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati perbuatan zina itu, seseungguhnya perbuatan tersebut sangat keji dan jalan yang sangat sesat”. (Q.S Al-Isra: 32)
Perzinaan adalah perbuatan yang tidak bertanggung jawab sebagai pelampiasan nafsu birahi yang tak terkendalikan. Mungkin perbuatan tersebut bagi sementara orang sangat menyenangkan, tetapi akibat dan bahaya yang ditimbulkannya sangat besar, baik bagi diri pribadi maupun bagi keturunan anak-anak manusia.

Orang yang telah pernah melakukan perzinaan itu biasanya cenderung hendak mengulang lagi perbuatan itu, sampai berulang-ulang hingga menjadi kebiasaan, tanpa merasa takut, malu dan tanpa merasa berdosa.

Tetapi hendaklah disadari bahwa perbuatan tersebut sangat merugikan dirinya sendiri, karena ia akan mudah terserang penyakit kelamin (seperti aids) dan penularannya akan menyerang bagian-bagian tubuh lainnya seperti mata, hidung, kulit, muka, otak syaraf dan sebagainya yang akan menyebabkan kecacatan, kegilaan dan bahkan bisa berujung pada kematian.

Bukan hanya pelakunya saja yang akan menanggung akibat perbuatan zina itu. Tetapi anak-anak yang tidak berdosa akan ketularan penyakit kelamin, sehingga akan menderita cacat seumur hidupnya. Lagipula anak-anak yang dilahirkan akibat perbuatan zina, tidak mempunyai status yang jelas, siapa bapaknya dan siapa yang harus mengurusnya dan yang bertanggung jawab bagi kelangsungan hidupnya.

Di samping itu jika pihak pria tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya, maka tentu pihak wanitalah yang sangat dirugikan di mana ia akan melahirkan anak tanpa bapak yang sah, dan harus memikul biaya dan menanggung malu di tengah-tengah masyarakat. Kalaupun keduanya dikawinkan secara sah, biasanya hanya karena terpaksa saja dan tidak kekal dan segera akan berakhir dengan perceraian juga. Sebab dasar yang pertama dari hubungan mereka hanyalah karena nafsu semata.

Maka dapatlah difahami mengapa perbuatan zina sangat dilarang dalam agama Islam dan merupakan salah satu di antara dosa-dosa besar.

Di samping itu maka dapat pulalah difahami mengapa agama melarang pergaulan bebas antara pria dan wanita, berdua-duaan di tempat sunyi, bepergian tanpa muhrim bagi wanita, pandang memandang yang tidak perlu dan sebagainya. Sebab perbuatan-perbuatan tersebut dapat mengarah kepada terjadinya perzinaan yang terkutuk itu.

Maka hendaklah setiap muslim berhati-hati menjaga kehormatan dirinya, jangan sampai martabatnya jatuh dan tercemar oleh perbuatan keji yang dilakna oleh Allah SWT.

Membunuh Termasuk Dosa Besar

Menurut ajaran Islam setiap manusia mempunyai “Hak Hidup”, yang berhak menikmati hidupnya selama hayat di kandung badan, di mana saja ia berada. Sebab Allah telah menjamin hak hidup itu dengan menyediakan bumi ini untuk menjadi lapangan hidup bagi manusia. Mereka dapat mengambil manfaat apa-apa yang terdapat di muka bumi ini untuk kesejahteraan hidupnya. Firman Allah SWT:
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا
“Dia (Allah) telah menjadikan untukmu semua apa yang ada di muka bumi”. (Q.S. Al-Baqarah: 29).
Maka “Hak Hidup” merupakan hak azasi bagi manusia yang dihormati dan dilindungi oleh Islam. Oleh sebab itu membunuh orang tanpa alasan yang dibenarkan agama, sangat dilarang oleh Allah SWT dan merupakan sebesar-besar dosa, sehingga kepada pembunuh diberikan balasan yang setimpal dengan kesalahannya, yaitu hukuman yang berat di dunia atau dimasukkan ke dalam api neraka di akhirat nanti. Firman Allah SWT:

وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۗ وَمَنْ قُتِلَ مَظْلُومًا فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهِ سُلْطَانًا فَلَا يُسْرِفْ فِي الْقَتْلِ ۖ إِنَّهُ كَانَ مَنْصُورًا
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu alasan yang benar”. (Q.S Al-Isra: 33)
Selanjutnya firman Allah SWT:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا
“Barang siapa membunuh orang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka jahanam, kekal di dalamnya, Allah murka kepadanya, serta dikutuk oleh-Nya, dan disediakan baginya siksa yang benar”. (Q.S. An-Nisa: 93).
Membunuh orang adalah perbuatan biadab dan kejam, bengis dan tidak berperi kemanusiaan. Lebih-lebih lagi jika pembunuhan itu dilakukan dengan sewenang-wenang dan dianggap sebagai kebanggan, menunjukkan keberanian, kekuasaan dan keperkasaan. Perbuatan kejam tersebut nyata-nyata merusak bagi keselamatan dan ketentraman hidup manusia. Bahkan juga merusak bagi ketentraman jiwa pelakunya, dimana ia selalu dibayangi oleh orang yang dibunuhnya, suatu peristiwa yang tak akan pernah hilang dari ingatan selama hidupnya.

Setiap Muslim hendaklah menjauhkan dirinya dari membunuh orang lain atau sesamanya. Jika ada perselisihan, hendaklah diselesaikan dengan perundingan yang baik. Sifat pendendam hendaklah dihilangkan dengan memaafkan kesalahan orang terhadap kita. Hindarilah segala sikap, ucapan dan perbutan sewenang-wenang yang akan menimbulkan kebencian dan permusuhan.

Bunuh Diri Merupakan Dosa Besar

Tidak saja membunuh orang lain tetapi juga membunuh diri sendiri dilarang oleh Allah SWT. Perbuatan tersebut berarti menyia-nyiakan hidup dan termasuk pula dosa besar yang sangat terkutuk di sisi Allah, yang menyebabkan orang akan menerima siksa neraka di akhirat nanti. Firman Allah SWT:

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri, sesungguhnya Allah amat penyayang kepadamu”. (Q.S. Annisa: 29).
Orang yang membunuh diri adalah orang yang tidak sabar menghadapi kesulitan dan cobaan hidup serta tidak rela menerima ketentuan Allah atas dirinya. Ia berfikir picik, tidak berani dan tidak sanggup menghadapi kenyataan hidup yang dialaminya, sehingga ia mengambil jalan keluar yang sesat itu.

Mengatasi kesulitan hidup dengan membunuh diri, adalah perbuatan orang yang berputus asa dari rahmat Allah. Sedang sifat putus asa itu adalah sifat orang kafir yang tidak percaya kepada Allah. Itulah sebabnya bunuh diri sangat dimurkai dan dikutuk oleh-Nya. Firman Allah SWT:

ي وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, karena sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir”. (Q.S. Yusuf: 87)
Setiap muslim hendaklah memahami, bahwa keadaan hidup ini tidak ada yang kekal, selalu berubah menurut sunnah dan ketentuan Allah SWT. Tidak selamanya manusia mengalami hidup senang dan bahagia, tetapi pada suatu ketika ia akan mengalami kesulitan. Ketika hidup senang dan bahagia itu seharusnya ia bersyukur kepada Allah, sebaliknya ketika ia menemui kesulitan atau gagal dalam mencapai cita-cita ia tidak berputus asa, bahkan harus memantapkan iman kepada-Nya dengan keyakinan yang bulat bahwa Dia bersifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang terhadap hamba-Nya yang selalu percaya dan berharap kepada-Nya.

Sementara itu haruslah ia tidak berpangku tangan tetapi terus berusaha dan berikhtiar dengan segala daya, tenaga dan fikirannya mencapai cita-cita dan mengatasi serta melenyapkan segala kesulitan yang dihadapinya. Di samping itu bermohonlah kepada Allah akan rahmat dan perlindungan-Nya serta bertakwa dan bertaubat kepada-Nya. Dengan cara demikian itu tentu Allah akan memberikan jalan keluar yang baik dari kesulitan yang dialaminya. Firman Allah SWT:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
“Barang siapa yang benar-benar takwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dari kesulitan”. (Q.S. Ath Thalaq: 2)
More about → Macam-macam Jenis Dosa Besar

Perkara Yang Dapat Merusak Iman

Ada banyak hal yang dapat merusak iman dan keyakinan seseorang, namun pada tulisan di bawah ini akan dibahas tiga hal saja yang paling berpengaruh pada keimanan manusia, yaitu: Syirik, Nifak dan Dosa Besar.

Ketiga hal di atas tentu saja harus kita waspadai agar tidak terjebak pada jalan yang salah dan berujung pada kecelakaan dunia dan akhirat. Nudzubillahi min dzaalik. Ketiga hal yang dapat merusak iman sesorang tersebuat adalah:

Pertama: Syirik Perusak Iman

Islam adalah agama tauhid, yaitu agama yang mempercayai dan meyakini bahwa pencipta dan pemelihara alam semesta ini hanyalah Allah SWT, Tuhan Maha Esa yang tidak ada sekutu bagi-Nya.

Tauhid adalah dasar terpenting dalam agama Islam, bahkan menjadi jiwa dan saripati agama itu. Tanpa tauhid agama itu menjadi batal dan tidak berarti sama sekali, hingga dengan sendirinya jatuh menjadi “Syirik”, orangnya disebut “Musyrik”.

Musyrik artinya orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang yang mempercayai tentang masih ada lagi Tuhan selain Allah tempat ia mengabdikan diri. Jadi seseorang telah dinyatakan musyrik apabila ia telah menghormati atau memuja sesuatu, menyamai atau melebihi penghormatan dan pemujaan kepada Allah, termasuk penyembahan kepada patung dan berhala, meminta-minta kepada kuburan atau benda-benda yang dianggap keramat, meyakini adanya benda-benda yang mempunyai kekuatan gaib yang dapat menjaga atau melindungi dirinya dari marabahaya seperti jimat dan lain-lain. Bahkan syirik itu bisa terjadi pula dalam berdo’a dengan menggunakan washilah atau memakai perantara.

Mempersekutukan Allah SWT adalah merupakan dosa besar yang tidak diampuni, karena mengandung keingkaran dan pengkhianatan terhadap pengakuan kekuasaan-Nya yang mutlak.

Keadaan orang musyrik itu telah digambarkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُ وَمَا لَا يَنْفَعُهُ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الضَّلَالُ الْبَعِيدُ

“Ia berdo’a meminta kepada selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat kepadanya; yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh” (QS. Al-Haj: 12)
Selanjutnya firman Allah dalam ayat lain:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (Syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sesungguhnya ia telah berbuat dosa yang besar” (Q.S An-Nisa: 48)
Termasuk pula kepada perbuatan musyrik ialah riyaa, yaitu beramal dan berbuat kebaikan karena mengharapkan pujian manusia. Mereka berbuat baik karena ingin dipuji dan dihargai jasanya. Riyaa ini dinamai oleh Nabi SAW dengan “Syirik yang halus”. Sifat tersebut merupakan penyakit rohani yang sangat buruk, niat yang tidak ikhlas, karena didasarkan berbakti kepada selain Allah SWT, dan bukan berbakti kepada Allah dan bukan karena mengharap ridha-Nya, sehingga tidak akan diterima oleh Allah SWT. Karena itu Rasulullah SAW telah memperingatkan dengan sabdanya:

عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ" قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: "الرِّيَاءُ، . أخرجه أحمد
“ Sesungguhnya yang paling kutakuti atasmu ialah syirik yang kecil, para sahabat bertanya: Apakah syirik kecil itu? Rasul menjawab: Riyaa.” (HR. Ahmad)
Mempersekutukan Allah SWT adalah perbuatan yang sangat merusak iman, dan sangat merendahkan martabat manusia sebagai makhluk yang dimuliakan Allah dari makhluk-makhluk yang lain. Perbuatan tersebut mematikan akal dan pikiran manusia, hingga mereka tidak menyadari bahwa mereka telah menempatkan dirinya berada di bawah kekuasaan makhluk atau benda yang lebih kecil daripadanya. Karena itu syirik menjadi sumber kekacauan fikiran manusia yang akan menimbulkan perbuatan yang akan merugikan hidupnya, sehingga Allah SWT memperingatkan dengan firman-Nya:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: Hai anak ku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah itu, nyata-nyata kezaliman yang besar”. (Q.S Luqman: 13)
Kedua: Nifak Perusak Iman
Orang yang nifak disebut munafik, menurut istilah agama ialah orang yang pada lahirnya menyatakan beriman kepada Allah dan ajaran-ajaran yang dikembangkan oleh Rasulullah SAW, tetapi pada batinnya ia tidak percaya sedikitpun. Mereka menamakan dirinya beragama Islam, tetapi sebenarnya mereka benci dan memusuhi Islam. Mereka menonjolkan diri sebagai penganut agama yang kuat dan setia, tetapi ketika pergi ke musuh-musuh Islam, mereka menyatakan bahwa sebenarnya mereka tidak percaya kepada ajaran-ajaran Islam itu.

Keadaan orang munafik itu telah dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya:

وَ مِنَ النَّاسِ مَن يَقُوْلُ آمَنَّا بِاللهِ وَ بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَ مَا هُم بِمُؤْمِنِيْنَ . يُخَادِعُوْنَ اللهَ وَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَ مَا يَخْدَعُوْنَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَ مَا يَشْعُرُوْنَ
“Diantara manusa ada yang mengatakan: Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri, sedang mereka tidak sadar” (QS. Al Baqarah: 8-9).
Di dalam pergaulan sehari-hari sebutan munafik sering dialamatkan kepada orang yang sikap hidupnya berpura-pura, tidak jujur, lain di mulut lain di hati, tidak sesuai perkataan dengan perbuatannya.

Orang munafik disebut juga orang yang bermuka dua. Sebenarnya mereka itu lebih berbahaya daripada orang musyrik dan orang kafir yang jelas pendirian mereka. Mereka merupakan musuh dalam selimut yang selalu berupaya untuk membuat kerusakan, tipu muslihat serta berkhianat dalam pergaulan. Akibatnya menimbulkan perselisihan, pergolakan dan ketidak tentraman yang amat merugikan dalam kehidupan masyarakat.

Sifat munafik itu adalah penyakit yang bersarang dalam hati manusia. Pada umumnya orang yang bersifat demikian sangat pandai menyembunyikan maksud jahatnya, pandai bermulut manis, sehingga orang mudah terpengaruh kepadanya. Mereka berlagak seperti pintar, tidak mau menerima nasihat dan peringatan orang, padahal sebenarnya mereka bodoh. Mereka adalah orang yang selalu dalam keragu-raguan, tidak berpendirian yang tetap, ibarat baling-baling di atas bukit, berputar menurut arah angin berhembus. Hidup mereka penuh dengan tipu muslihat, tujuan nya hanya mengacau dan merusak.

Mereka melakukan tipu muslihat itu tidak saja terhadap sesama manusia, tetapi juga terhadap Allah SWT. Jika ada orang yang melihatnya dia beramal ibadat dilakukannya seperti bersungguh-sungguh, tetapi bila tidak ada yang melihatnya dilakukan dengan bermalas-malasan atau setengah hati (karena keragu-raguannya itu). Mereka bersifat riyaa, tidak ikhlas, semata-mata mengharap pujian dan sanjungan, bukan didorong oleh rasa kesadaran dan tanggung jawab.

Sifat munafik adalah sifat yang amat rendah dan keji yang menunjukkan kebejatan akhlak seseorang. Iman menjadi rusak, karena perbuatannya sangat bertentangan dengan norma-norma agama nilai-nilai kemanusiaan, sehingga Allah SWT mengancam mereka dengan firman-Nya:

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا
“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik itu bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih” (QS. An-Nisa: 138)
Maka berhati-hatilah dengan sifat orang munafik ini, dan jauhilah sifat tersebut, karena sangat berbahaya bagi kehidupan masyarakat serta merusak bagi keimanan sehingga mendapat kemurkaan Allah SWT.

Rasulullah telah menjelaskan kebusukan hati orang munafik dengan ciri-ciri sebagimana dalam riwayat hadits berikut ini:
“Empat perkara, siapa yang ada empat perkara tersebut pada dirinya, dialah orang munafik, dan yang ada setengah dari empat perkara itu, termasuk pula setengah orang munafik sampai ia meninggalkan semuanya: 1. Bila berbicara dia berdusta 2. Kalau berjanji tidak ditepatinya 3. Jika telah menyanggupi (dipercaya) dia khianat 4. Manakala berbantah dia berkeras kepala”. (HR. Buhkhari dari Ibnu Umar)

Ketiga: Dosa Besar Perusak Iman

Dosa ialah perbuatan atau tingkah laku yang bertentangan atau melawan hukum dan peraturan-peraturan Allah SWT, yakni perbuatan jahat, keji dan maksiat yang tidak diridhoi oleh Allah.

Orang yang berdosa akan mendapat balasan siksa dari Allah dan tempatnya di dalam neraka jika tidak mendapat ampunan Allah SWT. Sedang kepada orang taat dan berbuat baik diberikan pahala, dan tempat nya di dalam surga. Firman Allah:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (Az Zalzalah: 7-8)
Dosa itu bertingkat-tingkat, ada yang besar dan ada pula yang kecil. Dinamakan dosa besar, karena besar bahaya dan akibatnya, sedang dosa yang kecil, karena kecil pula bahaya dan akibatnya. Semua dosa baik yang besar maupun yang kecil adalah terlarang memperbuatnya, karena berakibat buruk bagi pelakunya dan menyebabkan rusaknya keimanan seseorang.

Setiap orang dapat merasakan perbuatan yang mendatangkan pahala dan dosa itu. Perbuatan baik akan memberikan kesan yang baik pula kepada jiwa, dimana hatinya merasa tentram mengerjakannya, seperti taat beribadah, suka menolong, jujur, menepati janji dan sebagainya. Sebaliknya dosa memberikan kesan buruk kepada jiwa, sehingga orang diliputi kekhawatiran dan kegelisahan, tidak tentram dan tidak suka terlihat orang lain, seperti melanggar hukum Allah, berkhianat, menipu, mencuri, durhaka kepada ibu-bapak dan sebagainya. Nabi bersabda dalam sebuah hadits:

عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : البرّ حسن الخلق ، والإثم ما حاك في نفسك ، وكرهت أن يطلع عليه الناس - رواه مسلم .
“Kebaikan itu ialah baik kelakuan (tentram hatu melakukannya), dan dosa itu ialah sesuatu yang menggores di dalam dada (tidak tentram hati melakukannya) dan engkau tidak suka akan terlihat oleh orang”. (HR. Muslim).

Demikian hal-hal perkara yang dapat merusak iman seseorang, yaitu: Syirik, Nifak dan Dosa besar. Semoga kita selalu dapat menghindar dan menjauhi ketiga hal tersebut di atas.

By: Aswan
More about → Perkara Yang Dapat Merusak Iman

Biografi dan Kisah Sejarah Perjuangan Nabi Ibrahim AS

Biografi dan Sejarah Perjuangan Nabi Ibrahim. Diantara Nabi yang wajib dikenal umat Islam adalah Nabi Ibrahim, karena selain termasuk nenek moyang Nabi Ibrahim pun panutan dan tuntunan kita dalam semangat berjihad menegakkan Dinul Islam.

Bila diurut silsilah Nabi Ibrahim ada sambungan darah langsung ke Nabi Nuh AS. Nabi Ibrahim merupakan putra Azar bin Tahur bin Saruj bin Rau’ bin Falij bin Abir bin Syalih bin Arfaksyad bin Saam Bin Nuh AS. Nabi Ibrahim terlahir di negara Babilonia tepatnya di Fadam A’ram yang ketika itu dirajai oleh seorang raja yang terkenal Namrud bin Kan’an.

Kerajaan Babilon yang dipimpin Namrud pada waktu itu tergolong negara yang subur makmur, rakyatnya dicekoki kecukupan hidup dalam keduniaan akan tetapi sayang kebutuhan rohaninya sangatlah gersang, hidup dalam kejahiliahan, sampai sampai rakyat kerajaan tersebut tidak dikenalkan dengan Maha Pencipta. Ibadah mereka dengan cara membuat sesembahan sendiri yang terbuat dari batu atau kayu yang dibuat oleh mereka sendiri.

Raja Namrud bin Kan’an sangat haus akan kekuasaan. Dia bersikap otoriter dalam memutuskan kebijakannya, dan dia juga sangat ingin dirinya dianggap sebagai Tuhan. Namrud bersikap baik terhadap rakyat yang mengagungkannya dan sebaliknya Dia bisa membunuh orang yang membangkang kepada dirinya.

Pada waktu berkuasanya Namrud atas kerajaan Babilonia dan kondisi masyarakatnya yang jahiliah, diutuslah Nabi Ibrahim oleh Allah SWT yang terlahir dari seorang pemahat patung pembuat Tuhan. Nabi Ibrahim merupakan Rasulullah untuk masyarakatnya dengan misi meluruskan keyakinan dan aqidah kepada jalan yang benar, menyembah Allah SWT Maha Pencipta Tuhan alam semesta.

Sebagai seorang anak dari bapak pembuat patung sembahan, diwaktu kecilnya Nabi Ibrahim telah memberontak dalam hatinya akan ketidakbenaran keyakinan menyembah sesuatu selain Allah SWT. Ketika disuruh mendagangkan barang milik bapaknya Ibrahim menawarkan dengan cara seolah mengejek pembelinya: Siapa yang mau membeli barang tidak berguna ini?

Nabi Ibrahim dan Pencarian Keteguhan Imannya

Sebelum terjun berdakwah Nabi Ibrahim AS memantapkan keimanannya dalam meneguhkan aqidahnya untuk menentramkan dan menghilangkan keragu-raguannya dalam hatinyan memohon kepada Allah SWT agar ditunjukkan bukti nyata bagaimana Allah SWT menghidupkan dan mematikan makhluk-Nya. Nabi Ibrahim berseru: Ya.. Tuhanku! Mohon perlihatkan kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan yang telah mati!!. Terjadilah dialog Allah menjawab seruannya dengan berfirman:Tidakkah engkau beriman dan percaya kepada kekuasaan-Ku? "Nabi Ibrahim menjawab:" Betul, wahai Tuhanku, aku telah beriman dan percaya kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu, namun aku ingin sekali melihat itu dengan mata kepala ku sendiri, agar aku mendapat ketenteraman dan ketenangan dan hatiku dan agar makin menjadi tebal dan kukuh keyakinanku kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu."

Allah memperkenankan permohonan Nabi Ibrahim lalu diperintahkanlah ia menangkap empat ekor burung lalu setelah memperhatikan dan meneliti bahagian tubuh-tubuh burung itu, memotongnya menjadi berkeping-keping mencampur-baurkan kemudian tubuh burung yang sudak hancur-luluh dan bercampur-baur itu diletakkan di atas puncak setiap bukit dari empat bukit yang letaknya berjauhan satu dari yang lain.
Setelah dikerjakan apa yang telah diisyaratkan oleh Allah itu, diperintahnyalah Nabi Ibrahim memanggil burung-burung yang sudah terkoyak-koyak tubuhnya dan terpisah jauh tiap-tiap bahagian tubuh burung dari bahagian yang lain.

Dengan izin Allah dan kuasa-Nya datanglah berterbangan enpat ekor burung itu dalam keadaan utuh bernyawa seperti sedia kala begitu mendengar seruan dan panggilan Nabi Ibrahim kepadanya lalu hinggaplah empat burung yang hidup kembali itu di depannya, dilihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah Yang Maha Berkuasa dapat menghidupkan kembali makhluk-Nya yang sudah mati sebagaimana Dia menciptakannya dari sesuatu yang tidak ada. Dan dengan demikian tercapailah apa yang diinginkan oleh Nabi Ibrahim untuk mententeramkan hatinya dan menghilangkan kemungkinan ada keraguan di dalam iman dan keyakinannya, bahwa kekuasaan dan kehendak Allah tidak ada sesuatu pun di langit atau di bumi yang dpt menghalangi atau menentangnya dan hanya kata "Kun" yang difirmankan Oleh-Nya maka terjadilah akan apa yang dikenhendaki " Fayakun".

Nabi Ibrahim Memulai Dakwah Kepada Ayahnya

Azar adalah ayah Nabi Ibrahim AS, ayahnya ini seperti disebutkan di atas sebagaimana kaumnya yang lain penyembah berhala bahkan lebih dari iatu ia adalah pedagang dari patung-patung yang dibuat dan dipahatnya sendiri. Dari ayahnya inilah orang-orang membeli patung-patung sesembahannya itu.
Setelah Allah memperlihatkan kepada Nabi Ibrahim bukti kemahakuasaan Allah, beliau merasa bahwa kewajiban pertama yang harus dilakukan sebelum berdakwah kepada orang lain ialah menyadarkan ayah kandungnya terlebih dahulu dan kemudian orang yang terdekat kepadanya bahwa kepercayaan dan persembahannya kepada berhala-berhala itu adalah perbuatan yang sesat dan bodoh. Beliau merasakan bahawa kebaktian kepada ayahnya mewajibkannya memberi penerangan kepadanya agar melepaskan kepercayaan yang sesat itu dan mengikutinya beriman kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Pendekatan berdakwah dengan sikap yang sopan dan adab yang patut ditunjukkan oleh seorang anak terhadap orang tuanya dan dengan kata-kata yang halus ia datang kepada ayahnya menyampaikan bahwa ia diutuskan oleh Allah sebagai nabi dan rasul dan bahawa ia telah diilhamkan dengan pengetahuan dan ilmu yang tidak dimiliki oleh ayahnya. Ia bertanya kepada ayahnya dengan lemah lembut gerangan apakah yang mendorongnya untuk menyembah berhala seperti lain-lain kaumnya padahal ia mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak berguna sedikit pun tidak dapat mendatangkan keuntungan bagi penyembahnya atau mencegah kerugian atau musibah. Diterangkan pula kepada ayahnya bahwa penyembahan kepada berhala-berhala itu adalah semata-mata ajaran syaitan yang memang menjadi musuh manusia sejak Adam diturunkan ke bumi lagi. Ia berseru kepada ayahnya agar merenungkan dan memikirkan nasihat dan ajakannya berpaling dari berhala-berhala dan kembali menyembah kepada Allah yang menciptakan manusia dan semua makhluk yang dihidupkan memberi merek rezeki dan kenikmatan hidup serta menguasakan bumi dengan segala isinya kepada manusia.

Tetapi, yang terjadi ayahnya itu (Aazar) menjadi marah, mukanya merah dan melotot matanya mendengar kata-kata seruan puteranya Nabi Ibrahim yang ditanggapinya sebagai dosa dan hal yang kurang patut dianggapnya puteranya itu telah berani mengecam dan menghina kepercayaan ayahnya bahkan mengajakkannya untuk meninggalkan kepercayaan itu dan menganut kepercayaan dan agama yang ia bawa. Ia tidak menyembunyikan kemarahannya, tetapi dinyatakannya dalam kata-kata yang kasar dan dalam maki seakan-akan tidak ada hubungan diantara mereka. IA berkata kepada Nabi Ibrahim dengan nada gusar: " Hai Ibrahim! Berpalingkah engkau dari kepercayaan dan persembahanku ? Dan kepercayaan apakah yang engkau berikan kepadaku yang menganjurkan agar aku mengikutinya? Janganlah engkau membangkitkan amarahku dan cuba mendurhakaiku.Jika engkau tidak menghentikan penyelewenganmu dari agama ayahmu tidak engkau hentikan usahamu mengecam dan memburuk-burukkan persembahanku, maka keluarlah engkau dari rumahku ini. Aku tidak sudi bercampur denganmu didalam suatu rumah di bawah suatu atap. Pergilah engkau dari mukaku sebelum aku menimpamu dengan batu dan mencelakakan engkau."

Nabi Ibrahim menerima kemarahan ayahnya, pengusirannya dan kata-kata kasarnya dengan sikap tenang, normal selaku anak terhadap ayah seray berkaat: " Oh ayahku! Semoga engkau selamat, aku akan tetap memohonkan ampun bagimu dari Allah dan akan tinggalkan kamu dengan persembahan selain kepada Allah. Mudah-mudahan aku tidak menjadi orang yang celaka dan malang dengan doaku utkmu." Lalu keluarlah Nabi Ibrahim meninggalkan rumah ayahnya dalam keadaan sedih dan prihati karena tidak berhasil mengangkatkan ayahnya dari lembah syirik dan kufur.

Nabi Ibrahim Berdakwah kepada Masyarakat ;Menghancurkan Berhala-berhala

Kegagalan Nabi Ibrahim dalam usahanya menyedarkan ayahnya yang tersesat itu sangat menusuk hatinya karena ia sebagai putera yang baik ingin sekali melihat ayahnya berada dalam jalan yang benar terangkat dari lembah kesesatan dan syirik namun ia sedar bahwa hidayah itu adalah di tangan Allah dan bagaimana pun ia ingin dengan sepenuh hatinya agar ayahnya mendpt hidayah, bila belum dikehendaki oleh Allah maka sia-sialah keinginan dan usahanya.
Penolakan ayahnya terhadap dakwahnya dengan cara yang kasar dan kejam itu tidak sedikit pun mempengaruhi ketetapan hatinya dan melemahkan semangatnya untuk berjalan terus memberi penerangan kepada kaumnya untuk menyapu bersih persembahan-persembahan yang bathil dan kepercayaan-kepercayaan yang bertentangan dengan tauhid dan iman kepada Allah dan Rasul-Nya

Nabi Ibrahim tidak henti-henti dalam setiap kesempatan mengajak kaumnya berdialog dan bermujadalah tentang kepercayaan yang mereka anut dan ajaran yang ia bawa. Dan ternyata bahwa bila mereka sudah tidak berdaya menilak dan menyanggah alasan-alasan dan dalil-dalil yang dikemukakan oleh Nabi Ibrahim tentang kebenaran ajarannya dan kebathilan kepercayaan mereka maka dalil dan alasan yang usanglah yang mereka kemukakan iaitu bahwa mereka hanya meneruskan apa yang oleh bapa-bapa dan nenek moyang mereka dilakukan dan sesekali mereka tidak akan melepaskan kepercayaan dan agama yang telah mereka warisi.

Nabi Ibrahim pada akhirnya merasa tidak bermanfaat lagi berdebat dan bermujadalah dengan kaumnya yang berkepala batu dan yang tidak mahu menerima keterangan dan bukti-bukti nyata yang dikemukakan oleh beliau dan selalu berpegang pada satu-satunya alasan bahwa mereka tidak akan menyimpang dari cara persembahan nenek moyang mereka, walaupun oleh Nabi Ibrahim dinyatakan berkali-kali bahwa mereka dan bapa-bapa mereka keliru dan tersesat mengikuti jejak syaitan dan iblis.
Nabi Ibrahim kemudian merancang akan membuktikan kepada kaumnya dengan perbuatan yang nyata yang dapat mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri bahwa berhala-berhala dan patung-patung mereka betul-betul tidak berguna bagi mereka dan bahkan tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri.

Adalah sudah menjadi tradisi dan kebiasaan penduduk kerajaan Babylon bahwa setiap tahun mereka keluar kota beramai-ramai pada suatu hari raya yang mereka anggap sebagai keramat. Berhari-hari mereka tinggal di luar kota di suatu padang terbuka, berkhemah dengan membawa bekalan makanan dan minuman yang cukup. Mereka bersuka ria dan bersenang-senang sambil meninggalkan kota-kota mereka kosong dan sunyi. Mereka berseru dan mengajak semua penduduk agar keluar meninggalkan rumah dan turut beramai -ramai menghormati hari-hari suci itu. Nabi Ibrahim yang juga turut diajak turut serta berlagak berpura-pura sakit dan diizinkanlah ia tinggal di rumah apalagi mereka merasa khuatir bahwa penyakit Nabi Ibrahim yang dibuat-buat itu akan menular dan menjalar di kalangan mereka bila ia turut serta.

" Inilah dia kesempatan yang ku nantikan," kata hati Nabi Ibrahim tatkala melihat kota sudah kosong dari penduduknya, sunyi senyap tidak terdengar kecuali suara burung-burung yang berkicau, suara daun-daun pohon yang gemerisik ditiup angin kencang. Dengan membawa sebuah kapak ditangannya ia pergi menuju tempat beribadatan kaumnya yang sudah ditinggalkan tanpa penjaga, tanpa juru kunci dan hanya deretan patung-patung yang terlihat diserambi tempat peribadatan itu. Sambil menunjuk kepada semahan bunga-bunga dan makanan yang berada di setiap kaki patung berkata Nabi Ibrahim, mengejek:" Mengapa kamu tidak makan makanan yang lazat yang disaljikan bagi kamu ini? Jawablah aku dan berkata-katalah kamu."
Kemudian disepak, ditamparlah patung-patung itu dan dihancurkannya berpotong-potong dengan kapak yang berada di tangannya. Patung yang besar ditinggalkannya utuh, tidak diganggu yang pada lehernya dikalungkanlah kapak Nabi Ibrahim itu.

Terperanjat dan terkejutlah para penduduk, tatkala pulang dari berpesta ria di luar kota dan melihat keadaan patung-patung, tuhan-tuhan mereka hancur berantakan dan menjadi potongan-potongan terserak-serak di atas lantai. Bertanyalah satu kepada yang lain dengan nada heran dan takjub: "Gerangan siapakah yang telah berani melakukan perbuatan yang jahat dan keji ini terhadap tuhan-tuhan persembahan mereka ini?" Berkata salah seorang diantara mereka:" Ada kemungkinan bahwa orang yang selalu mengolok-olok dan mengejek persembahan kami yang bernama Ibrahim itulah yang melakukan perbuatan yang berani ini." Seorang yang lain menambah keterangan dengan berkata:" Bahkan dialah yang pasti berbuat, karena ia adalah satu-satunya orang yang tinggal di kota sewaktu kami semua berada di luar merayakan hari suci dan keramat itu." Selidik punya selidik, akhirnya terdpt kepastian yyang tidak diragukan lagi bahwa Ibrahimlah yang merusakkan dan memusnahkan patung-patung itu. Rakyat kota beramai-ramai membicarakan kejadian yang dianggap suatu kejadian atau penghinaan yang tidak dpt diampuni terhadap kepercayaan dan persembahan mereka. Suara marah, jengkel dan kutukan terdengar dari segala penjuru, yang menuntut agar si pelaku diminta bertanggungjawab dalam suatu pengadilan terbuka, di mana seluruh rakyat penduduk kota dapat turut serta menyaksikannya.

Dan memang itulah yang diharapkan oleh Nabi Ibrahim agar pengadilannya dilakukan secara terbuka di mana semua warga masyarakat dapat turut menyaksikannya. Karena dengan cara demikian beliau dapat secara terselubung berdakwah menyerang kepercayaan mereka yang bathil dan sesat itu, seraya menerangkan kebenaran agama dan kepercayaan yang ia bawa, kalau diantara yang hadir ada yang masih boleh diharapkan terbuka hatinya bagi iman dari tauhid yang ia ajarkan dan dakwahkan.
Hari pengadilan ditentukan dan datang rakyat dari segala pelosok berduyung-duyung mengujungi padang terbuka yang disediakan bagi sidang pengadilan itu.

Ketika Nabi Ibrahim datang menghadap para hakim yang akan mengadili ia disambut oleh para hadirin dengan teriakan kutukan dan cercaan, menandakan sangat gusarnya para penyembah berhala terhadap beliau yang telah berani menghancurkan persembahan mereka.
Ditanyalah Nabi Ibrahim oleh para hakim:" Apakah engkau yang melakukan penghancuran dan merusakkan tuhan-tuhan kami?" Dengan tenang dan sikap dingin, Nabi Ibrahim menjawab:" Patung besar yang berkalungkan kapak di lehernya itulah yang melakukannya. Cuba tanya saja kepada patung-patung itu siapakah yang menghancurkannya." Para hakim penanya terdiam sejenak seraya melihat yang satu kepada yang lain dan berbisik-bisik, seakan-akan Ibrahim yang mengandungi ejekan itu. Kemudian berkata si hakim:" Engkaukan tahu bahwa patung-patung itu tidak dapat bercakap dan berkata mengapa engkau minta kami bertanya kepadanya?" Tibalah masanya yang memang dinantikan oleh Nabi Ibrahim,maka sebagai jawapan atas pertanyaan yang terakhir itu beliau berpidato membentangkan kebathilan persembahan mereka,yang mereka pertahankan mati-matian, semata-mata hanya karena adat itu adalah warisan nenek-moyang. Berkata Nabi Ibrahim kepada para hakim itu:" Jika demikian halnya, mengapa kamu sembah patung-patung itu, yang tidak dapat berkata, tidak dapat melihat dan tidak dapat mendengar, tidak dapat membawa manfaat atau menolak mudharat, bahkan tidak dapat menolong dirinya dari kehancuran dan kebinasaan? Alangkah bodohnya kamu dengan kepercayaan dan persembahan kamu itu! Tidakkah dapat kamu berfikir dengan akal yang sihat bahwa persembahan kamu adalah perbuatan yang keliru yang hanya difahami oleh syaitan. Mengapa kamu tidak menyembah Tuhan yang menciptakan kamu, menciptakan alam sekeliling kamu dan menguasakan kamu di atas bumi dengan segala isi dan kekayaan. Alangkah hina dinanya kamu dengan persembahan kamu itu."

Setelah selesai Nabi Ibrahim menguraikan pidatonya, para hakim mencetuskan keputusan bahawa Nabi Ibrahim harus dibakar hidup-hidup sebagai ganjaran atas perbuatannya menghina dan menghancurkan tuhan-tuhan mereka, maka berserulah para hakim kepada rakyat yang hadir menyaksikan pengadilan itu:" Bakarlah ia dan belalah tuhan-tuhanmu , jika kamu benar-benar setia kepadanya."

Nabi Ibrahim AS Vs Penguasa; Nabi Ibrahim AS Dibakar Hidup-hidup

Keputusan mahkamah telah dijatuhakan.Nabi Ibrahim harus dihukum dengan membakar hidup-hidup dalam api yang besar sebesar dosa yang telah dilakukan. Persiapan bagi upacara pembakaran yang akan disaksikan oleh seluruh rakyat sedang diaturkan. Tanah lapang bagi tempat pembakaran disediakan dan diadakan pengumpulan kayu bakar dengan banyaknya dimana tiap penduduk secara gotong-royong harus mengambil bahagian membawa kayu bakar sebanyak yang ia dapat sebagai tanda bakti kepada tuhan-tuhan persembahan mereka yang telah dihancurkan oleh Nabi Ibrahim.

Berduyun-duyunlah para penduduk dari segala penjuru kota membawa kayu bakar sebagai sumbangan dan tanda bakti kepada tuhan mereka. Di antara terdapat para wanita yang hamil dan orang yang sakit yang membawa sumbangan kayu bakarnya dengan harapan memperolehi barakah dari tuhan-tuhan mereka dengan menyembuhkan penyakit mereka atau melindungi yang hamil di kala ia bersalin.
Setelah terkumpul kayu bakar di lanpangan yang disediakan untuk upacara pembakaran dan tertumpuk serta tersusun laksan sebuah bukit, berduyun-duyunlah orang datang untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman atas diri Nabi Ibrahim. Kayu lalu dibakar dan terbentuklah gunung berapi yang dahsyat yang sedang berterbangan di atasnya berjatuhan terbakar oleh panasnya uap yang ditimbulkan oleh api yang menggunung itu. Kemudian dalam keadaan terbelenggu, Nabi Ibrahim didtgkan dan dari atas sebuah gedung yang tinggi dilemparkanlah ia kedalam tumpukan kayu yang menyala-nyala itu dengan iringan firman Allah:" Hai api, menjadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim."

Sejak keputusan hukuman dijatuhkan sampai saat ia dilemparkan ke dalam bukit api yang menyala-nyala itu, Nabi Ibrahim tetap menunjukkan sikap tenang dan tawakkal karena iman dan keyakinannya bahwa Allah tidak akan rela melepaskan hamba pesuruhnya menjadi makanan api dan kurban keganasan orang-orang kafir musuh Allah. Dan memang demikianlah apa yang terjadi tatkala ia berada dalam perut bukit api yang dahsyat itu ia merasa dingin sesuai dengan seruan Allah Pelindungnya dan hanya tali temali dan rantai yang mengikat tangan dan kakinya yang terbakar hangus, sedang tubuh dan pakaian yang terlekat pada tubuhnya tetap utuh, tidak sedikit pun tersentuh oleh api, hal mana merupakan suatu mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada hamba pilihannya, Nabi Ibrahim, agar dapat melanjutkan penyampaian risalah yang ditugaskan kepadanya kepada hamba-hamba Allah yang tersesat itu.

Para penonton upacara pembakaran heran tercenggang tatkala melihat Nabi Ibrahim keluar dari bukit api yang sudah padam dan menjadi abu itu dalam keadaan selamat, utuh dengan pakaiannya yang tetap berda seperti biasa, tidak ada tanda-tanda sentuhan api sedikitpun. Mereka bersurai meninggalkan lapangan dalam keadaan heran seraya bertanya-tanya pada diri sendiri dan di antara satu sama lain bagaimana hal yang ajaib itu berlaku, padahal menurut anggapan mereka dosa Nabi Ibrahim sudah nyata mendurhakai tuhan-tuhan yang mereka puja dan sembah. Ada sebahagian daripada mereka yang dalam hati kecilnya mulai meragui kebenaran agama mereka namun tidak berani melahirkan rasa ragu-ragunya itu kepada orang lain, sedang para pemuka dan para pemimpin mereka merasa kecewa dan malu, karena hukuman yang mereka jatuhkan ke atas diri Nabi Ibrahim dan kesibukan rakyat mengumpulkan kayu bakar selama berminggu-minggu telah berakhir dengan kegagalan, sehingga mereka merasa malu kepada Nabi Ibrahim dan para pengikutnya.

Mukjizat yang diberikan oleh Allah SWT kepada Nabi Ibrahim sebagai bukti nyata akan kebenaran dakwahnya, telah menimbulkan kegoncangan dalam kepercayaan sebahagian penduduk terhadap persembahan dan patung-patung mereka dan membuka mata hati banyak daripada mereka untuk memikirkan kembali ajakan Nabi Ibrahim dan dakwahnya, bahkan tidak kurang daripada mereka yang ingin menyatakan imannya kepada Nabi Ibrahim, namun khuatir akan mendapat kesukaran dalam penghidupannya akibat kemarahan dan balas dendam para pemuka dan para pembesarnya yang mungkin akan menjadi hilang akal bila merasakan bahwa pengaruhnya telah bealih ke pihak Nabi Ibrahim.

Demikian Biografi dan Kisah Sejarah Perjuangan Nabi Ibrahim AS yang patut kita teladani bersama, bagaimana perjuangan dan pengorbanannya dalam berdakwah.
More about → Biografi dan Kisah Sejarah Perjuangan Nabi Ibrahim AS