Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Sejarah Istilah Pengertian Ulama

Sebenarnya sederhana saja kita mendefinisikan ulama. Sebagai bentuk jamak dari ‘alim; orang berilmu, maka ulama itu adalah orang-orang yang berilmu. Tapi seiring perkembangan zaman yang cenderung merusak tatanan nilai keilmuan, maka permasalahan pun muncul. Layakkah kalau orang berilmu tersebut cacat dari segi moral? Lalu dikarenakan ilmu sekarang terdikotomi dari ilmu umum dan agama, apakah seseorang yang berilmu dalam bidang kimia bisa dikategorikan ulama? Padahal banyak di antara mereka yang tidak faham al-Qur’an dan Hadits? Atau sebaliknya, orang yang faham Al-Qur’an dan Hadits, tapi tidak menguasai ilmu alam atau sosial, dapatkah juga dikategorikan ulama?

Sebagai rujukan utama dalam menentukan pengertian suatu istilah, Al-Qur’an menyebut kata ulama dalam dua tempat, yaitu pertama QS. As-Syu’ara ayat 197 berikut ini :
أَوَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ آيَةً أَنْ يَعْلَمَهُ عُلَمَاءُ بَنِي إِسْرَائِيلَ
“Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?” (QS. As-Syu’ara: 197).
Ayat ini berkaitan dengan pemberitaan kenabian Muhammad SAW dan turunnya Al-Qur’an dalam kitab-kitab terdahulu (Zubur al-awwalin). Dan hal tersebut diketahui secara pasti oleh para ulama Bani Israil. Maka hal tersebut adalah bukti yang nyata tentang kenabian Muhammad SAW dan keabsahan Al-Qur’an tersebut. Tapi kenapa kemudian masih ditentang dan ditolak, padahal sudah sama-sama diketahui? (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 6 : 163).
Itu artinya bahwa ulama yang dikehendaki dalam ayat ini adalah orang-orang yang berilmu dalam hal kitab-kitab Allah.

Ayat yang kedua kata Ulama ada pada QS. Fathir ayat 28:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”. (QS. Fathir: 28).
Potongan ayat ini merupakan sambungan dari ayat-ayat yang menceritakan tentang kekuasaan Allah dalam penciptaan langit, gunung, tanah, hewan, tumbuhan, dan manusia. Awal ayatnya berbunyi, alam tara?; tidakkah kamu memperhatikan? Berdasarkan metodologi munasabah (korelasi ayat-ayat), ayat-ayat ini menunjukkan bahwa ulama itu adalah orang yang berilmu dalam hal kealaman atau sains. Tapi tidak cukup itu saja, ayat ini mempersyaratkan khasyah; takut kepada Allah. Dan ayat selanjutnya berisi sanjungan bagi orang-orang yang membaca ayat-ayat Allah, mendirikan shalat dan menunaikan infak. Sebagai isyarat, seperti itulah orang-orang yang khasyah kepada Allah SWT.

Ini artinya bahwa ulama adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang ilmu agama dan ilmu kealaman (sains), dan pengetahuan yang dimilikinya itu mengantarkan kepada khasyah.

Meninjau sejarah penggunaan istilah ulama pada masa al-khulafa ar-Rasyidin, tidak ada pemisahan antara orang yang memiliki pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan kealaman. Keduanya dikategorikan ulama. Itu dikarenakan para sahabat Nabi SAW umumnya memiliki pengetahuan keagamaan, pengetahuan kealaman, sekaligus mereka juga pelaku-pelaku politik praktis. Para sahabat terkemuka saat itu biasanya duduk dalam suatu dewan pertimbangan yang kemudian dipopulerkan dengan istilah ahlul-halli wal-aqdi. Para sahabat itulah yang pada zaman selanjutnya disebut dengan istilah ulama salaf.

Baru pada masa pemerintahan Bani Umayyah dan sesudahnya, istilah ulama lebih ditekankan kepada orang yang pakar dalam pengetahuan keagamaan saja. Bahkan karena ada pembidangan ilmu agama, istilah ulama lebih dipersempit lagi. Misalnya ahli fiqih disebut fuqoha, ahli hadits disebut muhaditsien, ahli kalam / tauhid disebut mutakallimien, dan ahli tafsir disebut mufassir.

Sementara itu orang yang pakar dalam pengetahuan tentang kealaman tidak lagi disebut sebagai ulama, tetapi disebut ahli bidang masing-masing. Tokoh-tokoh seperti al-Khawarizmi, al-Biruni, dan Ibnu Hayyan tidak lagi disebut dengan istilah ulama, tetapi disebut sebagai ahli kauniah (kealaman). Demikian juga dengan al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan al-Ghazali. Kecuali bila mereka pakar juga dalam pengetahuan keagamaan, mereka bisa disebut ulama. Misalnya Ibnu Rusyd, yang selain filosof juga dikenal sebagai ulama fiqih yang salah satu karyanya bidayah al Mujtahid, atau al-Ghazali selain menguasai kalam dan filsafat juga dapat dikatakan sebagai ulama fiqih dan tasawuf.

Di Indonesia, istilah ulama yang seharusnya bermakna jamak digunakan dalam makna tunggal. Dan yang ditujunya adalah para ahli ilmu agama, khususnya fiqih. Lebih dari itu, ulama adalah mereka yang menempuh jenjang keilmuan non-perguruan tinggi. Walau tentunya ada juga mereka yang menempuh pendidikan perguruan tinggi yang disebut ulama. Hanya umumnya, bagi mereka yang seperti ini disebut dengan istilah cendekiawan muslim. Demikian halnya dengan mereka yang pakar dalam ilmu kealaman atau sosial, disebutnya ilmuwan atau cendekiawan, bukan ulama. Dan mengikuti perkembangan mutakhir keilmuan, maka masing-masing mendapatkan sebutan sesuai dengan keahlian. Pakar astronomi disebut astronom, pakar kesehatan disebut dokter, pakar sosial disebut sosiolog, dan lain sebagainya.

Perkembangan istilah ulama seperti itu tidak mutlak salah sepenuhnya. Karena penggunaan suatu istilah akan sangat terpengaruh oleh budaya dan lingkungan setempat. Hanya beberapa karakteristik yang dijelaskan al-Qur’an di atas, itulah yang jadi pegangan pastinya. Yakni bahwa ulama itu adalah orang yang (1) Berilmu, (2) Khasyah (takut kepada Allah), dan (3) Mengamalkan kesalihan.
More aboutSejarah Istilah Pengertian Ulama

Tanggung Jawab Muslim Terhadap Bangsa dan Negara

Mencintai tanah air adalah sebagian dari tabiat manusia. Karena di sanalah ia dilahirkan dan dibesarkan, meminum airnya dan menghirup udaranya, bernaung dan berteduh di bawah kolong langitnya, hidup dari hasil sawah-ladang dan ternaknya, bergaul dengan penduduknya serta merasakan sakit senang dalam lingkungan bangsa dan negaranya. Ia merasa bangga dengan kemuliaan dan kejayaannya, sebaliknya ia merasa sedih dengan kehinaan dan kemalangannya.
Dalam salah satu keterangan yang sumbernya belum jelas kedudukannya, dikatakan bahwa sebagian dari iman adalah cinta tanah air. Dengan itu sehingga orang dianjurkan supaya berjuang membela dan menjunjung tinggi nusa dan bangsanya. Sebab dengan demikian berarti ia mencintai Allah SWT yang telah menciptakan tanah airnya dan segala keperluan hidupnya.
Sebagai orang yang hidup dalam suatu tanah air, bangsa dan negara, maka setiap muslim harus menyadari bahwa ia mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk mempertahankan dan membangun bangsa dan negaranya dalam segala bidang, baik yang bersifat fisik-materil maupun bersifat mental-spiritual, sesuai dengan kemampuan dan keahiannya masing-masing.
Dengan demikian golongan politikus dan pejabat negara bertanggung jawab mengatur dan menyelenggarakan pemerintahan dengan baik dan adil, para ekonom termasuk para sarjana ekonomi mencurahkan tenaga dan fikirannya untuk membangun dan menyehatkan ekonomi, anggota polisi, tentara dan juga angkatan bersenjata berdaya upaya melaksanakan kewajibannya dengan baik, menjamin keamanan dan pertahanan negara, para saudagar atau pelaku bisnis menjalankan usahanya dengan jujur, para petani mengolah sawah dan ladangnya dengan giat, para pelajar dan mahasiswa belajar dan menggali ilmu pengetahuan dengan tekun. Pendeknya semua lapisan masyarakat, pria dan wanita bertanggung jawab memakmurkan, mensejahterakan serta meninggikan derajat bangsa dan negaranya, sehingga terwujud suatu negara yang baik, adil dan makmur, sentosa dan bahagia, tentram dan damai serta mendapatkan ampunan dan ridha Allah SWT.
Segala kegiatan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara hendaklah menuruti pola dan peraturan-peraturan yang telah digariskan oleh pemerintah. Maka setiap muslim harus menjadi warga negara yang baik. Di samping ia wajib mentaati pemerintah Allah dan Rasul-Nya, ia berkewajiban pula mentaati perintah peraturan dan undang-undang yang telah ditetapkan oleh pemerintah yang sah dan adil di negaranya. Sebab semua peraturan dan undang-undang yang ditetapkan pemerintah itu bertujuan untuk mengatur tata tertib kehidupan warga negara agar selalu dalam ketentraman dan kebahagiaan, serta melindungi rakyat dari segala macam kekejaman dan kesengsaraan. Firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan orang-orang yang memegang kekuasaan di antara kamu". (QS. An-Nisa: 59).
Demikian tanggung jawab muslim terhadap bangsa dan negaranya, semoga artikel ini dapat bergunan bagi penulis khususnya dan untuk pembaca pada umumnya.
Baca juga kewajiban seorang muslim terhadap agamanya. Mudah-mudahan bermanfaat untuk arena sahabat sekalian dimana saja berada
Salam persahabatan, 
Wassalaamu'alaikum Wr. Wb.
More aboutTanggung Jawab Muslim Terhadap Bangsa dan Negara

Tanggung Jawab Muslim Terhadap Agama

Mengucapkan dua kalimat syahadat menjadi syarat pada tingkat pertama bagi seseorang yang hendak memeluk dan berpindah kepada agama Islam, hingga keislamannya itu sah dan diterima oleh Allah SWT.
Dua kalimat syahadat itu redaksinya sebagai berikut:
أَشْهَدُ ألا إله الا الله و أشْهَدُ ان مُحَمدا رَسُوْل الله
"Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan aku mengakui (bersaksi) bahwa Muhammad itu Rasul atau utusan Allah SWT". 
Kalimat pertama dari syahadat tersebut dinamai syahadat tauhid, yaitu pengakuan tentang keesaan ALLAH SWT, sedang kalimat kedua dinamai syahadat Rasul, yaitu pengakuan tentang kerasulan Nabi Muhammad SAW, bahwa beliau benar-benar utusan Allah SWT yang ditugaskan untuk menyampaikan agama kepada seluruh umat manusia.
Kedua kalimat syahadat itu merupakan kesatuan yang tak dapat dipisah-pisahkan. Orang yang hanya mengakui keesaan Allah, tetapi tidak mengakui kerasulan Muhammad, maka kesilamannya tidak sah.
Syahadat itu merupakan ikrar atau suatu perjanjian antara seseorang hamba dengan Allah SWT, bahwa ia akan selalu taat kepada-Nya. Maka setelah mengucapkan dua kalimat syahadat itu, mulailah terpikul di atas pundak orang yang sangkutan tanggung jawab sebagai seorang muslim.
Adapun tanggung jawab pertama ialah mempelajari seluk beluk agama Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah, serta mentaati dan mengamalkannya dengan sebaik-baiknya dalam kehidupan sehari-hari. Sebab tanpa taat dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya itu, berarti ia telah mengingkari syahadatnya dan belum dapat dinyatakan sebagai muslim yang sebenarnya.
Sedang ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya itu menjadi pokok pangkal bagi keselamatan dan kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat. Firman Allah SWT:
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
"Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan, yaitu kemenangan yang besar". (QS. Al-Ahzab: 71).
Di samping itu setiap Muslim bertanggung jawab pula untuk menyampaikan ajaran-ajaran agama itu kepada orang lain, yang berarti mengajak mereka kepada jalan yang benar dan lurus yang diridhai Allah, dan mencegah mereka dari jalan yang munkar. Mereka tidak boleh dibiarkan tenggelam dalam perbuatan jahat dan maksiat dan semua yang tidak sesuai dengan ajaran agama, sehingga masyarakat dapat diselamatkan dari kekacauan, kehancuran serta terhindar dari bencana dan hukuman Allah SWT. Membiarkan mereka berbuat jahat dan mungkar adalah merupakan perbuatan dosa, sebab berarti menyetujui perbuatan yang demikian itu. Firman Allah SWT:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
"Dan hendaklah kamu menjadi segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung". (QS. Ali Imran: 104)
Menyeru dan mengajak manusia kepada jalan agama Allah SWT itu hendaklah dengan cara bijaksana, memberikan nasihat dan bertukar fikiran yang baik. Semuanya dilakukan dengan akhlak yang mulia, pembawaan yang menarik, lemah lembut, sopan dan tidak kasar. Sebab sesuatu keyakinan yang dipaksakan atau diajarkan dengan kasar, hanyalah akan lebih menjauhkan orang dari agama yang diajarkannya itu. Firman Allah SWT:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
"Serulah (semua manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik". (QS. An-Nahl: 125).
Selanjutnya firman Allah SWT:
 فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
 "Maka disebabkan rahmat dari Allah, kamu berlaku lemah lebut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu". (QS. Ali Imran: 159).
Demikian artikel tentang tanggung jawab muslim terhadap agama, semoga artikel ini menjadi sebuah pelajaran dan renungan yang dapat bermanfaat.
More aboutTanggung Jawab Muslim Terhadap Agama

Kerjasama Usaha Bisnis dalam Ajaran Islam

Istilah atau definisi kerjasama usaha atau disebut juga syarikat, yaitu persekutuan antara dua orang atau lebih untuk mengadakan usaha, guna mendapatkan keuntungan bersama. Keuntungan ini dibagi di antara mereka berdasarkan ketentuan yang telah disepakati.
Kerjasama ini sangat penting dalam kehidupan manusia, yang dapat menimbulkan rasa setia kawan, sehingga mereka saling membantu dan bertolong-menolong (ta’awun alal birri) mencari rizki yang halal serta mewujudkan kesejahteraan hidup mereka. Sedang tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan adalah suatu keharusan yang utama dalam agama Islam.

Firman Allah SWT:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ
“Dan tolong-menolonglah kamu pada kebaikan dan ketakwaan, dan jangan bertolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan”. (QS. Al-Maidah : 2)
Manusia di alam dunia ini tidak mungkin dapat hidup sendiri-sendiri dalam mencukupi keperluannya masing-masing, sehingga mereka memerlukan kerjasama, baik dalam bidang perdagangan maupun dalam bidang pertanian. Sebab ada orang yang mempunyai modal, tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk menjalankan modal itu. Sebaliknya ada orang yang mempunyai tenaga dan kemampuan, tetapi tidak mempunyai modal. Atau mereka hanya mempunyai modal yang kecil saja, yang apabila dikumpulkan bersama menjadi modal yang besar, tentu akan mendapat keuntungan yang besar pula.

Dalam bidang pertanian juga demikian, ada orang yang mempunyai sawah atau kebun, tetapi mereka tidak mampu mengurus dan menanaminya untuk mendapatkan hasil. Sebaliknya ada orang yang mempunyai tenaga dan kemampuan untuk menggarap, tetapi tidak mempunyai lahan sawah atau kebun untuk digarap.

Demikian pula dalam mengerjakan suatu pekerjaan besar, seperti mengerjakan sebuah bangunan yang tidak mungking hanya dikerjakan oleh seorang diri, tetapi perlu diselesaikan oleh beberapa orang tenaga kerja yang mempunyai keahlian yang sama atau berbeda-beda.

Hal-hal tersebut di atas menunjukkan betapa perlunya orang mengadakan kerjasama usaha, untuk mendapatkan hasil atau keuntungan bagi kesejahteraan hidup mereka.

Kerjasama hendaklah dilandasi keikhlasan dan kejujuran, hingga tidak terjadi pengkhianatan, yang sangat merugikan bagi kerjasama tersebut. Hak-hak dan kewajiban anggota seperti pembagian keuntungan atau hasil harus berdasarkan keputusan musyawarah yang dita’ati oleh setiap anggota.

Kerjasama dalam bidang perdagangan. Jenis kerjasama dalam bidang perdagangan ada beberapa macam: diantaranya syarikat ‘inan atau harta, ialah perjanjian antara dua orang atau lebih untuk bersyarikat pada sejumlah harta yang tertentu atau menjalankan dengan maksud hendak mendapatkan keuntungan. Termasuk dalam hal ini Firma, Koperasi, dan Perseroan Terbatas.

Modal hendaklah jenis barang yang telah disepakati bersama, seperti uang, beras dan sebagainya, yang dapat ditakar, diukur dan ditimbang, sehingga jelas perbandingan modal masing-masing. Berdasarkan perbandingan tersebut dapatlah ditentukan keuntungan atau kerugian yang mungkin terjadi nanti bagi masing-masing anggota.

Setiap anggota di samping memberi modal boleh pula bekerja menjalankan harta syarikat, dan boleh pula yang bekerja itu hanya sebagian saja menurut kesepakatan bersama. Usaha bersama ini termasuk perbuatan terpuji yang dianjurkan oleh agama, dengan syarat masing-masing anggota bersikap jujur dan tidak khianat mengkhianati. Semua pekerjaan haruslah berasaskan kemashlahatan dan keuntungan bersama.

Sedangkan jenis usaha dalam bidang perdagangan berikutnya yaitu qirodh, yaitu memberi modal kepada orang lain buat diperdagangkan sedang keuntungan akan dibagi menurut perjanjian sewaktu akad.

Qirodh ini berlandaskan kepada sunnah fi’liyah (perilaku Nabi Muhammad SAW) sendiri, sewaktu beliau menerima modal dari Siti Khodijah buat diperdagangkan ke Negeri Syiria, juga berdasarkan ijma’ para sahabat. Dari masa jahiliah qiradh ini sudah dijumpai, kemudian oleh Islam disetujui.

Rukun yang harus ada pada kerjasama qiradh ini adalah sebagai berikut:
  • Modal, hendaklah diketahui dengan jelas banyaknya.
  • Pekerjaan, yaitu yang bekerja bebas menentukan jenis barang yang diperdagangkan, tempat berdagang dan cara kerjanya, asal ada harapan akan beroleh keuntungan yang halal.
  • Keuntungan, dibagi berdasarkan perjanjian yang telah ditentukan sewaktu akad.
  • Pemilik modal dan yang bekerja, hendaklah yang sudah baligh lagi berakal.
Kerjasama berikutnya dalam bidang perdagangan adalah syarikat kerja, ialah permufakatan di antara dua atau lebih untuk mengerjakan atau mengusahakan suatu pekerjaan, sedang hasilnya akan dibagi menurut perjanjian, umpamanya mendirikan bangunan, mencari ikan atau berburu dan lain sebagainya.

Jenis pekerjaan boleh berbeda menurut keahlian masing-masing, seperti tukang kayu, tukang batu, tukang besi, dan sebagainya. Demikian pula tenaga yang mereka keluarkan mungkin tidak sama. Karena itu besar kecilnya penghasilan seseorang ditentukan pula oleh berat ringannya tugas atau tanggung jawab.

Adapun kerjasama dalam bidang pertanian merupakan salah satu cara berusaha yang terpuji yang ada petunjuk teknisnya dalam agama Islam, karena mengandung unsur tolong menolong (ta’awun) dan bergotong-royong, seperti dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya Qur’an Surat Al-Maidah ayat 2 di atas.

Berikut ini akan dibahas mengenai musaqah, muzara’ah dan mukhabarah, yaitu kerjasama bagi hasil dalam pertanian, baik perkebunan maupun pertanian.

Musaqah (paroan kebun) ialah bila pemilik kebun menyerahkan pemeliharaan kebunnya kepada orang lain, sedang hasil tanaman akan dibagi menurut perbandingan yang telah disetujui sewaktu akad. Musaqah ini telah ada tuntunannya dari masa Nabi SAW berdasarkan sebuah hadits:

“Dari Ibnu Umar RA bahwa Nabi SAW menyerahkan pemeliharaan tanahnya kepada penduduk khaibar, dengan perjanjian mereka akan beroleh sebahagian dari hasilnya, baik berupa buah-buahan maupun tanam-tanaman” (HR. Muslim).

Muzaraah dan mukhabarah (paroan sawah dan ladang) ialah paroan sawah atau ladang, sedang benihnya dari pemilik tanah. Mukhabarah ialah paroan sawah atau ladang, sedang berihnya dari penggarap.

Muzaraah dan mukhabarah ini juga dianjurkan. Keterangan atau alasannya ialah hadits di atas yang menyatakan: “Baik berupa buah-buahan maupun hasil tanam-tanaman”.

Demikain jenis dan macam kerjasama usaha bisnis dalam Islam yang telah jelas cara dan tuntunannya. Semoga bermanfaat.
More aboutKerjasama Usaha Bisnis dalam Ajaran Islam

Macam-macam Jenis Dosa Besar

Selain dosa “Syirik” yang termasuk ke dalam dosa besar ada beberapa macam, di antaranya yang akan diuraikan berikut ini yaitu: Meminum minuman keras, berzina, membunuh orang dan bunuh diri.

Setiap Muslim haruslah menjauhi semua dosa, baik yang besar maupun yang kecil serta meminta ampunan kepada Allah jika telah terlanjur memperbuatnya, sehingga Allah akan tetap menempatkannya di tempat yang berbahagia di akhirat nanti, yaitu di dalam surga jannatun na’iim. Firman Allah SWT:

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا
“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosa mu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (Q.S. Annisa: 31)
Meminum Minuman Keras Adalah Dosa Besar

Manusia adalah makhluk yang dimuliakan oleh Allah SWT dari makhluk-makhluk lain, disebabkan akalnya yang mampu membedakan yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah, yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat baginya, serta mampu mengetahui dan menggali rahasia-rahasia alam ini untuk kesejahteraan hidupnya. Bahkan dengan akalnya itu manusia dapat mengetahui dan mempercayai adanya Allah, Tuhan yang Maha Pencipta alam semesta.

Akal adalah inventaris manusia yang paling berharga. Tanpa akal jadilah manusia hidup seperti hewan, dan mungkin akan lebih rendah lagi derajatnya. Maka kewarasan akal harus dipelihara dengan sebaik-baiknya.

Karena itu agama Islam telah melarang setiap muslim meminum minuman keras yang sifatnya memabukkan atau menghilangkan akal dan kewarasan fikiran, seperti : arak, tuak, bir, candu, narkotika, ganja, sabu-sabu, dan banyak lagi. Meminum banyak atau sedikit tetap haram dan terlarang, meskipun yang sedikit itu tidak sampai memabukkan. Firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang beriman, sesungguhnya (meminum) khamer, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syetan. Karena itu jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan”. (Q.S. Al-Maidah: 90).
Berdasarkan ayat tersebut, maka membiasakan meminum minuman keras adalah suatu pekerjaan syetan yang mencelakakan hidup manusia. Karena mabuk dan akal yang tidak waras, timbul perbuatan-perbuatan yang menyebabkan terjadinya perselisihan dan perkelahian serta hilangnya rasa malu, terbukanya rahasia dan aib pribadi, menghabiskan harta benda, bahkan sampai kepada pelacuran, perampokan, pembunuhan dan sebagainya. Pendeknya meminum minuman keras menjadi sumber dari segala kejahatan serta merusak keimanan, karena orang tidak sadar lagi mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang suruhan dan larangan Allah.

Rasulullah SAW telah bersabda:

اَلدِّيْنُ هُوَ اْلعَقْلُ وَمَنْ لاَ دِيْنَ لَهُ لاَ عَقْلَ لَهُ
“Agama adalah (sejalan dengan) akal, tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal”. (Al-Hadits)
Selain dari itu kebiasaan meminum minuman keras akan merusak organ-organ tubuh yang vital, seperti jantung, hati, lambung dan syaraf, sehingga memperpendek umur, sedang daya pikir otak makin lama makin lemah sehingga akhirnya tidak berfungsi lagi.

Setiap Muslim haruslah menyadari betapa besar bahaya dan akibat yang ditimbulkan oleh minuman keras (miras), hingga ia menjauhkan diri daripadanya.

Allah SWT memperingatkan lagi dalam firman-Nya:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا ۗ وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar (minuman keras) dan judi. Katakanlah: Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya”. (Q.S. Al-Baqarah: 219).
Berzina Adalah Perbuatan Dosa Besar

Zina ialah hubungan seksual antara pria dan wanita di luar ikatan perkawinan yang sah. Perzinaan merupakan perbuatan lacur, keji dan terkutuk yang termasuk golongan dosa besar, hingga Allah melarang perbuatan tersebut dengan firman-Nya:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati perbuatan zina itu, seseungguhnya perbuatan tersebut sangat keji dan jalan yang sangat sesat”. (Q.S Al-Isra: 32)
Perzinaan adalah perbuatan yang tidak bertanggung jawab sebagai pelampiasan nafsu birahi yang tak terkendalikan. Mungkin perbuatan tersebut bagi sementara orang sangat menyenangkan, tetapi akibat dan bahaya yang ditimbulkannya sangat besar, baik bagi diri pribadi maupun bagi keturunan anak-anak manusia.

Orang yang telah pernah melakukan perzinaan itu biasanya cenderung hendak mengulang lagi perbuatan itu, sampai berulang-ulang hingga menjadi kebiasaan, tanpa merasa takut, malu dan tanpa merasa berdosa.

Tetapi hendaklah disadari bahwa perbuatan tersebut sangat merugikan dirinya sendiri, karena ia akan mudah terserang penyakit kelamin (seperti aids) dan penularannya akan menyerang bagian-bagian tubuh lainnya seperti mata, hidung, kulit, muka, otak syaraf dan sebagainya yang akan menyebabkan kecacatan, kegilaan dan bahkan bisa berujung pada kematian.

Bukan hanya pelakunya saja yang akan menanggung akibat perbuatan zina itu. Tetapi anak-anak yang tidak berdosa akan ketularan penyakit kelamin, sehingga akan menderita cacat seumur hidupnya. Lagipula anak-anak yang dilahirkan akibat perbuatan zina, tidak mempunyai status yang jelas, siapa bapaknya dan siapa yang harus mengurusnya dan yang bertanggung jawab bagi kelangsungan hidupnya.

Di samping itu jika pihak pria tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya, maka tentu pihak wanitalah yang sangat dirugikan di mana ia akan melahirkan anak tanpa bapak yang sah, dan harus memikul biaya dan menanggung malu di tengah-tengah masyarakat. Kalaupun keduanya dikawinkan secara sah, biasanya hanya karena terpaksa saja dan tidak kekal dan segera akan berakhir dengan perceraian juga. Sebab dasar yang pertama dari hubungan mereka hanyalah karena nafsu semata.

Maka dapatlah difahami mengapa perbuatan zina sangat dilarang dalam agama Islam dan merupakan salah satu di antara dosa-dosa besar.

Di samping itu maka dapat pulalah difahami mengapa agama melarang pergaulan bebas antara pria dan wanita, berdua-duaan di tempat sunyi, bepergian tanpa muhrim bagi wanita, pandang memandang yang tidak perlu dan sebagainya. Sebab perbuatan-perbuatan tersebut dapat mengarah kepada terjadinya perzinaan yang terkutuk itu.

Maka hendaklah setiap muslim berhati-hati menjaga kehormatan dirinya, jangan sampai martabatnya jatuh dan tercemar oleh perbuatan keji yang dilakna oleh Allah SWT.

Membunuh Termasuk Dosa Besar

Menurut ajaran Islam setiap manusia mempunyai “Hak Hidup”, yang berhak menikmati hidupnya selama hayat di kandung badan, di mana saja ia berada. Sebab Allah telah menjamin hak hidup itu dengan menyediakan bumi ini untuk menjadi lapangan hidup bagi manusia. Mereka dapat mengambil manfaat apa-apa yang terdapat di muka bumi ini untuk kesejahteraan hidupnya. Firman Allah SWT:
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا
“Dia (Allah) telah menjadikan untukmu semua apa yang ada di muka bumi”. (Q.S. Al-Baqarah: 29).
Maka “Hak Hidup” merupakan hak azasi bagi manusia yang dihormati dan dilindungi oleh Islam. Oleh sebab itu membunuh orang tanpa alasan yang dibenarkan agama, sangat dilarang oleh Allah SWT dan merupakan sebesar-besar dosa, sehingga kepada pembunuh diberikan balasan yang setimpal dengan kesalahannya, yaitu hukuman yang berat di dunia atau dimasukkan ke dalam api neraka di akhirat nanti. Firman Allah SWT:

وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۗ وَمَنْ قُتِلَ مَظْلُومًا فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهِ سُلْطَانًا فَلَا يُسْرِفْ فِي الْقَتْلِ ۖ إِنَّهُ كَانَ مَنْصُورًا
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu alasan yang benar”. (Q.S Al-Isra: 33)
Selanjutnya firman Allah SWT:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا
“Barang siapa membunuh orang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka jahanam, kekal di dalamnya, Allah murka kepadanya, serta dikutuk oleh-Nya, dan disediakan baginya siksa yang benar”. (Q.S. An-Nisa: 93).
Membunuh orang adalah perbuatan biadab dan kejam, bengis dan tidak berperi kemanusiaan. Lebih-lebih lagi jika pembunuhan itu dilakukan dengan sewenang-wenang dan dianggap sebagai kebanggan, menunjukkan keberanian, kekuasaan dan keperkasaan. Perbuatan kejam tersebut nyata-nyata merusak bagi keselamatan dan ketentraman hidup manusia. Bahkan juga merusak bagi ketentraman jiwa pelakunya, dimana ia selalu dibayangi oleh orang yang dibunuhnya, suatu peristiwa yang tak akan pernah hilang dari ingatan selama hidupnya.

Setiap Muslim hendaklah menjauhkan dirinya dari membunuh orang lain atau sesamanya. Jika ada perselisihan, hendaklah diselesaikan dengan perundingan yang baik. Sifat pendendam hendaklah dihilangkan dengan memaafkan kesalahan orang terhadap kita. Hindarilah segala sikap, ucapan dan perbutan sewenang-wenang yang akan menimbulkan kebencian dan permusuhan.

Bunuh Diri Merupakan Dosa Besar

Tidak saja membunuh orang lain tetapi juga membunuh diri sendiri dilarang oleh Allah SWT. Perbuatan tersebut berarti menyia-nyiakan hidup dan termasuk pula dosa besar yang sangat terkutuk di sisi Allah, yang menyebabkan orang akan menerima siksa neraka di akhirat nanti. Firman Allah SWT:

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri, sesungguhnya Allah amat penyayang kepadamu”. (Q.S. Annisa: 29).
Orang yang membunuh diri adalah orang yang tidak sabar menghadapi kesulitan dan cobaan hidup serta tidak rela menerima ketentuan Allah atas dirinya. Ia berfikir picik, tidak berani dan tidak sanggup menghadapi kenyataan hidup yang dialaminya, sehingga ia mengambil jalan keluar yang sesat itu.

Mengatasi kesulitan hidup dengan membunuh diri, adalah perbuatan orang yang berputus asa dari rahmat Allah. Sedang sifat putus asa itu adalah sifat orang kafir yang tidak percaya kepada Allah. Itulah sebabnya bunuh diri sangat dimurkai dan dikutuk oleh-Nya. Firman Allah SWT:

ي وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, karena sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir”. (Q.S. Yusuf: 87)
Setiap muslim hendaklah memahami, bahwa keadaan hidup ini tidak ada yang kekal, selalu berubah menurut sunnah dan ketentuan Allah SWT. Tidak selamanya manusia mengalami hidup senang dan bahagia, tetapi pada suatu ketika ia akan mengalami kesulitan. Ketika hidup senang dan bahagia itu seharusnya ia bersyukur kepada Allah, sebaliknya ketika ia menemui kesulitan atau gagal dalam mencapai cita-cita ia tidak berputus asa, bahkan harus memantapkan iman kepada-Nya dengan keyakinan yang bulat bahwa Dia bersifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang terhadap hamba-Nya yang selalu percaya dan berharap kepada-Nya.

Sementara itu haruslah ia tidak berpangku tangan tetapi terus berusaha dan berikhtiar dengan segala daya, tenaga dan fikirannya mencapai cita-cita dan mengatasi serta melenyapkan segala kesulitan yang dihadapinya. Di samping itu bermohonlah kepada Allah akan rahmat dan perlindungan-Nya serta bertakwa dan bertaubat kepada-Nya. Dengan cara demikian itu tentu Allah akan memberikan jalan keluar yang baik dari kesulitan yang dialaminya. Firman Allah SWT:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
“Barang siapa yang benar-benar takwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dari kesulitan”. (Q.S. Ath Thalaq: 2)
More aboutMacam-macam Jenis Dosa Besar

Perkara Yang Dapat Merusak Iman

Ada banyak hal yang dapat merusak iman dan keyakinan seseorang, namun pada tulisan di bawah ini akan dibahas tiga hal saja yang paling berpengaruh pada keimanan manusia, yaitu: Syirik, Nifak dan Dosa Besar.

Ketiga hal di atas tentu saja harus kita waspadai agar tidak terjebak pada jalan yang salah dan berujung pada kecelakaan dunia dan akhirat. Nudzubillahi min dzaalik. Ketiga hal yang dapat merusak iman sesorang tersebuat adalah:

Pertama: Syirik Perusak Iman

Islam adalah agama tauhid, yaitu agama yang mempercayai dan meyakini bahwa pencipta dan pemelihara alam semesta ini hanyalah Allah SWT, Tuhan Maha Esa yang tidak ada sekutu bagi-Nya.

Tauhid adalah dasar terpenting dalam agama Islam, bahkan menjadi jiwa dan saripati agama itu. Tanpa tauhid agama itu menjadi batal dan tidak berarti sama sekali, hingga dengan sendirinya jatuh menjadi “Syirik”, orangnya disebut “Musyrik”.

Musyrik artinya orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang yang mempercayai tentang masih ada lagi Tuhan selain Allah tempat ia mengabdikan diri. Jadi seseorang telah dinyatakan musyrik apabila ia telah menghormati atau memuja sesuatu, menyamai atau melebihi penghormatan dan pemujaan kepada Allah, termasuk penyembahan kepada patung dan berhala, meminta-minta kepada kuburan atau benda-benda yang dianggap keramat, meyakini adanya benda-benda yang mempunyai kekuatan gaib yang dapat menjaga atau melindungi dirinya dari marabahaya seperti jimat dan lain-lain. Bahkan syirik itu bisa terjadi pula dalam berdo’a dengan menggunakan washilah atau memakai perantara.

Mempersekutukan Allah SWT adalah merupakan dosa besar yang tidak diampuni, karena mengandung keingkaran dan pengkhianatan terhadap pengakuan kekuasaan-Nya yang mutlak.

Keadaan orang musyrik itu telah digambarkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُ وَمَا لَا يَنْفَعُهُ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الضَّلَالُ الْبَعِيدُ

“Ia berdo’a meminta kepada selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat kepadanya; yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh” (QS. Al-Haj: 12)
Selanjutnya firman Allah dalam ayat lain:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (Syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sesungguhnya ia telah berbuat dosa yang besar” (Q.S An-Nisa: 48)
Termasuk pula kepada perbuatan musyrik ialah riyaa, yaitu beramal dan berbuat kebaikan karena mengharapkan pujian manusia. Mereka berbuat baik karena ingin dipuji dan dihargai jasanya. Riyaa ini dinamai oleh Nabi SAW dengan “Syirik yang halus”. Sifat tersebut merupakan penyakit rohani yang sangat buruk, niat yang tidak ikhlas, karena didasarkan berbakti kepada selain Allah SWT, dan bukan berbakti kepada Allah dan bukan karena mengharap ridha-Nya, sehingga tidak akan diterima oleh Allah SWT. Karena itu Rasulullah SAW telah memperingatkan dengan sabdanya:

عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ" قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: "الرِّيَاءُ، . أخرجه أحمد
“ Sesungguhnya yang paling kutakuti atasmu ialah syirik yang kecil, para sahabat bertanya: Apakah syirik kecil itu? Rasul menjawab: Riyaa.” (HR. Ahmad)
Mempersekutukan Allah SWT adalah perbuatan yang sangat merusak iman, dan sangat merendahkan martabat manusia sebagai makhluk yang dimuliakan Allah dari makhluk-makhluk yang lain. Perbuatan tersebut mematikan akal dan pikiran manusia, hingga mereka tidak menyadari bahwa mereka telah menempatkan dirinya berada di bawah kekuasaan makhluk atau benda yang lebih kecil daripadanya. Karena itu syirik menjadi sumber kekacauan fikiran manusia yang akan menimbulkan perbuatan yang akan merugikan hidupnya, sehingga Allah SWT memperingatkan dengan firman-Nya:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: Hai anak ku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah itu, nyata-nyata kezaliman yang besar”. (Q.S Luqman: 13)
Kedua: Nifak Perusak Iman
Orang yang nifak disebut munafik, menurut istilah agama ialah orang yang pada lahirnya menyatakan beriman kepada Allah dan ajaran-ajaran yang dikembangkan oleh Rasulullah SAW, tetapi pada batinnya ia tidak percaya sedikitpun. Mereka menamakan dirinya beragama Islam, tetapi sebenarnya mereka benci dan memusuhi Islam. Mereka menonjolkan diri sebagai penganut agama yang kuat dan setia, tetapi ketika pergi ke musuh-musuh Islam, mereka menyatakan bahwa sebenarnya mereka tidak percaya kepada ajaran-ajaran Islam itu.

Keadaan orang munafik itu telah dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya:

وَ مِنَ النَّاسِ مَن يَقُوْلُ آمَنَّا بِاللهِ وَ بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَ مَا هُم بِمُؤْمِنِيْنَ . يُخَادِعُوْنَ اللهَ وَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَ مَا يَخْدَعُوْنَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَ مَا يَشْعُرُوْنَ
“Diantara manusa ada yang mengatakan: Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri, sedang mereka tidak sadar” (QS. Al Baqarah: 8-9).
Di dalam pergaulan sehari-hari sebutan munafik sering dialamatkan kepada orang yang sikap hidupnya berpura-pura, tidak jujur, lain di mulut lain di hati, tidak sesuai perkataan dengan perbuatannya.

Orang munafik disebut juga orang yang bermuka dua. Sebenarnya mereka itu lebih berbahaya daripada orang musyrik dan orang kafir yang jelas pendirian mereka. Mereka merupakan musuh dalam selimut yang selalu berupaya untuk membuat kerusakan, tipu muslihat serta berkhianat dalam pergaulan. Akibatnya menimbulkan perselisihan, pergolakan dan ketidak tentraman yang amat merugikan dalam kehidupan masyarakat.

Sifat munafik itu adalah penyakit yang bersarang dalam hati manusia. Pada umumnya orang yang bersifat demikian sangat pandai menyembunyikan maksud jahatnya, pandai bermulut manis, sehingga orang mudah terpengaruh kepadanya. Mereka berlagak seperti pintar, tidak mau menerima nasihat dan peringatan orang, padahal sebenarnya mereka bodoh. Mereka adalah orang yang selalu dalam keragu-raguan, tidak berpendirian yang tetap, ibarat baling-baling di atas bukit, berputar menurut arah angin berhembus. Hidup mereka penuh dengan tipu muslihat, tujuan nya hanya mengacau dan merusak.

Mereka melakukan tipu muslihat itu tidak saja terhadap sesama manusia, tetapi juga terhadap Allah SWT. Jika ada orang yang melihatnya dia beramal ibadat dilakukannya seperti bersungguh-sungguh, tetapi bila tidak ada yang melihatnya dilakukan dengan bermalas-malasan atau setengah hati (karena keragu-raguannya itu). Mereka bersifat riyaa, tidak ikhlas, semata-mata mengharap pujian dan sanjungan, bukan didorong oleh rasa kesadaran dan tanggung jawab.

Sifat munafik adalah sifat yang amat rendah dan keji yang menunjukkan kebejatan akhlak seseorang. Iman menjadi rusak, karena perbuatannya sangat bertentangan dengan norma-norma agama nilai-nilai kemanusiaan, sehingga Allah SWT mengancam mereka dengan firman-Nya:

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا
“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik itu bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih” (QS. An-Nisa: 138)
Maka berhati-hatilah dengan sifat orang munafik ini, dan jauhilah sifat tersebut, karena sangat berbahaya bagi kehidupan masyarakat serta merusak bagi keimanan sehingga mendapat kemurkaan Allah SWT.

Rasulullah telah menjelaskan kebusukan hati orang munafik dengan ciri-ciri sebagimana dalam riwayat hadits berikut ini:
“Empat perkara, siapa yang ada empat perkara tersebut pada dirinya, dialah orang munafik, dan yang ada setengah dari empat perkara itu, termasuk pula setengah orang munafik sampai ia meninggalkan semuanya: 1. Bila berbicara dia berdusta 2. Kalau berjanji tidak ditepatinya 3. Jika telah menyanggupi (dipercaya) dia khianat 4. Manakala berbantah dia berkeras kepala”. (HR. Buhkhari dari Ibnu Umar)

Ketiga: Dosa Besar Perusak Iman

Dosa ialah perbuatan atau tingkah laku yang bertentangan atau melawan hukum dan peraturan-peraturan Allah SWT, yakni perbuatan jahat, keji dan maksiat yang tidak diridhoi oleh Allah.

Orang yang berdosa akan mendapat balasan siksa dari Allah dan tempatnya di dalam neraka jika tidak mendapat ampunan Allah SWT. Sedang kepada orang taat dan berbuat baik diberikan pahala, dan tempat nya di dalam surga. Firman Allah:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (Az Zalzalah: 7-8)
Dosa itu bertingkat-tingkat, ada yang besar dan ada pula yang kecil. Dinamakan dosa besar, karena besar bahaya dan akibatnya, sedang dosa yang kecil, karena kecil pula bahaya dan akibatnya. Semua dosa baik yang besar maupun yang kecil adalah terlarang memperbuatnya, karena berakibat buruk bagi pelakunya dan menyebabkan rusaknya keimanan seseorang.

Setiap orang dapat merasakan perbuatan yang mendatangkan pahala dan dosa itu. Perbuatan baik akan memberikan kesan yang baik pula kepada jiwa, dimana hatinya merasa tentram mengerjakannya, seperti taat beribadah, suka menolong, jujur, menepati janji dan sebagainya. Sebaliknya dosa memberikan kesan buruk kepada jiwa, sehingga orang diliputi kekhawatiran dan kegelisahan, tidak tentram dan tidak suka terlihat orang lain, seperti melanggar hukum Allah, berkhianat, menipu, mencuri, durhaka kepada ibu-bapak dan sebagainya. Nabi bersabda dalam sebuah hadits:

عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : البرّ حسن الخلق ، والإثم ما حاك في نفسك ، وكرهت أن يطلع عليه الناس - رواه مسلم .
“Kebaikan itu ialah baik kelakuan (tentram hatu melakukannya), dan dosa itu ialah sesuatu yang menggores di dalam dada (tidak tentram hati melakukannya) dan engkau tidak suka akan terlihat oleh orang”. (HR. Muslim).

Demikian hal-hal perkara yang dapat merusak iman seseorang, yaitu: Syirik, Nifak dan Dosa besar. Semoga kita selalu dapat menghindar dan menjauhi ketiga hal tersebut di atas.

By: Aswan
More aboutPerkara Yang Dapat Merusak Iman

Biografi dan Kisah Sejarah Perjuangan Nabi Ibrahim AS

Biografi dan Sejarah Perjuangan Nabi Ibrahim. Diantara Nabi yang wajib dikenal umat Islam adalah Nabi Ibrahim, karena selain termasuk nenek moyang Nabi Ibrahim pun panutan dan tuntunan kita dalam semangat berjihad menegakkan Dinul Islam.

Bila diurut silsilah Nabi Ibrahim ada sambungan darah langsung ke Nabi Nuh AS. Nabi Ibrahim merupakan putra Azar bin Tahur bin Saruj bin Rau’ bin Falij bin Abir bin Syalih bin Arfaksyad bin Saam Bin Nuh AS. Nabi Ibrahim terlahir di negara Babilonia tepatnya di Fadam A’ram yang ketika itu dirajai oleh seorang raja yang terkenal Namrud bin Kan’an.

Kerajaan Babilon yang dipimpin Namrud pada waktu itu tergolong negara yang subur makmur, rakyatnya dicekoki kecukupan hidup dalam keduniaan akan tetapi sayang kebutuhan rohaninya sangatlah gersang, hidup dalam kejahiliahan, sampai sampai rakyat kerajaan tersebut tidak dikenalkan dengan Maha Pencipta. Ibadah mereka dengan cara membuat sesembahan sendiri yang terbuat dari batu atau kayu yang dibuat oleh mereka sendiri.

Raja Namrud bin Kan’an sangat haus akan kekuasaan. Dia bersikap otoriter dalam memutuskan kebijakannya, dan dia juga sangat ingin dirinya dianggap sebagai Tuhan. Namrud bersikap baik terhadap rakyat yang mengagungkannya dan sebaliknya Dia bisa membunuh orang yang membangkang kepada dirinya.

Pada waktu berkuasanya Namrud atas kerajaan Babilonia dan kondisi masyarakatnya yang jahiliah, diutuslah Nabi Ibrahim oleh Allah SWT yang terlahir dari seorang pemahat patung pembuat Tuhan. Nabi Ibrahim merupakan Rasulullah untuk masyarakatnya dengan misi meluruskan keyakinan dan aqidah kepada jalan yang benar, menyembah Allah SWT Maha Pencipta Tuhan alam semesta.

Sebagai seorang anak dari bapak pembuat patung sembahan, diwaktu kecilnya Nabi Ibrahim telah memberontak dalam hatinya akan ketidakbenaran keyakinan menyembah sesuatu selain Allah SWT. Ketika disuruh mendagangkan barang milik bapaknya Ibrahim menawarkan dengan cara seolah mengejek pembelinya: Siapa yang mau membeli barang tidak berguna ini?

Nabi Ibrahim dan Pencarian Keteguhan Imannya

Sebelum terjun berdakwah Nabi Ibrahim AS memantapkan keimanannya dalam meneguhkan aqidahnya untuk menentramkan dan menghilangkan keragu-raguannya dalam hatinyan memohon kepada Allah SWT agar ditunjukkan bukti nyata bagaimana Allah SWT menghidupkan dan mematikan makhluk-Nya. Nabi Ibrahim berseru: Ya.. Tuhanku! Mohon perlihatkan kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan yang telah mati!!. Terjadilah dialog Allah menjawab seruannya dengan berfirman:Tidakkah engkau beriman dan percaya kepada kekuasaan-Ku? "Nabi Ibrahim menjawab:" Betul, wahai Tuhanku, aku telah beriman dan percaya kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu, namun aku ingin sekali melihat itu dengan mata kepala ku sendiri, agar aku mendapat ketenteraman dan ketenangan dan hatiku dan agar makin menjadi tebal dan kukuh keyakinanku kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu."

Allah memperkenankan permohonan Nabi Ibrahim lalu diperintahkanlah ia menangkap empat ekor burung lalu setelah memperhatikan dan meneliti bahagian tubuh-tubuh burung itu, memotongnya menjadi berkeping-keping mencampur-baurkan kemudian tubuh burung yang sudak hancur-luluh dan bercampur-baur itu diletakkan di atas puncak setiap bukit dari empat bukit yang letaknya berjauhan satu dari yang lain.
Setelah dikerjakan apa yang telah diisyaratkan oleh Allah itu, diperintahnyalah Nabi Ibrahim memanggil burung-burung yang sudah terkoyak-koyak tubuhnya dan terpisah jauh tiap-tiap bahagian tubuh burung dari bahagian yang lain.

Dengan izin Allah dan kuasa-Nya datanglah berterbangan enpat ekor burung itu dalam keadaan utuh bernyawa seperti sedia kala begitu mendengar seruan dan panggilan Nabi Ibrahim kepadanya lalu hinggaplah empat burung yang hidup kembali itu di depannya, dilihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah Yang Maha Berkuasa dapat menghidupkan kembali makhluk-Nya yang sudah mati sebagaimana Dia menciptakannya dari sesuatu yang tidak ada. Dan dengan demikian tercapailah apa yang diinginkan oleh Nabi Ibrahim untuk mententeramkan hatinya dan menghilangkan kemungkinan ada keraguan di dalam iman dan keyakinannya, bahwa kekuasaan dan kehendak Allah tidak ada sesuatu pun di langit atau di bumi yang dpt menghalangi atau menentangnya dan hanya kata "Kun" yang difirmankan Oleh-Nya maka terjadilah akan apa yang dikenhendaki " Fayakun".

Nabi Ibrahim Memulai Dakwah Kepada Ayahnya

Azar adalah ayah Nabi Ibrahim AS, ayahnya ini seperti disebutkan di atas sebagaimana kaumnya yang lain penyembah berhala bahkan lebih dari iatu ia adalah pedagang dari patung-patung yang dibuat dan dipahatnya sendiri. Dari ayahnya inilah orang-orang membeli patung-patung sesembahannya itu.
Setelah Allah memperlihatkan kepada Nabi Ibrahim bukti kemahakuasaan Allah, beliau merasa bahwa kewajiban pertama yang harus dilakukan sebelum berdakwah kepada orang lain ialah menyadarkan ayah kandungnya terlebih dahulu dan kemudian orang yang terdekat kepadanya bahwa kepercayaan dan persembahannya kepada berhala-berhala itu adalah perbuatan yang sesat dan bodoh. Beliau merasakan bahawa kebaktian kepada ayahnya mewajibkannya memberi penerangan kepadanya agar melepaskan kepercayaan yang sesat itu dan mengikutinya beriman kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Pendekatan berdakwah dengan sikap yang sopan dan adab yang patut ditunjukkan oleh seorang anak terhadap orang tuanya dan dengan kata-kata yang halus ia datang kepada ayahnya menyampaikan bahwa ia diutuskan oleh Allah sebagai nabi dan rasul dan bahawa ia telah diilhamkan dengan pengetahuan dan ilmu yang tidak dimiliki oleh ayahnya. Ia bertanya kepada ayahnya dengan lemah lembut gerangan apakah yang mendorongnya untuk menyembah berhala seperti lain-lain kaumnya padahal ia mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak berguna sedikit pun tidak dapat mendatangkan keuntungan bagi penyembahnya atau mencegah kerugian atau musibah. Diterangkan pula kepada ayahnya bahwa penyembahan kepada berhala-berhala itu adalah semata-mata ajaran syaitan yang memang menjadi musuh manusia sejak Adam diturunkan ke bumi lagi. Ia berseru kepada ayahnya agar merenungkan dan memikirkan nasihat dan ajakannya berpaling dari berhala-berhala dan kembali menyembah kepada Allah yang menciptakan manusia dan semua makhluk yang dihidupkan memberi merek rezeki dan kenikmatan hidup serta menguasakan bumi dengan segala isinya kepada manusia.

Tetapi, yang terjadi ayahnya itu (Aazar) menjadi marah, mukanya merah dan melotot matanya mendengar kata-kata seruan puteranya Nabi Ibrahim yang ditanggapinya sebagai dosa dan hal yang kurang patut dianggapnya puteranya itu telah berani mengecam dan menghina kepercayaan ayahnya bahkan mengajakkannya untuk meninggalkan kepercayaan itu dan menganut kepercayaan dan agama yang ia bawa. Ia tidak menyembunyikan kemarahannya, tetapi dinyatakannya dalam kata-kata yang kasar dan dalam maki seakan-akan tidak ada hubungan diantara mereka. IA berkata kepada Nabi Ibrahim dengan nada gusar: " Hai Ibrahim! Berpalingkah engkau dari kepercayaan dan persembahanku ? Dan kepercayaan apakah yang engkau berikan kepadaku yang menganjurkan agar aku mengikutinya? Janganlah engkau membangkitkan amarahku dan cuba mendurhakaiku.Jika engkau tidak menghentikan penyelewenganmu dari agama ayahmu tidak engkau hentikan usahamu mengecam dan memburuk-burukkan persembahanku, maka keluarlah engkau dari rumahku ini. Aku tidak sudi bercampur denganmu didalam suatu rumah di bawah suatu atap. Pergilah engkau dari mukaku sebelum aku menimpamu dengan batu dan mencelakakan engkau."

Nabi Ibrahim menerima kemarahan ayahnya, pengusirannya dan kata-kata kasarnya dengan sikap tenang, normal selaku anak terhadap ayah seray berkaat: " Oh ayahku! Semoga engkau selamat, aku akan tetap memohonkan ampun bagimu dari Allah dan akan tinggalkan kamu dengan persembahan selain kepada Allah. Mudah-mudahan aku tidak menjadi orang yang celaka dan malang dengan doaku utkmu." Lalu keluarlah Nabi Ibrahim meninggalkan rumah ayahnya dalam keadaan sedih dan prihati karena tidak berhasil mengangkatkan ayahnya dari lembah syirik dan kufur.

Nabi Ibrahim Berdakwah kepada Masyarakat ;Menghancurkan Berhala-berhala

Kegagalan Nabi Ibrahim dalam usahanya menyedarkan ayahnya yang tersesat itu sangat menusuk hatinya karena ia sebagai putera yang baik ingin sekali melihat ayahnya berada dalam jalan yang benar terangkat dari lembah kesesatan dan syirik namun ia sedar bahwa hidayah itu adalah di tangan Allah dan bagaimana pun ia ingin dengan sepenuh hatinya agar ayahnya mendpt hidayah, bila belum dikehendaki oleh Allah maka sia-sialah keinginan dan usahanya.
Penolakan ayahnya terhadap dakwahnya dengan cara yang kasar dan kejam itu tidak sedikit pun mempengaruhi ketetapan hatinya dan melemahkan semangatnya untuk berjalan terus memberi penerangan kepada kaumnya untuk menyapu bersih persembahan-persembahan yang bathil dan kepercayaan-kepercayaan yang bertentangan dengan tauhid dan iman kepada Allah dan Rasul-Nya

Nabi Ibrahim tidak henti-henti dalam setiap kesempatan mengajak kaumnya berdialog dan bermujadalah tentang kepercayaan yang mereka anut dan ajaran yang ia bawa. Dan ternyata bahwa bila mereka sudah tidak berdaya menilak dan menyanggah alasan-alasan dan dalil-dalil yang dikemukakan oleh Nabi Ibrahim tentang kebenaran ajarannya dan kebathilan kepercayaan mereka maka dalil dan alasan yang usanglah yang mereka kemukakan iaitu bahwa mereka hanya meneruskan apa yang oleh bapa-bapa dan nenek moyang mereka dilakukan dan sesekali mereka tidak akan melepaskan kepercayaan dan agama yang telah mereka warisi.

Nabi Ibrahim pada akhirnya merasa tidak bermanfaat lagi berdebat dan bermujadalah dengan kaumnya yang berkepala batu dan yang tidak mahu menerima keterangan dan bukti-bukti nyata yang dikemukakan oleh beliau dan selalu berpegang pada satu-satunya alasan bahwa mereka tidak akan menyimpang dari cara persembahan nenek moyang mereka, walaupun oleh Nabi Ibrahim dinyatakan berkali-kali bahwa mereka dan bapa-bapa mereka keliru dan tersesat mengikuti jejak syaitan dan iblis.
Nabi Ibrahim kemudian merancang akan membuktikan kepada kaumnya dengan perbuatan yang nyata yang dapat mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri bahwa berhala-berhala dan patung-patung mereka betul-betul tidak berguna bagi mereka dan bahkan tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri.

Adalah sudah menjadi tradisi dan kebiasaan penduduk kerajaan Babylon bahwa setiap tahun mereka keluar kota beramai-ramai pada suatu hari raya yang mereka anggap sebagai keramat. Berhari-hari mereka tinggal di luar kota di suatu padang terbuka, berkhemah dengan membawa bekalan makanan dan minuman yang cukup. Mereka bersuka ria dan bersenang-senang sambil meninggalkan kota-kota mereka kosong dan sunyi. Mereka berseru dan mengajak semua penduduk agar keluar meninggalkan rumah dan turut beramai -ramai menghormati hari-hari suci itu. Nabi Ibrahim yang juga turut diajak turut serta berlagak berpura-pura sakit dan diizinkanlah ia tinggal di rumah apalagi mereka merasa khuatir bahwa penyakit Nabi Ibrahim yang dibuat-buat itu akan menular dan menjalar di kalangan mereka bila ia turut serta.

" Inilah dia kesempatan yang ku nantikan," kata hati Nabi Ibrahim tatkala melihat kota sudah kosong dari penduduknya, sunyi senyap tidak terdengar kecuali suara burung-burung yang berkicau, suara daun-daun pohon yang gemerisik ditiup angin kencang. Dengan membawa sebuah kapak ditangannya ia pergi menuju tempat beribadatan kaumnya yang sudah ditinggalkan tanpa penjaga, tanpa juru kunci dan hanya deretan patung-patung yang terlihat diserambi tempat peribadatan itu. Sambil menunjuk kepada semahan bunga-bunga dan makanan yang berada di setiap kaki patung berkata Nabi Ibrahim, mengejek:" Mengapa kamu tidak makan makanan yang lazat yang disaljikan bagi kamu ini? Jawablah aku dan berkata-katalah kamu."
Kemudian disepak, ditamparlah patung-patung itu dan dihancurkannya berpotong-potong dengan kapak yang berada di tangannya. Patung yang besar ditinggalkannya utuh, tidak diganggu yang pada lehernya dikalungkanlah kapak Nabi Ibrahim itu.

Terperanjat dan terkejutlah para penduduk, tatkala pulang dari berpesta ria di luar kota dan melihat keadaan patung-patung, tuhan-tuhan mereka hancur berantakan dan menjadi potongan-potongan terserak-serak di atas lantai. Bertanyalah satu kepada yang lain dengan nada heran dan takjub: "Gerangan siapakah yang telah berani melakukan perbuatan yang jahat dan keji ini terhadap tuhan-tuhan persembahan mereka ini?" Berkata salah seorang diantara mereka:" Ada kemungkinan bahwa orang yang selalu mengolok-olok dan mengejek persembahan kami yang bernama Ibrahim itulah yang melakukan perbuatan yang berani ini." Seorang yang lain menambah keterangan dengan berkata:" Bahkan dialah yang pasti berbuat, karena ia adalah satu-satunya orang yang tinggal di kota sewaktu kami semua berada di luar merayakan hari suci dan keramat itu." Selidik punya selidik, akhirnya terdpt kepastian yyang tidak diragukan lagi bahwa Ibrahimlah yang merusakkan dan memusnahkan patung-patung itu. Rakyat kota beramai-ramai membicarakan kejadian yang dianggap suatu kejadian atau penghinaan yang tidak dpt diampuni terhadap kepercayaan dan persembahan mereka. Suara marah, jengkel dan kutukan terdengar dari segala penjuru, yang menuntut agar si pelaku diminta bertanggungjawab dalam suatu pengadilan terbuka, di mana seluruh rakyat penduduk kota dapat turut serta menyaksikannya.

Dan memang itulah yang diharapkan oleh Nabi Ibrahim agar pengadilannya dilakukan secara terbuka di mana semua warga masyarakat dapat turut menyaksikannya. Karena dengan cara demikian beliau dapat secara terselubung berdakwah menyerang kepercayaan mereka yang bathil dan sesat itu, seraya menerangkan kebenaran agama dan kepercayaan yang ia bawa, kalau diantara yang hadir ada yang masih boleh diharapkan terbuka hatinya bagi iman dari tauhid yang ia ajarkan dan dakwahkan.
Hari pengadilan ditentukan dan datang rakyat dari segala pelosok berduyung-duyung mengujungi padang terbuka yang disediakan bagi sidang pengadilan itu.

Ketika Nabi Ibrahim datang menghadap para hakim yang akan mengadili ia disambut oleh para hadirin dengan teriakan kutukan dan cercaan, menandakan sangat gusarnya para penyembah berhala terhadap beliau yang telah berani menghancurkan persembahan mereka.
Ditanyalah Nabi Ibrahim oleh para hakim:" Apakah engkau yang melakukan penghancuran dan merusakkan tuhan-tuhan kami?" Dengan tenang dan sikap dingin, Nabi Ibrahim menjawab:" Patung besar yang berkalungkan kapak di lehernya itulah yang melakukannya. Cuba tanya saja kepada patung-patung itu siapakah yang menghancurkannya." Para hakim penanya terdiam sejenak seraya melihat yang satu kepada yang lain dan berbisik-bisik, seakan-akan Ibrahim yang mengandungi ejekan itu. Kemudian berkata si hakim:" Engkaukan tahu bahwa patung-patung itu tidak dapat bercakap dan berkata mengapa engkau minta kami bertanya kepadanya?" Tibalah masanya yang memang dinantikan oleh Nabi Ibrahim,maka sebagai jawapan atas pertanyaan yang terakhir itu beliau berpidato membentangkan kebathilan persembahan mereka,yang mereka pertahankan mati-matian, semata-mata hanya karena adat itu adalah warisan nenek-moyang. Berkata Nabi Ibrahim kepada para hakim itu:" Jika demikian halnya, mengapa kamu sembah patung-patung itu, yang tidak dapat berkata, tidak dapat melihat dan tidak dapat mendengar, tidak dapat membawa manfaat atau menolak mudharat, bahkan tidak dapat menolong dirinya dari kehancuran dan kebinasaan? Alangkah bodohnya kamu dengan kepercayaan dan persembahan kamu itu! Tidakkah dapat kamu berfikir dengan akal yang sihat bahwa persembahan kamu adalah perbuatan yang keliru yang hanya difahami oleh syaitan. Mengapa kamu tidak menyembah Tuhan yang menciptakan kamu, menciptakan alam sekeliling kamu dan menguasakan kamu di atas bumi dengan segala isi dan kekayaan. Alangkah hina dinanya kamu dengan persembahan kamu itu."

Setelah selesai Nabi Ibrahim menguraikan pidatonya, para hakim mencetuskan keputusan bahawa Nabi Ibrahim harus dibakar hidup-hidup sebagai ganjaran atas perbuatannya menghina dan menghancurkan tuhan-tuhan mereka, maka berserulah para hakim kepada rakyat yang hadir menyaksikan pengadilan itu:" Bakarlah ia dan belalah tuhan-tuhanmu , jika kamu benar-benar setia kepadanya."

Nabi Ibrahim AS Vs Penguasa; Nabi Ibrahim AS Dibakar Hidup-hidup

Keputusan mahkamah telah dijatuhakan.Nabi Ibrahim harus dihukum dengan membakar hidup-hidup dalam api yang besar sebesar dosa yang telah dilakukan. Persiapan bagi upacara pembakaran yang akan disaksikan oleh seluruh rakyat sedang diaturkan. Tanah lapang bagi tempat pembakaran disediakan dan diadakan pengumpulan kayu bakar dengan banyaknya dimana tiap penduduk secara gotong-royong harus mengambil bahagian membawa kayu bakar sebanyak yang ia dapat sebagai tanda bakti kepada tuhan-tuhan persembahan mereka yang telah dihancurkan oleh Nabi Ibrahim.

Berduyun-duyunlah para penduduk dari segala penjuru kota membawa kayu bakar sebagai sumbangan dan tanda bakti kepada tuhan mereka. Di antara terdapat para wanita yang hamil dan orang yang sakit yang membawa sumbangan kayu bakarnya dengan harapan memperolehi barakah dari tuhan-tuhan mereka dengan menyembuhkan penyakit mereka atau melindungi yang hamil di kala ia bersalin.
Setelah terkumpul kayu bakar di lanpangan yang disediakan untuk upacara pembakaran dan tertumpuk serta tersusun laksan sebuah bukit, berduyun-duyunlah orang datang untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman atas diri Nabi Ibrahim. Kayu lalu dibakar dan terbentuklah gunung berapi yang dahsyat yang sedang berterbangan di atasnya berjatuhan terbakar oleh panasnya uap yang ditimbulkan oleh api yang menggunung itu. Kemudian dalam keadaan terbelenggu, Nabi Ibrahim didtgkan dan dari atas sebuah gedung yang tinggi dilemparkanlah ia kedalam tumpukan kayu yang menyala-nyala itu dengan iringan firman Allah:" Hai api, menjadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim."

Sejak keputusan hukuman dijatuhkan sampai saat ia dilemparkan ke dalam bukit api yang menyala-nyala itu, Nabi Ibrahim tetap menunjukkan sikap tenang dan tawakkal karena iman dan keyakinannya bahwa Allah tidak akan rela melepaskan hamba pesuruhnya menjadi makanan api dan kurban keganasan orang-orang kafir musuh Allah. Dan memang demikianlah apa yang terjadi tatkala ia berada dalam perut bukit api yang dahsyat itu ia merasa dingin sesuai dengan seruan Allah Pelindungnya dan hanya tali temali dan rantai yang mengikat tangan dan kakinya yang terbakar hangus, sedang tubuh dan pakaian yang terlekat pada tubuhnya tetap utuh, tidak sedikit pun tersentuh oleh api, hal mana merupakan suatu mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada hamba pilihannya, Nabi Ibrahim, agar dapat melanjutkan penyampaian risalah yang ditugaskan kepadanya kepada hamba-hamba Allah yang tersesat itu.

Para penonton upacara pembakaran heran tercenggang tatkala melihat Nabi Ibrahim keluar dari bukit api yang sudah padam dan menjadi abu itu dalam keadaan selamat, utuh dengan pakaiannya yang tetap berda seperti biasa, tidak ada tanda-tanda sentuhan api sedikitpun. Mereka bersurai meninggalkan lapangan dalam keadaan heran seraya bertanya-tanya pada diri sendiri dan di antara satu sama lain bagaimana hal yang ajaib itu berlaku, padahal menurut anggapan mereka dosa Nabi Ibrahim sudah nyata mendurhakai tuhan-tuhan yang mereka puja dan sembah. Ada sebahagian daripada mereka yang dalam hati kecilnya mulai meragui kebenaran agama mereka namun tidak berani melahirkan rasa ragu-ragunya itu kepada orang lain, sedang para pemuka dan para pemimpin mereka merasa kecewa dan malu, karena hukuman yang mereka jatuhkan ke atas diri Nabi Ibrahim dan kesibukan rakyat mengumpulkan kayu bakar selama berminggu-minggu telah berakhir dengan kegagalan, sehingga mereka merasa malu kepada Nabi Ibrahim dan para pengikutnya.

Mukjizat yang diberikan oleh Allah SWT kepada Nabi Ibrahim sebagai bukti nyata akan kebenaran dakwahnya, telah menimbulkan kegoncangan dalam kepercayaan sebahagian penduduk terhadap persembahan dan patung-patung mereka dan membuka mata hati banyak daripada mereka untuk memikirkan kembali ajakan Nabi Ibrahim dan dakwahnya, bahkan tidak kurang daripada mereka yang ingin menyatakan imannya kepada Nabi Ibrahim, namun khuatir akan mendapat kesukaran dalam penghidupannya akibat kemarahan dan balas dendam para pemuka dan para pembesarnya yang mungkin akan menjadi hilang akal bila merasakan bahwa pengaruhnya telah bealih ke pihak Nabi Ibrahim.

Demikian Biografi dan Kisah Sejarah Perjuangan Nabi Ibrahim AS yang patut kita teladani bersama, bagaimana perjuangan dan pengorbanannya dalam berdakwah.
More aboutBiografi dan Kisah Sejarah Perjuangan Nabi Ibrahim AS

Proses Terbentuknya Persaudaraan Umat Islam

Islam menjadikan persaudaraan dalam Islam dan Iman sebagai dasar bagi aktifitas perjuangan untuk menegakkan agama Allah di muka bumi. Ukhuwah islamiyah akan melahirkan rasa kesatuan dan menenangkan hati manusia. Banyak persaudaraan lain yang bukan karena islam dan persaudaraan itu tidak akan kuat dan kekal. Persaudaraan Islam yang dijalin oleh Allah SWT merupakan ikatan terkuat yang tiada tandingannya.
Perpecahan dikalangan umat dewasa ini terjadi disebabkan mereka tidak memenuhi persyaratan ukhuwah, yaitu kurangnya mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah yang bersungguh-sungguh. Allah SWT berfirman, ketaatan beribadah dan ketakwaan sebagai solusi dari perpecahan umat. Lihat Q.S.49:10 dan 8 :1
Oleh karena itu untuk mencapai nikmatnya ukhuwah, perlu kita ketahui beberapa proses terbentuknya ukhuwah islamiyah antara lain :

1. Melaksanakan proses ta’aruf (saling mengenal).
Literaturnya : 49:13
Adanya interaksi dapat lebih mengenal karakter individu. Perkenalan pertama tentunya kepada penampilan fisik (Jasadiyyan), seperti tubuh, wajah, gaya pakaian, gaya bicara, tingkah laku, pekerjaan, pendidikan, dsb. Selanjutnya interaksi berlanjut ke pengenalan pemikiran(Fikriyyan). Hal ini dilakukan dengan dialog, pandangan thd suatu masalah, kecenderungan berpikir, tokoh idola yang dikagumi/diikuti,dll. Dan pengenalan terakhir adalah mengenal kejiwaan (Nafsiyyan) yang ditekankan kepada upaya memahami kejiwaan, karakter, emosi, dan tingkah laku. Setiap manusia tentunya punya keunikan dan kekhasan sendiri yang memepengaruhi kejiwaannya. Proses ukuhuwah islamiyah akan terganggu apabila tidak mengenal karakter kejiwaan ini.

2. Melaksanakan proses tafahum (saling memahami) Al-Hadits
Saling memahami adalah kunci ukhuwah islamiyah. Tanpa tafahum maka ukhuwah tidak akan berjalan. Proses ta’aruf/pengenalan dapat deprogram namun proses tafahum dapat dilakukan secara alami bersamaan dgn berjalannya ukhuwah. Dengan saling memahami maka setiap individu akan mudah mengatahui kekuatan dan kelemahannya dan menerima perbedaan. Dari sini akan lahirlah ta’awun (saling tolong menolong) dalam persaudaraan.
Ukhuwah tidak dapat berjalan apabila seseorang selalu ingin dipahami dan tidak berusaha memahami org lain. Saling memahami keadaan dilakukan dgn cara penyatuan hati, pikiran dan amal. Allah-lah yang menyatukan hati manusia.

3. Melakukan At-Ta’aawun (saling tolong menolong). Q.S. 5::2
Bila saling memahami sudah lahir maka timbullah rasa ta’awun. Ta’awun dapat dilakukan dengan hati (saling mendo’akan), pemikiran (berdiskusi dan saling menasehati), dan ama( saling Bantu membantu).
Saling membantu dalan kebaikan adalah kebahagiaan tersendiri. Manusia adalah makhluk social yang butuh berinteraksi dan butuhbantuan org lain. Kebersamaan akan bernila bila kita mengadakan saling Bantu membantu.

4. Melaksanakan proses takaful (saling menanggung/senasib sepenanggungan)
yang muncul setelah proses ta’awun berjalan. Rasa sedih dansenang diselesaikan bersama. Takaful adalah tingkatan ukhuwah yang tertinggi. Banyak kisah dan hadits Nabi SAW dan para sahabat yang menunjukkan pelaksanaan takaful ini. Seperti ketika seorang sahabat kehausan dan memberikan jatah airnya kepada sahabat lainnya yang merintih kehausan juga, namun setelah diberi, air itu diberikan lagi ek sahabat yang lain, terus begitu hingga semua mati dalam kondisi kehausan. Mereka saling mengutamakan saudaranya sendiri dibandingkan dirinya (itsar). Inlah cirri utama dari ukhuwah islamiyah.
Hadits : Tidak beriman seseorang diantaramu hingga kamu mencintainya seperti kamu mencintai dirimu sendiri (HR. Bukhari-Muslim).

Betapa indah ukhuwah islamiyah yang diajarkan Allah SWT. Bila umat Islam melakukannya, tentunya terasa lebih manis rasa iman di hati dan terasa indah hidup dalam kebersamaan. Kesatuan barisan dan umat berarti bersatu fikrah/pemikiran dan tujuan tanpa menghilangkan perbedaan dalam karakter (kejiwaan). Inilah kekuatan Islam. Mari kita mulai dari diri kita, keluarga, masyarakat dekat untuk menjalin persaudaraan islam ini.
More aboutProses Terbentuknya Persaudaraan Umat Islam

Pengertian dan Macam-macam Dzikir | Dzikrulloh

Asal kata "Dzikir" berasal dari bahasa Arab yaitu "Ad-Dzikru" yang berarti menyebut, menuturkan, mengingat, menjaga, mengerti perbuatan baik. Ucapan lisan, gerak raga, maupun getaran hati sesuai dengan cara-cara yang diajarkan agama dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt untuk menyingkirkan keadaan lupa dan lalai kepada Allah Swt dengan selalu ingat kepada-Nya, keluar dari suasana lupa, masuk ke dalam suasana musyahadan (saling menyaksikan) dengan mata hati, akibat di dorong rasa cinta yang mendalam kepada Allah Swt.

Sedangkan dzikir menurut terminologi berarti mengingat Allah Swt dengan maksud untuk taqarrub (mendekatkan) diri kepada-Nya.

Selain itu, dzikir pula dapat diartikan menghadirkan kebesaran Allah Swt di dalam hati seorang hamba, dengan membaca kalimat-kalimat yang diriwayatkan didalamnya dan memohon untuk memperbanyaknya.

Al-Hafidz berkata dalam kitabnya yaitu Al-Fath, “Dimutlakkan dan dimaksudkan dengan dzikir itu adalah berkeinginan keras untuk mengerjakan apa yang diwajibkan Allah atau disunahkan-Nya.”

Oleh karenanya, dzikir merupakan suatu urusan yang sangat besar sekali penilaiannya menurut pandangan Allah Swt. Sesuai dengan Firman-Nya dalam surat Al-Ankabut:45

Adapun macam-macam Dzikir~ Ibnu Ata, seorang sufi yang menulis Al-Hikam (kata-kata hikmah) membagi dzikir kepada tiga bagian, yaitu dzikir jali (dzikir jelas, nyata), dzikir khafi (dzikir yang samar-samar) dan dzikir haqiqi (dzikir yang sebenar-benarnya).

Dzikir Jali (dzikir jelas, nyata)
Dzikir jali ialah suatu perbuatan mengingat Allah Swt dalam bentuk ucapan lisan yang mengandung arti pujian, rasa syukur dan do’a kepada Allah Swt yang lebih menampakkan suara yang jelas untuk menuntun gerak hati. Misalnya, membacakan tahlil (mengucapkan kalimat Laa ilaaha illa Allah = tiada Tuhan selain Allah), tasbih (mangucapkan kalimat subhaana Allah = Maha suci Allah), takbir (mengucapkan kalimat Allahu Akbar = Allah Maha Besar), membaca Al-Qur’an atau do’a lainnya. Mula-mula dzikir ini diucapkan lisan, mungkin tanpa disertai ingatan hati. Hal ini biasanya dilakukan oleh orang awam (orang kebanyakan). Tapi hal ini dimaksudkan untuk mendorong agar hatinya hadir menyertai ucapan-ucapan lisan itu.

Dzikir jali terbagi kepada dua bagian, yaitu:
Yang bersifat Muqayyad (terikat) dengan waktu, tempat atau amalan tertentu lainnya. Misalnya ucapan-ucapan dalam shalat, ketika melakukan ibadah haji, do’a-do’a yang diucapkan ketika akan makan, sesudah makan, akan tidur, bangun tidur, pergi keluar rumah, mulai bekerja, mulai belajar, melihat teman berbaj baru dan sebagainya. Banyak ayat Al-Qur’an yang isinya perintah dari Allah Swt agar manusia senantiasa berdzikir kepada Allah Swt. Beberapa diantaranya adalah:

- Surat An-Nisa : 103
Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu Telah merasa aman, Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.
- Surat Al-Ahzab : 34
Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.
Yang bersifat Mutlak (tidak terikat dengan waktu atau tempat) misalnya, mengucapkan tahlil, tasbih, tahmid dan takbir dimana saja dan kapan saja.

Begitu juga menurut Ar-Razi, “Yang di maksud dengan dzikir lisan ialah membaca kalimat-kalimat yang menunjukkan pada bacaan tasbih,tahmid dan tamjid.”

Oleh karena itu, agar dapat khusyuk dalam berdzikir secara lisan hendaknya kita mengarahkan hati kepada Zat yang Maha Kuasa dan menghayati makna kalimat tayyibah yang kita ucapkan.
Dzikir Khafi (dzikir yang samar-samar)

Dzikir Khafi adalah dzikir yang dilakukan secara khusyuk oleh ingatan hati, baik disertai dzikir lisan, ataupun tidak. Orang yang sudah mampu melakukan dzikir sepeti ini hatinya merasa senantiasa memiliki hubungan dengan Allah Swt. Ia selalu merasakan kehadiran Allah Swt kapan dan dimana saja.

Dzikir Khafi juga mempunyai arti yaitu mengingat Allah Swt dengan bertafaqur (berfikir) memiirkan ciptaan-Nya, baik yang ada di diri kita maupun yang ada di alam ini. Misalnya ketika kita bernafas kita mengingat Allah, ketika makan kita bersyukur kepada Allah, ketika melihat pemandangan yang indah kita mengingat kekuasaan Allah. Hendaknya hati kita selalu mengingat Allah dalam segala situasi apapun, karena rahmat Allah Swt atas hamba-hambaNya tidak tenilai,Firman Allah Swt(Ar-Ra’du:28)
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
Menurut Ar-razi, dzikir dengan hati adalah memikirkan bukti-bukti dzat dan sifat serta bukti-bukti taklif yang berupa perintah dan larangan sehingga dia bisa mengetahui hukum-hukumNya dan mengetahui rahasia-rahasia makhluk-Nya.

Dzikir Haqiqi (dzikir yang sebenar-benarnya)
Dzikir Haqiqi merupakan tingkat dzikir yang paling tinggi yaitu dzikir yang dilakukan oleh seluruh jiwa raga, lahiriah dan batiniah,kapan dan dimana saja, dengan memperketat upaya untuk memelihara seluruh jiwa raga dari larangan Allah Swt dan mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya. Selain itu tiada yang di ingat selain Allah Swt untuk mencapai tingkatan dzikir haqiqi ini perlu dijalani latihan-latihan mulai dari tingkatan dzikir jali dan Khafi.

Dzikir itu pada hakikatnya adalah dzikir lisan dan orang yang megucapkan dzikir itu akan di beri pahala. Dalam dzikir itu tidak disyaratkan konsentrasi penghayatan arti dzikir itu, tapi hanya disyaratkan, bahwa dzikir itu tidak dimaksudkan selain Allah. Jika orang yang berdzikir itu menggabungkan dzikir lisan dan dzikir hati, maka itulah dzikir yang paling sempurna. Dan jika kedua dzikir itu digabungkan dengan konsentrasi penghaatan makna dzikir tersebut bersama apa yang terkandung dalam dzikir itu seperti pengagungan Allah Swt dan pengingkaran segala sifat kurang bagi Allah itu, maka nilai dzikirnya bertambah sempurna lagi. Jika konsentrasi semua dzikir itu dalam setiap amal shaleh yang termasuk fardhu seperti shalat, atau jihad atau selain keduanya, maka nilainya sangat tinggi. Lalu jika betul niatnya dan ikhlas karena Allah, maka dzikir itu paling tinggi lagi kesempurnaannya.

Menurut Fakhrur Razi, dzikir anggota badan ialah dengan cara menjadikan anggota badan itu asyik melaksanakan kepatuhan atau ibadah kepada Allah. Itulah sebabnya Allah Swt menamai shalat itu dengan dziir, sebagai mana Firman-Nya(Al-Jumu’ah:9)
Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui.
Sebagian ulama ahli ma’rifah (ulama tasawuf) mengatakan bahwa dzikir itu ada 7 bagian badan, yaitu:
1. Dzikir kedua mata dengan menangis sewaktu mengingat dan menyebut nama Allah.
2. Dzikir dua telinga dengan mendengarkan ajaran Allah dengan penuh perhatian.
3. Dzikir lidah dengan sanjungan dan pujian.
4. Dzikir dua tangan dengan suka memberi pertolongan.
5. Dzikir badan dengan kesetiaan dan pemenuhan kewajban.
6. Dzikir hati dengan takut kepada Allah, disertai harap kepada-Nya.
7. Dzikir ruh dengan penyerahan sepenuhnya dan Ridha kepada-Nya.

Sudah tertera dalam hadits sabda Rasulullah SAW yang menunjukan bahwa dzikir itu seutama-utamanya amal seluruhnya. Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Al-Hakim, dari Abu Darda’ yang di sambung sanadnya hingga Rasululah SAW, Beliau bersabda, yang artinya:

“Maukah kalian aku beritahukan kepadamu sebaik-baik amalmu, dan sesuci-sucinya di sisi Tuhan mu, yang paling meninggikan derajatmu dan lebih baik bagi kamu darupada menjumpai musuhmu, lalu kamu memenggal leher mereka dan mereka memenggal lehrmu? Mereka menjawab, tentu ya Rasulullah, Beliau Bersabda: yaitu Dzikrullah Ta’ala..” Hadits ini tidak bertentangan dengan hadits-hadits yang menjelaskan tentangkeutamaan jihad, bahwa jihad itu lebi utama daripada dzikir, karena sesungguhnya yang di maksud dengan dzikir yang lebih utama dari jihad itu ialah dzikir lidah dan hati disertai renungan tentang makna dzikir itu dan konsentrasi pikiran mengagungkan Allah. Dzikir semacam itu labih utma daripada jihad, sedangkan jihad yang lebih utama daripada dzikir itu ialah dzikir dengan lisan saja. Menurut Ibnu Arabi, “Tidak dalam suatu amal shaleh melainkan dzikir itu disyaratkan dalam menentukan sahnya amal shaleh itu. Oleh karena itu, barang siapa yang tidak berdzikir kepada Allah sewaktu mengeluarkan sedekah atau sewaktu pusanya, maka itu tidak akan menjadi amal yang sempurna. Oleh karena itu dzikir menjadi lebih utama daripada semua amal dilihat dari sei ini, Sabda Rasulullah yang artinya:
“Niat orang yang beriman itu lebih baik daripada amalnya.”
More aboutPengertian dan Macam-macam Dzikir | Dzikrulloh

Asal Usul Tradisi Halal Bi Halal atau Halal Bil Halal

Asal Usul Tradisi Halal Bi Halal~ Indonesia memang kaya akan budaya dan tradisi kemasyarakatan termasuk pergaulan sesama muslim pun demikian, dikenal dengan istilah yang seolah-olah berbahasa Arab yaitu "Halal bi Halal" atau "Halal bil Halal". Dalam syari'at Islam istilah di atas sama sekali tidak dikenal, dan entah darimana asalnya tradisi berkumpul dan saling memaafkan sesama muslim pasca lebaran tiba yang bahkan sampai ada upacara akbar peryaan halal bi halal. Itu adalah adat dan tradisi umat Islam di Indonesia.


Lantas, apakah salah dengan fenomena kebiasaan itu? Maka jawabannya menurut hemat penulis tergantung penilaian orang yang memandang. Bila upacara halal bi halal itu dianggap sebagai keharusan dan merupakan kewajiban maka itu termasuk kategori yang "dilarang", tetapi bila dianggap sebagai acara biasa dan tidak lain merupakan adat istiadat semata maka tidak ada salahnya bila hal itu kita lakukan.

Perlu juga diketahui apakah sebenarnya hakikat halal bi halal ini. Simak ulasannya di bawah ini:
Istilah halal bi halal ini sesungguhnya tidak terdapat di Al-Qur'an maupun Hadits Nabi Muhammad SAW yang shahih dan bahkan dalam bahasa Arab pun tidak ada.

Pada kamus Besar B. Indonesia yang diterbitkan oleh Balai Pustaka memang istilah ini ada. Pada keterangannya disebutkan :
Halal bihalal adalah acara maaf-memaafkan pada hari lebaran. Atas dasar ini, maksud halal bihalal sesuai dengan istilah bahasa Indonesia adalah untuk menciptakan suasana saling memaafkan antara satu dengan yang lain (Tim Penyusun Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia,1989 hal, 293).

Ada pula yang memaksakan pendapatnya bahwa halal bi halal ini dari bahasa Arab dengan landasan dalil dari Hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam Bukhori, yaitu :

مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لأَِخِيْهِ فِى عِرْضِهِ أَوْ شَيْئٍ فَلْيَتَحَلّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ (رواه البخارى
“Barangsiapa melakukan penganiayaan (kesalahan) terhadap orang lain, baik menyangkut kehormatan ataupun yang lain, maka hendaknya pada saat itu juga minta dihalalkan/dimaafkan”. (HR. Al-Bukhari)

Pada redaksi hadits di atas ada kata-kata "“fal yatahallalhu"”, yang artinya hendaknya minta dihalalkan atau dimaafkan. Kata-kata inilah yang diambil oleh ulama Indonesia tempo dulu dalam rangka menciptakan suatu momen istimewa di hari raya lebaran / idul fithri di mana antara satu orang dengan yang lain bisa saling memaafkan. Istilah saling halal menghalalkan ini kemudian didekatkan dengan kaidah bahasa Arab sehingga menjadi halal bi halal.



Dapat ditegaskan kembali di sini bahwa halal bi halal bukan asli istilah dari bahasa Arab, tetapi hanyalah merupakan kosakata Arab saja. Dalam syari'at Islam perintah untuk saling halal-menghalalkan atau maaf memaafkan antara satu dengan yang lain, tidak hanya terbatas pada saat lebaran atau dalam suasana idul fitri saja, tetapi berlaku sepanjang waktu, kapan saja, di mana saja bilamana telah melakukan kesalahan atau penganiayaan kepada orang lain. Imam al-Kahlani al-Shan’ani dalam kitabnya “Subul al-Salam” mengatakan bahwa berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari tersebut menunjukkan “wujub al-istihlal”, yakni kewajiban meminta maaf kepada orang yang didzalimi.

Demikian artikel singkat mengenai penjelasan tradisi halal bi halal di Indonesia. Semoga menjadi pencerahan buat kita semuanya khususnya kaum muslimin. Mari kita jelang tibanya idul fithri ini dengan memohon do'a kepada Allah SWT agar mendapat lailatul qodar: Allohumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni.
Dan akhirnya selamat hari raya iedul fithri 1434 H teriring do'a: Taqobbalallohu minna wa minkum.
Wallahu a’lam !
More aboutAsal Usul Tradisi Halal Bi Halal atau Halal Bil Halal

Hadits Keutamaan Shaum 6 Hari di Bulan Syawal

Hadits tentang keutamaan shaum enam hari di bulan syawal di bawah ini diriwayatkan oleh beberapa ahli hadits ternama. Namun ada juga perselisihan diantara para ulama mengenai kesahihan hadits keutamaan shaum syawwal ini. Apa dan mengapa itu terjadi? dari mana landasannya? berikut adalah sepintas bahasan mengenai derajat hadits keutamaan shaum 6 hari di bulan syawwal:

Redaksi Hadits keutamaan syaum enam hari di bulan syawal:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Siapa saja yang berpuasa Ramadhan kemudian melanjutkannya dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, ia seperti berpuasa sepanjang masa. (HR Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibn Majah, an-Nasa’i, Ahmad, ad-Darimi, al-Baihaqi dan Ibn Hibban)

Imam Muslim berkata, hadis ini dituturkan dari Yahya ibn Ayyub, Qutaibah ibn Sa’id dan Ali ibn Hujrin; semuanya dari Ismail. Ibn Ayyub juga berkata, hadis ini dituturkan dari Ismail ibn Ja’far, dari Saad ibn Said ibn Qays, dari Umar ibn Tsabit ibn al-Harits al-Khazraji, dari Abu Ayyub al-Anshari ra., dari Rasulullah saw.

Adapun Imam at-Tirmidzi meriwayatkan hadis tersebut dari Ahmad ibn Mani’, dari Abi Muawiyah, dari Saad ibn Said, dari Umar ibn Tsabit, dan dari Abu Ayyub al-Abshari. Imam Tirmidzi berkata, “Hadis Abu Ayyub ini hadis hasan sahih.”

Dalam sanad hadis di atas terdapat satu perawi yang diperselisihkan. Imam at-Tirmidzi berkata, “Sebagian ahli hadis mempermasalahkan Saad ibn Said dari sisi hapalannya.”

Al-Mubarakfuri1 berkomentar: Al-Hafizh Ibn Hajar berkata di dalam At-Taqrîb, “Saad ibn Said ibn Qays ibn Amru al-Anshari, saudaranya Yahya, adalah seorang yang jujur, namun hapalannya buruk, termasuk thabâqât keempat.”

Sekalipun demikian, Imam at-Tirmidzi mensahihkan hadis di atas. Al-Mubarakfuri menjelaskan, “Yang jelas, bahwa pensahihan beliau adalah karena banyaknya jalan periwayatan hadis tersebut. Sudah dijelaskan dalam Muqadimah (mukadimah Tuhfah al-Ahwâdzî, pen.) bahwa adakalanya Imam at-Tirmidzi mensahihkan hadis karena beragamnya jalan periwayatan. Apalagi Saad (dalam hadis di atas) tidak menyendiri (dalam meriwayatkannya), tetapi diikuti oleh Shafwan ibn Sulaim.”

Terdapat banyak riwayat lain yang semakna. Di antaranya riwayat yang dituturkan oleh Abu Hurairah, diriwayatkan oleh al-Bazar, ath-Thabrani dan Abu Nu’aim. Menurut al-Mubarakfuri, riwayat al-Bazar dan ath-Thabrani tersebut adalah hasan. Al-Mundziri sendiri mengatakan, salah satu jalur riwayat al-Bazar adalah sahih. Demikian juga riwayat yang dituturkan oleh Tsauban, mawla Rasulullah saw, diriwayatkan oleh Ibn Majah, an-Nasai, Ahmad, ad-Darimi, al-Bazar, Ibn Hibban dan Ibn Khuzaimah di dalam Shahîh-nya. Juga riwayat yang dituturkan oleh Bara’ ibn Azib yang diriwayatkan oleh ad-Daraquthni.2

Makna Hadits

Dari berbagai riwayat tersebut, dapat di istinbâth bahwa puasa enam hari pada bulan Syawal hukumnya adalah sunah. Ini pendapat Ibn al-Mubarak, Hasan Bashri, asy-Syafii, Ahmad dan mayoritas ulama. Pelaksanaannya, menurut mayoritas fukaha, bisa dilakukan sepanjang bulan Syawal baik di awal, tengah maupun akhir. Pelaksanaannya bisa berurutan ataupun terpisah-pisah.

Adapun Imam Malik dalam al-Muwatha’ dan Abu Hanifah berpendapat, puasa enam hari pada bulan Syawal itu hukumnya makruh. Alasannya, karena Imam Malik tidak mengetahui seorang pun dari ulama dan fukaha salaf yang menjalankannya dan karena khawatir orang awam akan mengaitkannya dengan Ramadhan; atau alasan Abu Hanifah dan Malik, karena bisa jadi orang akan menganggapnya wajib. Pendapat tersebut adalah keliru.3 Alasannya: Pertama, jelas ada pemisah dengan puasa Ramadhan, yaitu hari Idul Fitri. Kedua, tidak adanya orang yang menjalankannya tidak bisa dijadikan alasan untuk menolak as-Sunnah. Ketiga, karena sunnah puasa enam hari pada bulan Syawal itu dinyatakan di dalam as-Sunnah dengan sangat jelas.

Puasa Ramadhan diikuti enam hari pada bulan Syawal itu “seperti puasa sepanjang masa”—dalam riwayat lain dinyatakan “seperti berpuasa setahun penuh”—karena Allah Swt. berfirman:

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا
Siapa saja yang membawa amal yang baik, baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya (QS al-An‘am [6]: 160).
Dengan demikian, puasa Ramadhan sebanding dengan puasa sepuluh bulan, dan puasa enam hari sebanding dengan puasa enam puluh hari atau dua bulan sehingga genap dua belas bulan atau setahun penuh. Itu pula yang dijelaskan oleh riwayat Tsauban, mawla Rasulullah saw. Ia berkata, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

صِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بِشَهْرَيْنِ فَذَلِكَ صِيَامُ سَنَّةٍ
Puasa Ramadhan sebanding dengan puasa sepuluh bulan dan puasa enam hari sebanding dengan puasa dua bulan, dan itu sebanding dengan puasa setahun (HR an-Nasa’i)

Hadis yang semakna dengan redaksi sedikit berbeda diriwayatkan oleh Ahmad, Ibn Majah, ad-Darimi, Ibn Hibban dan al-Baihaqi. Jadi, puasa Ramadhan yang diikuti enam hari di bulan Syawal seperti puasa setahun penuh. Jika setiap tahun seseorang berpuasa demikian maka ia bagaikan berpuasa sepanjang masa.

Wallâh a‘lam wa ahkam.

Pustaka:
1 Al-Mubarakfuri, Tuhfah al-Ahwâdzî, III/388-390, Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut. tt.
2 Al-Mubarakfuri, Ibid; Al-Haytsami, Majma’ az-Zawâ’id, III/183-184, Dâr ar-Rayân li at-Turâts- Dâr al-Kitâb al-‘Arabi, Kaero-Beirut. 1407; Asy-Syaukani, Nayl al-Awthâr, IV/322, Dâr al-Jayl, Beirut. 1973. 3 Al-Mubarakfuri, Ibid; asy-Syaukani, Ibid; an-Nawawi, Syarh Shahîh Muslim, VIII/56, Dâr Ihyâ’ at-Turâts al-‘Arabi, Beirut, cet. II. 1392; Mahmud Abd al-Lathif ‘Uwaidhah, al-Jâmi’ li Ahkâm ash-Shiyâm, hlm. 146-147, Muassasah ar-Risalah, Beirut, cet. II. 2005.
More aboutHadits Keutamaan Shaum 6 Hari di Bulan Syawal

Kumpulan Kalimat Kata Mutiara Selamat Idul Fitri | Ucapan Lebaran 1434 H

Pada postingan arena sahabat kali ini, ditulis rangkaian kata kalimat ucapan hari raya idul fithri ungkapan kebahagiaan dan permohonan maaf kepada keluarga, sahabat, ataupun teman melalui berbagai media baik cetak maupun elektronik. Ungkapan selamat lebaran ini juga sering ditulis pada SMS, Status Facebook, Twitter ataupun yang lainnya.

Diantara tulisan di bawah ini ada ucapan lebaran bahasa gaul, lucu, humor, ucapan selamat lebaran bahasa Inggris dan umumnya berbentuk ungkapan selamat idulfitri dengan kata kalimat mutiara lebaran.

Pembaca dapat membaca dan merenungkan dan bahkan menuliskan kembali kata-kata ucapan selamat hari lebaran ini dengan bahasa anda sendiri. Selamat membaca:


Berharap padi dalam lesung, yang ada cuma rumpun jerami
harapan hati bertatap langsung, cuma terlayang e-mail / sms ini

sebelum cahaya surga padam
sebelum hidup berakhir
sebelum pintu tobat tertutup
sebelum Ramadhan datang
saya mohon maaf lahir dan bathin…

matahari berdzikir, angin bertasbih,
dan pepohonan memuhi keagungan-Mu
semua menyambut datangnya Seribu Bulan
selamat datang Ramadhan
selamat beribadah puasa
mohon maaf lahir dan bathin

tiada kemenangan tanpa zikrullah
tiada amal tanpa keikhlasan
tiada ampunan tanpa maaf dari sesama
marhaban ya ramadhan

tak ada kata seindah dzikir
tak ada bulan seindah Ramadhan
ijinkan kedua tangan bersimpuih
tuk memohon maaf atas semua kekhilafan
mohon maaf lahir batin
selamat menunaikan ibadah puasa

semua yang kulakukan adalah untuk kebahagiaanmu
segalanya adalah untukmu
hanya saja aku bukan lelaki yang sempurna
selalu saja ada kata dan kesalahan
yang mungkin bisa menyakiti hatimu
selamat berpuasa sayang, terimalah maafku

jika ramadhan ibarat sebuah lentera
aku ingin membuka takbirnya dengan maaf
agar sinarnya bisa menembus jendela fitri
dari setiap helai maaf yang ada
selamat menjalankan ibadah puasa
mohon maaf lahir bathin

tiada hari yang paling indah selain hari Ramadhan
jadikanlah diri kita pemenang hingga takbir berkumandang
sambut kemenang dengan hati yang bersih
Selamat Iedul Fithri taqobbalallohu minna wa minkum.

Mawar berseri dipagi Hari
Pancaran putihnya menyapa nurani
Sms dikirim pengganti diri
SELAMAT IDUL FITRI MOHON MAAF LAHIR BATHIN
Taqobbalallohu minna wa minkum

Faith makes all things possible.
Hope makes all things work.
Love makes all things beautiful.
May you have all of the three.
Happy Idul Fitri.: taqobbalallohu minna wa minkum

Walaupun operator sibuk n’ sms pending terus,
Kami sekeluarga tetap kekeuh ngucapin ungkapan kebahagiaan
Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir Dan batin Taqobbalallohu minna wa minkum

Jika HATI sejernih AIR, jangan biarkan IA keruh,
Jika HATI seputih AWAN, jangan biarkan dia mendung,
Jika HATI seindah BULAN, hiasi IA dengan IMAN.
Mohon Maaf lahir Dan batin

Seiring cahaya rahmat bulan Syawal,
Kuberi maafku setulus lahirmu dan kupinta maafmu sedalam batinku.
Selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1434 H
Mohon maaf lahir dan batin.Taqobbalallohu minna wa minkum

Senandung asma Alloh menghiasi malam menghampiri fajar menyambut hari kemenangan.
Jabat tangan penuh kasih, eratkan tali silaturrahim
Jiwa yang suci dari sang maha suci, tapi sering kali ternoda oleh dosa pada insane.
Sucikan jiwa dengan saling memaafkan

” Sepuluh jari tersusun rapi.. Bunga melati pengharum hati ..
SMS dikirim pengganti diri… Memohon maaf setulus hati …
Mohon Maaf Lahir dan Batin .. Met Idul Fitri … Taqobbalallohu minna wa minkum

Andai jemari tak smpt berjabat,andai raga tak dpt b’tatapseiring beduk yg mgema,
sruan takbir yg berkumandangkuhaturkan salam menyambut hari raya idul fitri,
jk ada kata serta khilafku membekas lara mhn maaf lahir batin.
SELAMAT IDUL FITRI

Beningkan hati dg dzikir
Cerahkan jiwa dg cinta
Lalui hr dg senyum
Tetapkan langkah dg syukur
Sucikan hati dg permohonan maaf
mEt hArI RaYa IduL fiTrI
TaqobbaLallaHu minNa wA MinKuM
Mhn MaaF LahiR n BaTiN

Masa aktif Hidup anda hampir berakhir, saldo dosa anda makin meningkat, di hari yang fitri ini raih kesempatan untuk meningkatkan saldo Iman. Isi ulang dengan sirahturahmi. SELAMAT IDUL FITRI, mohon maaf lahir & batin. Taqobbalallohu minna wa minkum

Satukan tangan,satukan hati
Itulah indahnya silaturahmi
Di Hari kemenangan Kita padukan
Keikhlasan untuk saling memaafkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri
Mohon Maaf Lahir Batin

Faith makes all things possible.
Hope makes all things work.
Love makes all things beautiful.
May you have all of the three.
Happy Iedul Fitri.”

Sebelas bulan Kita kejar dunia,
Kita umbar napsu angkara.
Sebulan penuh Kita gelar puasa,
Kita bakar segala dosa.
Sebelas bulan Kita sebar dengki Dan prasangka,
Sebulan penuh Kita tebar kasih sayang sesama.
Dua belas bulan Kita berinteraksi penuh salah Dan khilaf,
Di Hari suci nan fitri ini, Kita cuci hati, Kita buka pintu maaf.
Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir Dan batin

Jika HATI sejernih AIR, jangan biarkan IA keruh,
Jika HATI seputih AWAN, jangan biarkan dia mendung,
Jika HATI seindah BULAN, hiasi IA dengan IMAN.
Mohon Maaf lahir Dan batin

Orang Ganteng Orang Jelek.
Gue Ganteng Elo Jelek.
Lebaran dah Dateng
So Maafin Gw Jek
Mohon Maaf Lahir Bathin

beli es di warung bu rima
taruh di pring santap bersama
sms sudah saya terima
teriring pula maksud yang sama
mohon maaf lahir batin taqobbalallohu minna wa minkum

aura lebaran sudah terasa, mari intropeksi diri
sudahkah kita melakukan semua yang diperintahkan-Nya
dan juga meninggalkan larangan-Nya
selamat menyambut hari raya idul fitri
semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita yang lalu
dan yang akan datang
Amiin Ya Rabbal A’lamin

Seuntai kata sepenuh hati, maafkan khilaf
perteguh persaudaraan iman
Robbii.. eratkan hati kami untuk senantiasa taat kepadaMu
Met Ied.

Fitrah sejati adalah mengakbarkan Allah…
dan Syariat-Nya di alam jiwa..
di dunia nyata, dalam segala gerak..
di sepanjang nafas dan langkah..
semoga seperti itulah diri kita di hari kemenangan ini..
Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin

Mari jadikan DETIK ini sebagai titik balik untuk BERUBAH
walaupun salah itu pasti, tapi bagiku minta MAAF adalah PILIHAN
Taqobollahu minna wa minkum
Tolong dimaafin ya..

Hati bergetar kala mendengar kumandang takbir Akbar
Mengingatkan datangnya Hari Kemenangan
Minal Aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin

Waktu mengalir bagaikan air
Ramadhan suci akan berakir
Tuk salah yang pernah ada
Tuk khilaf yang sempat terucap
Pintu maaf selalu ku harap
Met Idul Fitri

Maaf aku tidak bisa berpuisi
Jadi langsung aja..
Intinya dengan tulus dan ikhlas
Aku mengucapkan Selamat Idul Fitri
Mohon maaf lahir dan batin
Atas segala kesalahan yang pernah diperbuat

Andai jemari tak sempat berjabat, andai raga tak sempat bertatap
Seiring beduk yang menggema dan seruan takbir yang berkumandang
Ku haturkan salam menyambut Hari Raya Idul Fitri
Jika ada kata serta khilafku membekas lara, mohon maaf lahir dan batin
Selamat Idul Fitri

Kesalahan hati dan khilaf diri,
terkadang hadir menyapa indahnya kebersamaan yang kita jalani
Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin

Ikan teri kesamber geledek, Idul Fitri is come back
Ada anak pelihara kate, maafin kita sekeluarga ye
Buah jambu disayur lodeh, kalo gak mau ee e eee cape dehhh

Walau hati gak sebening XL dan secerah MENTARI
Banyak khilaf yang membuat FREN kecewa
ku minta SIMPATImu untuk BEBASkan dari roaming dosa
dan kita angkat JEMPOL kepadaNya
yang selalu membuat kita HOKI dalam mencari kartu AS
selama kita hidup karena kita harus FLEKSIBEL
untuk terima pemberianNya dan menjalani MATRIX kehidupan ini
Semoga amal kita tidak ESIA-ESIA
Mohon maaf lahir dan batin

Walau langkah tak bertemu, tangan tak berjabat, dan ucap tak terdengar
Namun ijinkan hati memohon maaf yang setulus-tulusnya
Met idul fitri, mohon maaf lahir dan batin


Demikian kumpulan kata kalimat ucapan selamat hari raya lebaran, semoga dapat bermanfaat. Akhirnya arena sahabat ucapkan dengan setulus hati selamat hari raya lebaran 1434 H dan mohon maaf lahir batin atas kesalahan dan kealfaan juga kekeliruan dalam rangkaian blog arena sahabat ini.
More aboutKumpulan Kalimat Kata Mutiara Selamat Idul Fitri | Ucapan Lebaran 1434 H